Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan: Menghidupkan Amal di Akhir Zaman
Dalam literatur Islam, Banyaknya jalan-jalan kebaikan dikenal sebagai katsratuthuruqil khair, bahwa amal baik begitu luas jumlah dan bentuknya. Imam Ahmad Rifa’i bahkan menegaskan bahwa jalan menuju Allah sebanyak hela napas seluruh makhluk di dunia. Jumlahnya tak terhingga.
Dalam
literatur Islam, Banyaknya jalan-jalan kebaikan dikenal sebagai katsratuthuruqil
khair, bahwa amal baik begitu luas jumlah dan bentuknya. Imam Ahmad Rifa’i
bahkan menegaskan bahwa jalan menuju Allah sebanyak hela napas seluruh makhluk
di dunia. Jumlahnya tak terhingga.
Meski
demikian, para ulama merangkum amal saleh dalam tiga kelompok besar agar mudah
diamalkan: Pertama, amal yang terkait dengan badan. Contohnya, shalat, zikir,
membaca Al-Qur’an, mengaji, dan i‘tikaf. Semua ibadah ini tidak memerlukan
harta, hanya fisik dan waktu. Kedua, amal yang terkait dengan harta. Contohnya,
Zakat, sedekah, wakaf, hadiah, dan hibah. Namun, ada adab dalam penempatannya.
Hadiah untuk memuliakan, sedekah untuk membantu yang membutuhkan. Namun,
kadangkala masyarakat salah menyebut pemberian kepada ulama sebagai sedekah.
Ulama bukan fakir yang layak disantuni, tetapi guru yang selayaknya dimuliakan
dengan hadiah. Ketiga, amal yang menggabungkan badan dan harta. Contoh
terbesarnya adalah haji dan jihad. Keduanya butuh tenaga, juga biaya. Dalam
Al-Qur’an, ayat jihad hampir selalu diikuti perintah infak, menegaskan bahwa
kebaikan besar lahir dari pengorbanan total.
Keutamaan Amal di Akhir Zaman
Rasulullah
? pernah bersabda
kepada para sahabat bahwa pada masa mereka, amal lebih utama daripada ilmu. Sebab
jika salah, masih ada rujukan para sahabat untuk meluruskan.
Namun
beliau mengabarkan pula bahwa satu masa akan datang, iman dan ilmu menjadi
langka. Ulama semakin sedikit, namun para penceramah justru semakin banyak.
Pada masa itu, ilmu lebih utama daripada amal. Masa yang dikisahkan itu sangat
serupa dengan zaman sekarang ini.
Maka
menuntut ilmu menjadi amal yang paling ditekankan, setelah ibadah wajib. Imam Al-Ghazali
dalam Hidayatul Hidayah menjelaskan urutan prioritas amal: Pertama,
menyibukkan diri dengan dengan mencari ilmu. Kedua, Jika tidak mampu, sibukkan
diri dengan ibadah-ibadah sunah. Ketiga, Jika masih tidak mampu, bantulah orang
yang sedang menegakkan amal kebaikan. Misalnya menyediakan kitab untuk majelis,
membeli speaker untuk dakwah, atau sekadar memastikan masjid tetap bersih.
Tujuannya amal-amal tersebut hanya satu, jangan sampai menjadi sumber mudarat
bagi orang lain. Minimal sekali, mencegah diri dari menyakiti sesama sudah
termasuk amal besar.
Setiap Nafas Bisa Menjadi Sedekah
Rasulullah
? bersabda bahwa setiap pagi, manusia
memiliki kewajiban sedekah pada setiap persendian tubuhnya. Jalan sedekahnya
sangat banyak. Seperti halnya, tasbih adalah sedekah, tahmid adalah sedekah,
takbir adalah sedekah, tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf (mengajak pada
kebaikan) adalah sedekah dan nahi munkar (mencegah kesalahan) juga sedekah. Bahkan
menyingkirkan duri, paku, atau batu dari jalan saja sudah bernilai ibadah
besar. Di mata Allah, perhatian kecil yang mencegah mudarat adalah kemuliaan.
Perkataan
ini menjawab kegundahan para sahabat yang fakir. Mereka mengadu kepada
Rasulullah ?:
Wahai
Rasulullah, orang kaya tampaknya selalu selangkah lebih maju. Mereka salat
seperti kami, puasa seperti kami, tetapi mereka bisa bersedekah dengan harta
mereka, sementara kami tidak mampu.
Rasul
tersenyum menghadirkan kabar gembira: kebaikan bukan milik eksklusif orang
kaya. Semua mendapat kesempatan yang sama menuju surganya.
Zikir yang Menghidupkan Hati
Mengapa
banyak sekali bentuk zikir? Karena setiap jiwa memiliki pintu rasa yang
berbeda. Ada yang paling tersentuh saat mengucap istighfar. Ada yang merasa
dekat kepada Tuhan melalui shalat malam. Ada pula wali yang mengaku tidak tahu
apakah masih bisa merasakan kenikmatan salat di alam kubur nanti, karena begitu
dalam kenikmatan ibadah itu di dunia.
Karena
itulah Allah membuka beragam jalan ibadah. Zikir pun memiliki jenis dan fungsi
berbeda. Tasbih memutus buruk sangka kepada Allah. Tahmid menumbuhkan syukur.
Tahlil mengokohkan tauhid. Semuanya memiliki denyut spiritual tersendiri.
Ketika
orang berzikir, ia sedang mengorbankan waktu yang bisa saja digunakan bekerja
menghasilkan uang. Allah menggantinya dengan pahala sedekah sebagai balasan
keadilan.
Menjaga Kesucian Masjid
Dalam
hadis lain, Nabi ? menyaksikan amal baik
dan buruk manusia. Salah satu amal buruk yang diperlihatkan adalah membiarkan
najis di masjid. Masjid rumah Allah, bukan tempat najis bersarang. Setiap
tetesan kotoran, bau tidak sedap, dan lalai menjaga kebersihan akan menjadi
catatan buruk di hari kiamat.
Para
petugas kebersihan masjid memikul tanggung jawab besar: memastikan setiap sujud
jamaah diterima Allah, tidak terhalang karena najis atau kelalaian.
Penutup: Semua Orang Bisa Jadi Dermawan
Kedermawanan
bukan hanya milik mereka yang berharta. Islam merangkul seluruh keadaan
manusia. Seluruh ibadah, dari kepala sampai kaki, bisa menjadi bentuk
kedermawanan apabila diniatkan untuk Allah. Seperti halnya, senyum kepada
saudara, menyingkirkan bahaya dari jalan, menahan diri dari menyakiti orang
lain, menyebarkan ilmu, menjaga kebersihan masjid, shalat dhuha dua rakaat, tasbih
sekali ucap. Setiap detik hidup menyediakan peluang menjadi orang baik. Betapa
indah agama ini. Betapa luas rahmat Allah bagi hamba-Nya.
Semoga
kita menjadi bagian dari mereka yang pandai melihat peluang kebaikan, sekecil
apa pun bentuknya. Semoga langkah kita menuju akhirat selalu bercahaya dengan
amal saleh.
Amin.
