Menyelami Makna Rezeki: Antara Tawakal dan Ikhtiar
Disampaikan dalam Kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada hari Rabu, 29 Oktober 2025 oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc, MA.
Rezeki adalah
salah satu konsep penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang berusaha
menggapainya, baik melalui kerja keras maupun doa yang dipanjatkan kepada Sang
Pemberi Rezeki. Namun, tidak jarang pemahaman tentang rezeki hanya terbatas
pada ukuran materi dan kemewahan dunia. Padahal, rezeki memiliki makna yang
jauh lebih luas, mencakup kesehatan, ketenangan hati, ilmu yang bermanfaat,
hingga kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Kisah Umar bin Khattab dan Pelajaran
dari Seorang Pencari Ilmu
Ada
sebuah kisah menarik pada masa Umar bin Khattab RA. Diceritakan, saat itu
seseorang yang belajar Al-Qur’an kepada Umar, namun kemudian menghilang. Ketika
dicari, rupanya ia menemukan sebuah ayat:
“Dan
di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (Surat
Az-Zariyat: 22)
Ia
berkata, “Jika rezekiku ternyata ada di langit, mengapa aku harus mencarinya di
bumi?” Ucapan polos itu membuat Umar menangis, sebuah isyarat bahwa pemahaman
terhadap ayat harus disertai hikmah, bukan sekadar teks.
Dari
sini ditegaskan, ada dua tipe pencari ilmu: Pertama, Yang
diterima Allah, semakin dekat kepada-Nya, semakin rendah hati dan yakin pada
jaminan-Nya. Kedua, Yang tertolak, belajar agama tetapi justru
bergantung kepada manusia, semakin tamak, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai alat
kesombongan.
Al-Qur’an
akan memuliakan orang yang iman dan yakin, tetapi menghinakan orang yang
menjadikannya alat dunia.
Kisah Asmai dan Orang Badui:
Keyakinan yang Menggetarkan
Asmai,
seorang ulama bahasa Arab pada abad ke-2 Hijriah, pernah membacakan ayat yang
sama kepada seorang Arab dusun:
“Wafissam?’i
rizqukum wam? t?'ad?n” yang
artinya Di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
Seketika
orang itu membuang seluruh peralatannya, yakin sepenuhnya bahwa Allah tidak
mungkin berdusta. Keyakinannya begitu kuat, hingga beberapa waktu kemudian ia
wafat setelah mendengar lanjutan ayat yang menegaskan Allah bersumpah atas
kebenaran janji-Nya:
“Maka
demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya itu benar-benar (rezeki yang
dijanjikan), seperti halnya kamu dapat berbicara.” (Surat
Az-Zariyat: 23)
Allah bersumpah dengan diri-Nya
sendiri. Lalu apa yang kita ragukan?
Langit Sumber Rezeki, Bumi Sarana
Usaha
Para
ulama menjelaskan, yang dimaksud rezeki dari langit adalah hujan, sumber
tumbuhnya pangan, kehidupan, dan keberlangsungan makhluk. Allah menunjukkan
hubungan antara langit, bumi dan manusia sebagai berikut:
·
Langit - ketentuan dan sumber rezeki
·
Bumi - sarana usaha dan sebab-sebabnya
·
Manusia - makhluk yang menjalankan ikhtiar dan bertawakal
Allah sudah menetapkan rezeki. Tetapi ikhtiar adalah perintah, bukan pilihan.
Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha
Syekh
Mutawalli Asy-Sya’rawi memberi perumpamaan menarik: “Jika benar-benar tawakal,
ketika makanan datang ke mulutmu, jangan kunyah. Sebab mengunyah saja adalah
bentuk ikhtiar!”
Tubuh harus bergerak, hati harus bertawakal.
Jangan sampai berpura-pura tawakal, padahal sedang membebani orang lain, itulah
taw?kul yang tercela.
Allah Mengatur Rezeki Semua Makhluk
Banyak kisah ulama yang menyaksikan tanda-tanda pengaturan Allah: Seperti cerita seorang alim yang melihat kucing sehat bolak-balik membawa makanan untuk kucing buta di atas tembok. Ia menangis dan berkata: “Jika kucing yang bisu saja Allah beri jalan rezekinya, bagaimana mungkin aku takut Allah menelantarkanku?”. Keyakinan seperti ini yang ingin ditanamkan: Allah tidak pernah lupa pada satu pun makhluk-Nya.
Tingkatan Tawakal
Syekh
Abu Ali Ad-Daqqaq menjelaskan tiga tingkatan: Tingkat pertama, Tawakal,
yakin pada janji Allah, namun masih mempertimbangkan sebab-sebab lahiriah. Tingkat
kedua, Taslim, menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah tanpa
perhitungan dunia. Tingkat ketiga, Tafwidh, ridha pada apa pun
ketetapan Allah, meski jauh dari dugaan dan harapan
Puncak
tawakal dicontohkan Nabi Musa AS saat terdesak di depan lautan—tanpa sebab
lahiriah pun ia tetap yakin: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku
bersamaku, Dia pasti akan menunjuki aku.” (Surat Asy-Syu’ara: 62). Itulah
kepasrahan tertinggi yang justru melahirkan keajaiban.
Penutup: Bergerak di Bumi,
Bergantung Pada Langit
Rezeki
sudah dijamin Allah. Tetapi jalan menuju rezeki tetap harus dilalui antara lain
: bergeraklah di bumi, jangan memutus harapan ke langit, ikhtiar adalah
perintah, tawakal adalah penyempurna.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bertawakal dengan hati teguh, namun bekerja dengan tangan yang kuat. Amin ya Rabbal Alamin.
