Meneladani Kedermawanan Rasulullah
Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan penting tentang pentingnya membangun sikap dermawan dan gemar bersedekah dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Alawi dalam kajian rutin setelah salat Subuh, Kamis, (10/9/2026).
Jamaah
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan penting tentang pentingnya
membangun sikap dermawan dan gemar bersedekah dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Alawi dalam kajian rutin setelah salat
Subuh, Kamis, (10/9/2026).
Dalam
kajiannya, Ustadz Ahmad Alawi menjelaskan bahwa sedekah tidak selalu harus
berupa harta. Senyuman yang diberikan kepada sesama juga dapat menjadi bagian
dari sedekah apabila dilakukan dengan ketulusan.
Ia
mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan kebaikan-kebaikan sederhana, termasuk
ketika bertemu dan berinteraksi dengan saudara, tetangga, maupun orang lain.
“Senyum
kepada saudara itu bagian dari sedekah. Sedekah tidak selalu dengan harta,
tetapi senyuman juga bernilai sedekah,” jelasnya.
Menurut
Ustadz Ahmad Alawi, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk gemar menginfakkan
sebagian hartanya. Ia kemudian menyampaikan hadis tentang dua malaikat yang
turun pada pagi hari untuk mendoakan manusia.
Salah
satu malaikat berdoa agar Allah memberikan ganti kepada orang-orang yang
menginfakkan hartanya. Sementara malaikat lainnya berdoa agar orang-orang yang
menahan hartanya mendapatkan kerugian.
Doa
tersebut menjadi pengingat bahwa harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak
semestinya dipandang sebagai sebuah kehilangan. Sebaliknya, sedekah merupakan
bentuk ketaatan sekaligus jalan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Ahmad Alawi juga mengajak jamaah untuk meneladani
akhlak Rasulullah Muhammad SAW, khususnya dalam hal kedermawanan.
Ia
mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan
dan tidak mudah menolak permintaan orang yang membutuhkan.
Salah
satu kisah yang disampaikan berkaitan dengan sahabat Anas bin Malik, yang
dikenal sebagai salah satu sahabat yang pernah melayani Rasulullah SAW.
Menurut
Ustadz Ahmad Alawi, Rasulullah SAW memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa
menunjukkan kekhawatiran akan menjadi kekurangan. Kedermawanan Rasulullah
bahkan menjadi salah satu sebab yang membuat orang-orang tertarik melihat
keindahan akhlak beliau.
Ia
juga mengutip kisah tentang pemberian Rasulullah SAW dalam jumlah yang sangat
besar kepada masyarakat. Pemberian tersebut dibagikan hingga habis kepada
orang-orang yang membutuhkan.
“Kanjeng
Nabi sangat dermawan. Beliau memberikan pemberian seperti orang yang tidak
khawatir menjadi fakir,” tuturnya.
Kedermawanan
Rasulullah SAW, lanjutnya, bukan sekadar persoalan memberikan harta, tetapi
merupakan bagian dari akhlak mulia yang perlu ditanamkan dalam kehidupan umat
Islam.
Selain
berbicara mengenai sedekah dan kedermawanan, Ustadz Ahmad Alawi juga
mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam berbicara.
Menurutnya,
meneladani Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan melalui ibadah dan sedekah,
tetapi juga melalui cara seseorang menjaga perkataan.
Jamaah
diminta tidak menggunakan lisan untuk menyakiti orang lain, membicarakan
keburukan orang, mengadu domba, atau mengucapkan sesuatu yang dapat mengarah
kepada kemaksiatan.
“Kalau
ingin meniru Rasulullah SAW, hati-hati ketika berbicara. Jangan sampai ucapan
kita justru menyakiti orang lain atau digunakan untuk menggunjing dan mengadu
domba,” pesannya.
Ia
menekankan bahwa iman kepada Allah SWT dan hari akhir seharusnya mendorong
seseorang untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama.
Di
akhir kajiannya, Ustadz Ahmad Alawi mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah Muhammad
SAW merupakan panutan utama bagi umat Islam.
Ia
mengajak jamaah untuk meneladani berbagai akhlak Rasulullah, di antaranya dermawan,
mudah memaafkan, menjaga lisan, serta memperlakukan sesama dengan penuh
kebaikan.
Pesan
tersebut sejalan dengan kandungan QS. Al-Ahzab ayat 21, yang menjelaskan bahwa
dalam diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang
berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.
“Tidak ada panutan yang lebih utama
untuk kita contoh dan kita teladani selain Baginda Nabi Muhammad SAW,”
tegasnya.
Kajian
Subuh tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa menjadi pribadi yang dekat
dengan Allah tidak hanya ditunjukkan melalui hubungan vertikal dalam bentuk
ibadah, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan akhlak terhadap sesama.
Sedekah, bahkan dalam bentuk senyuman, menjaga lisan, memaafkan, dan berbagi kepada yang membutuhkan merupakan bagian dari upaya menghadirkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
