Kasih Sayang Allah dan Ujian Keikhlasan Manusia
Ada satu hal yang sering luput dari kesadaran manusia: betapa luas kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ?. Bahkan, ketika seorang hamba melakukan dosa dan maksiat, Allah tidak serta-merta menutup pintu rezeki atau mencabut kesehatannya. Sebagai contoh, ada orang yang jarang ke masjid, bahkan gemar bermaksiat, tapi hidupnya tampak berkecukupan, bahkan bertambah kaya. Itu bukan karena Allah ridha pada dosanya, tetapi karena kasih sayang-Nya yang masih memberi kesempatan untuk bertaubat.
Ada
satu hal yang sering luput dari kesadaran manusia: betapa luas kasih sayang
Allah kepada umat Nabi Muhammad ?. Bahkan, ketika
seorang hamba melakukan dosa dan maksiat, Allah tidak serta-merta menutup pintu
rezeki atau mencabut kesehatannya. Sebagai contoh, ada orang yang jarang ke
masjid, bahkan gemar bermaksiat, tapi hidupnya tampak berkecukupan, bahkan
bertambah kaya. Itu bukan karena Allah ridha pada dosanya, tetapi karena kasih
sayang-Nya yang masih memberi kesempatan untuk bertaubat.
Kasih
sayang inilah yang menjadi bukti bahwa umat Nabi Muhammad ? adalah umat yang paling istimewa. Tidak seperti umat-umat
terdahulu yang langsung mendapat azab ketika melanggar, umat ini diberi waktu
serta ruang untuk menyesali dan memperbaiki diri. Namun, kemurahan ini bukan
tanpa batas. Berhati-hatilah, karena ketika ajal datang sebelum taubat, semua
penyesalan menjadi sia-sia.
Rezeki dan Kesehatan: Nikmat yang Harus Disyukuri dengan
Amal
Nikmat
Allah datang dalam banyak bentuk seperti rezeki, kesehatan dan umur panjang.
Tapi seberapa sering manusia menyadari bahwa semua itu bukanlah tanda kemuliaan
semata, melainkan juga ujian. Syukur yang sejati bukan hanya ucapan
“alhamdulillah”, tetapi diwujudkan melalui ibadah, ketaatan, dan amal saleh.
Banyak
yang sehat, rajin olahraga, tapi jarang ke masjid. Umurnya panjang, badannya
kuat, tapi tak digunakan untuk beribadah. Padahal setiap detik kehidupan adalah
amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Nikmat tanpa syukur hanya akan
menjadi beban di akhirat.
Welas Asih Allah dalam Penundaan Hukuman
Penundaan
hukuman bagi orang-orang yang berbuat maksiat merupakan bentuk kasih sayang
Allah yang sering disalahpahami. Kalau manusia berbuat dosa lalu langsung
disiksa, maka siapa yang bisa bertahan?”. Allah menunda hukuman bukan karena
lalai, tetapi karena memberi kesempatan bagi manusia untuk kembali. Itulah
rahmat Allah, bukan pembiaran.
Dicontohkan,
betapa ironisnya manusia: ada yang berbuat korupsi, tapi hasilnya digunakan
untuk umrah. Sebuah paradoks yang menggambarkan betapa kompleksnya sifat
manusia; berdosa, namun tetap ingin dekat dengan TuhanNamun, itu tetap bukti
kasih Allah, karena Dia masih membukakan jalan untuk bertaubat, sebelum
semuanya terlambat.
Empat Amal Sulit Menurut Sayyidina Ali
Sayyidina
Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang empat amalan yang paling sulit, tapi
paling besar pahalanya.
- Memaafkan saat marah (Al-‘Afwu
‘Indal Ghodhob).
Saat amarah membara, memaafkan adalah jihad batin yang luar
biasa. Sebab, ketika orang sedang marah, itulah saat setan berkuasa. Namun, kalau
di saat itu kita bisa memaafkan, pahalanya tak terhingga.
- Bermurah hati di saat fakir
(Al-Jûdu fil ‘Usr).
Memberi dalam kelapangan itu mudah. Tapi memberi ketika
kekurangan, itulah kemuliaan yang sejati. Tindakan itu menunjukkan bahwa hati
lebih kaya daripada harta.
- Menjaga diri dalam kesepian
(Al-‘Iffatu fil Khalwah).
Saat tak ada yang melihat, ketika kesempatan berbuat dosa
terbuka, di situlah kualitas iman diuji. Contohnya, penyalahgunaan jabatan dan
korupsi, semua berawal dari lemahnya kontrol diri ketika merasa “tak ada yang
tahu”.
- Berkata benar di hadapan
penguasa zalim (Qaulul Haqq ‘Inda Sultanin Jâ’ir).
Inilah amalan yang paling berat. Sejarah membuktikan, banyak ulama yang dipenjara atau disiksa karena menyuarakan kebenaran. Tapi di situlah nilai keikhlasan diuji: berani mengatakan yang benar, walau berisiko kehilangan segalanya.
Teladan Pemaaf dari Ulama Besar
Dikisahkan,
Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, seorang ulama besar yang difitnah dan dihina
di media oleh orang yang berbeda paham dengannya. Bukannya marah atau membalas,
Abuya justru mengirim hadiah kepada orang yang mencacinya. Tidak hanya
memaafkan, tapi malah membalas kebencian dengan kasih.
Esensi dari seluruh pesan ini sederhana namun dalam: kasih sayang Allah selalu ada, tetapi tugas manusia adalah menyadarinya, mensyukurinya, dan membalasnya dengan amal nyata. Berbuat baik, memaafkan, menjaga diri dari dosa, dan berkata benar meski berat, itulah wujud syukur yang sejati.
