Detail Berita

Bergembira Menyambut Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiah oleh Abuya Hasan Nur. Dalam kajiannya, Abuya Hasan mengajak jamaah untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus meneladani Rasulullah Muhammad SAW, khususnya dalam momentum bulan Maulid atau Rabiul Awal, Kamis (20/08/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiah oleh Abuya Hasan Nur. Dalam kajiannya, Abuya Hasan mengajak jamaah untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus meneladani Rasulullah Muhammad SAW, khususnya dalam momentum bulan Maulid atau Rabiul Awal, Kamis (20/08/2026).

Mengawali tausiah, Abuya Hasan mengingatkan jamaah bahwa kesempatan untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang patut disyukuri. Ia juga mendoakan seluruh jamaah agar senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, serta kemudahan dalam menjalankan ibadah dan dikabulkan segala hajatnya.

Menurut Abuya Hasan, Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah, atau teladan terbaik bagi umat manusia. Karena itu, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengikuti ajaran dan keteladanan beliau.

Memasuki bulan Rabiul Awal, Abuya Hasan mengajak umat Islam untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan penuh kegembiraan. Menurutnya, kelahiran Rasulullah merupakan peristiwa agung karena Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan dan teladan terbaik bagi seluruh umat.

Ia menilai kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk kegiatan positif, seperti membaca selawat, bersedekah, mengadakan pengajian, serta menghadiri majelis-majelis Maulid.

Abuya Hasan juga menggambarkan besarnya antusiasme umat Islam di berbagai daerah dalam memperingati Maulid Nabi. Tradisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sekaligus sarana untuk menghidupkan syiar Islam.

Dalam tausianya, Abuya Hasan menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya tidak berhenti sebagai perasaan atau ucapan. Kecintaan tersebut perlu dibuktikan melalui tindakan nyata.

“Kalau kita mengaku senang kepada Kanjeng Nabi, harus ada pembuktiannya,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Ia mencontohkan kehadiran jamaah dalam majelis Maulid sebagai salah satu bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah SAW. Selain itu, umat juga dapat menunjukkan kecintaannya dengan bersedekah, berbagi makanan, membaca selawat, mengundang tetangga, dan menghidupkan majelis ilmu.

Menurut Abuya Hasan, kegiatan seperti itu tidak hanya menjadi sarana untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan menghidupkan suasana keislaman di tengah masyarakat.

Lebih jauh, Abuya Hasan mengingatkan jamaah agar momentum Maulid tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW seharusnya mendorong umat untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Ia mengajak jamaah menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam menjalani kehidupan, karena Nabi Muhammad SAW merupakan sosok manusia yang memiliki kedudukan mulia dan menjadi teladan bagi umat manusia.

“Siapa saja yang memuliakan Nabi Muhammad, pasti akan dimuliakan oleh Allah,” pesan Abuya Hasan dalam kajiannya.

Di akhir tausiah, Abuya Hasan kembali mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Maulid sebagai momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperbanyak selawat, memperbanyak sedekah, serta meningkatkan amal ibadah.

Ia berharap kegembiraan menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat diwujudkan dalam amal nyata yang memberikan manfaat bagi sesama dan mendatangkan keberkahan.

Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa dan selawat, dengan harapan seluruh jamaah senantiasa mendapatkan rahmat, keberkahan, serta syafaat Rasulullah SAW di dunia dan akhirat.