Detail Artikel

Menjaga Cahaya Iman Hingga Akhir Hayat

Dirangkum dari Kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan oleh KH. Abdul Aziz Ahmad

Umum

Dalam hidup seorang muslim, ada tiga nikmat terbesar yang senantiasa dipanjatkan syukur: nikmat sehat, nikmat iman, dan nikmat Islam. Tiga pilar ini menguatkan setiap langkah manusia menuju akhir kehidupan yang terbaik, yaitu wafat dengan ucapan “la ilaha illallah” di bibir, dan iman di dalam dada. Itulah doa tertinggi setiap hamba: kematian dalam keadaan menetapi iman.

Allah SWT telah memberi peringatan keras kepada hamba-Nya melalui firman-Nya: “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”

Ayat ini memuat dua tugas besar yang harus dijaga: ketakwaan dan keistiqamahan.

Tingkat-Tingkat Takwa

Takwa bukan satu warna. Ia seperti pelangi yang terdiri dari banyak tingkat: Ada takwa yang naik turun, dimiliki orang kebanyakan. Ada takwa yang stabil dan kuat, dimiliki orang-orang shaleh dan ada takwa yang agung, dimiliki para ulama yang hidupnya penuh ilmu. Mereka yang paling mulia di sisi Allah bukan dilihat dari hartanya, rupanya, atau jabatannya, melainkan seberapa tinggi takwanya.

Ilmu menjadi pijakan utama takwa. Seseorang yang beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan dalam gelap. Ia tak memahami arah, sehingga mudah tersesat. Ilmu bagaikan cahaya yang menerangi jalan menuju Allah. Ketika maksiat dilakukan, cahaya itu tertutup kotoran dosa, sehingga hati kehilangan panduan.

Ulama adalah contoh hidup bagaimana ilmu melahirkan takwa. Rasa takut mereka kepada Allah membawa kewibawaan yang terpancar luas, bahkan mampu membuat makhluk lain tunduk. Kisah Imam Malik ketika tetap tenang menghadapi seekor ular atau Sayyidina Umar yang berwibawa hingga binatang buas pun menghindar, menjadi gambaran bahwa takwa menghadirkan perlindungan Ilahi.

Menghormati Ulama: Menjaga Keberkahan Ilmu

Tradisi mencium tangan guru atau kiai sering kali dipandang berlebihan oleh sebagian orang. Namun para ulama menjelaskan, tindakan itu bukan bentuk pengultusan, melainkan tanda hormat pada ilmu dan penyampainya. Barakah ilmu mengalir melalui adab.

Dalam sejarah Islam, para sahabat bahkan berebut untuk bisa menyentuh tubuh Rasulullah SAW. Kulit yang bersentuhan dengan kulit Rasul diyakini mendapatkan perlindungan dari neraka. Hingga kini, tradisi itu diteruskan dalam bentuk penghormatan kepada mereka yang menjadi pewaris ilmu Rasulullah. Adab adalah gerbang ilmu. Ilmu adalah pintu takwa. Takwa adalah jalan menuju Allah.

Zikir sebagai Penjaga Iman

Agar iman tak lepas dari genggaman, zikir menjadi pengikat yang paling kuat. Rasulullah SAW berpesan kepada sahabat Muadz bin Jabal: “Jika engkau meninggal, pastikan lisanmu basah dengan zikir kepada Allah.”

Umar bin Abdul Aziz pun menjelang ajal berkata bahwa ia ingin wafat dalam keadaan berdzikir. Begitulah ciri orang yang menjaga imannya hingga detik terakhir.

Adapun kalimat-kalimat pendek yang menenangkan, tetapi sangat berat di timbangan amal. Seperti halnya bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah
Allahu Akbar