Dua Jalan Kebaikan dan Dua Jurang Kejatuhan
Dirangkum dari Kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan oleh KH. Azizi Falaqi
Sebuah mutiara hikmah hadir dari
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat mulia nan cerdas. Nasihatnya
menggetarkan, sebab menyentuh dua aspek penting kehidupan: kebaikan yang
mengangkat derajat, dan kesalahan yang menjerumuskan manusia tanpa disadari. Sayyidina
Ali menyebut ada dua keadaan yang menandai seseorang masih memiliki kebaikan
besar dalam dirinya:
1.
Orang
yang Terjatuh dalam Dosa, Namun Segera Sadar dan Bertaubat
Semua
manusia pernah salah. Yang membedakan ialah respon setelahnya.
Ada yang menganggap kesalahannya kecil, lalu menunda taubat. Ada yang justru
tergerak oleh rasa bersalah, lantas buru-buru mengetuk pintu ampunan. Dosa
kecil yang diremehkan dapat menumpuk seperti debu yang menghalangi cahaya
lampu. Begitu pula hati, bila tertutup dosa yang tidak segera diistighfari,
akan melemah dalam ibadah. Salat terasa berat. Zikir seperti beban. Langkah ke
majelis ilmu terasa menapak di lumpur.
Allah siap mengampuni dosa kecil maupun besar, selama hati
tidak menyerah untuk kembali. Karena yang lebih buruk dari dosa adalah berhenti
berharap pada rahmat-Nya
2.
Orang
yang bersegera dalam Amal Sholeh
Ada pula kebaikan yang tampak sepele, namun dilakoni dalam
semangat tinggi.
Para sesepuh yang berjalan tertatih dengan tongkat, tetap berusaha berjamaah ke
masjid, menjadi contoh teladan. Mereka seolah berpesan: “Selama nyawa masih
bersemayam di tubuh, selagi napas menghitung waktu, jangan kalah oleh malas.” Kadang
manusia terbalik. Untuk urusan dunia, berlari. Untuk urusan akhirat, berjalan
pelan bahkan menunda-nunda. Padahal setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas,
meski hanya segelas air, bisa lebih besar nilainya dibanding amal agung tanpa
ketakwaan.
Sementara itu ada pula dua Perkara yang Merusak yakni, mengikuti
nafsu dan panjang angan-angan duniawi. Sayyidina Ali juga memberi peringatan
keras tentang dua racun batin:
1.
Mengikuti
Hawa Nafsu
Nafsu dapat menutup mata manusia dari kebenaran. Seseorang
bisa mempertahankan kesalahan hanya demi kepentingan dirinya sendiri atau
kelompoknya. Dalam posisi menjadi saksi pun, ia rela memutarbalikkan fakta demi
melindungi ego. Hawa nafsu menyeret manusia menjauh dari cahaya yang seharusnya
menuntunnya.
2.
Panjang
Angan-Angan
Terjebak dalam mimpi dunia yang panjang membuat seseorang
lupa bahwa umur terus berkurang. Sayyidina Ali mengingatkan: “Dunia berjalan
menjauh, akhirat berjalan mendekat.” Hari-hari bergulir seperti lembar kalender
yang tak kembali.
Satu malam yang lewat tanpa manfaat adalah rugi murni. Namun manusia sering
hidup seakan esok pasti datang. Padahal setiap detik hakikatnya adalah undangan
menuju perjumpaan dengan Allah.
Hari
Ini Menjadi Saksi
Rasulullah SAW mengabarkan bahwa setiap hari yang berlalu akan berkata: “Aku makhluk baru dan akan menjadi saksi atas amalmu. Aku tidak akan kembali untuk kedua kalinya.” Maka hari ini adalah kesempatan terbaik. Bukan besok. Bukan nanti. Karena nanti kadang terlahir menjadi “tidak pernah terjadi”.
