Detail Berita

Niat dalam Beribadah

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Agus Sholahuddin, M.HI. Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah untuk memahami pentingnya niat dalam setiap amal sekaligus memastikan bahwa ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat, Jum’at (18/9/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Agus Sholahuddin, M.HI. Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah untuk memahami pentingnya niat dalam setiap amal sekaligus memastikan bahwa ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat, Jum’at (18/9/2026).

Mengangkat pembahasan dari Risalatul Mu'awanah karya Habib Abdullah Al-Haddad, Ustadz Agus menjelaskan bahwa amal ibadah pada hakikatnya merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT atau disebut taqarrub. Karena itu, setiap ibadah harus memiliki dasar dan mengikuti tuntunan yang telah disyariatkan Allah SWT melalui Rasulullah SAW.

Ustadz Agus menegaskan bahwa dalam persoalan ibadah, niat baik saja tidak cukup. Bentuk dan tata cara ibadah juga harus sesuai dengan syariat.

Ia memberikan contoh bahwa seseorang tidak boleh sengaja memperpanjang puasa melewati waktu berbuka hanya karena ingin mendapatkan pahala lebih banyak. Demikian pula seseorang tidak dapat menambah jumlah rakaat salat Subuh dengan alasan ingin memperoleh tambahan pahala.

Menurutnya, ibadah memiliki ketentuan yang telah ditetapkan. Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak membuat bentuk ibadah berdasarkan keinginan pribadi tanpa tuntunan yang jelas.

Di sisi lain, Ustadz Agus menjelaskan bahwa niat yang baik dapat membuat aktivitas yang pada dasarnya mubah menjadi bernilai ibadah.

Salah satu contohnya adalah makan. Makan merupakan aktivitas yang diperbolehkan. Namun, apabila seseorang makan dengan niat agar memiliki kekuatan untuk melaksanakan salat dan ibadah lainnya, aktivitas tersebut dapat menjadi sarana memperoleh pahala.

Hal serupa dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah aktivitas dilakukan sebagai sarana untuk mendukung ketaatan kepada Allah SWT, maka aktivitas tersebut dapat memiliki nilai ibadah.

Ustadz Agus juga menjelaskan konsep wasilah atau sarana. Misalnya, seseorang menggunakan sepeda motor untuk menuju masjid dan melaksanakan salat berjamaah. Kendaraan tersebut merupakan sarana menuju tujuan utama, yaitu ibadah.

Namun, Ustadz Agus mengingatkan bahwa niat baik tidak dapat digunakan untuk mengubah perbuatan yang dilarang menjadi sebuah kebaikan.

Dalam kajiannya, ia juga menyinggung fenomena ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Di era media sosial, keterlibatan dalam pembicaraan semacam itu tidak hanya berupa ucapan, tetapi dapat pula terjadi melalui tindakan seperti memberikan tanda suka atau ikut menyebarkan konten yang berisi pembicaraan buruk tentang seseorang.

Karena itu, jamaah diajak untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan tidak menjadi bagian dari penyebaran keburukan.

Bagian penting lainnya yang disampaikan adalah mengenai amar ma'ruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ustadz Agus menjelaskan bahwa menyampaikan kebaikan terkadang tidak mudah. Orang yang memberikan nasihat atau mengingatkan terhadap suatu kemungkaran dapat menghadapi kritik maupun respons negatif.

Namun, menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari tugas tabligh, yaitu menyampaikan pesan kebaikan. Ia mengaitkannya dengan tugas para ulama dan kiai untuk menyampaikan ilmu kepada masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika kemungkaran terjadi secara luas dan orang-orang yang mengetahui justru memilih diam, kondisi tersebut dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat. Karena itu, diperlukan kepedulian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kajian Subuh bersama Ustadz Agus Sholahuddin, M.HI. memberikan pesan penting kepada jamaah bahwa amal yang baik harus dibangun dengan niat yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar.

Ibadah yang telah memiliki ketentuan harus dilaksanakan sesuai tuntunan syariat. Sementara aktivitas sehari-hari yang bersifat mubah dapat diarahkan menjadi bernilai ibadah melalui niat yang baik.

Selain menjaga niat pribadi, umat Islam juga diajak untuk memiliki kepedulian sosial dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dan cara yang tepat.

Semoga kajian tersebut menjadi bekal bagi jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro untuk terus memperbaiki niat, meningkatkan kualitas amal, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.