Meneladani Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari
Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian Subuh yang disampaikan oleh Kyai Kholidin. Kajian tersebut membahas hadis-hadis dalam Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dengan penekanan pada pentingnya meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam berbagai kebiasaan sehari-hari, Rabu (16/9/2026).
Jamaah
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian Subuh yang disampaikan oleh
Kyai Kholidin. Kajian tersebut membahas hadis-hadis dalam Al-Adzkar
karya Imam An-Nawawi, dengan penekanan pada pentingnya meneladani Rasulullah
Muhammad SAW dalam berbagai kebiasaan sehari-hari, Rabu (16/9/2026).
Kyai
Kholidin mengawali kajian dengan pembacaan dan penjelasan hadis yang
diriwayatkan dari Ummu Khalid radhiyallahu 'anha tentang Rasulullah SAW yang
memberikan pakaian kepada Ummu Khalid. Dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW
mendoakan agar pakaian yang diberikan dapat digunakan dalam waktu yang lama.
Menurut
Kyai Kholidin, kisah tersebut menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW memberikan
perhatian terhadap perkara yang tampak sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika
memberikan pakaian kepada Ummu Khalid, Rasulullah SAW tidak hanya memberikan
barang, tetapi juga menyertai pemberian tersebut dengan doa agar pakaian itu
awet dan memberikan manfaat bagi penerimanya.
Hal
tersebut menjadi pelajaran bahwa kebaikan tidak selalu harus diwujudkan dalam
perkara besar. Perhatian, pemberian, dan doa yang baik kepada sesama juga
merupakan bagian dari akhlak yang patut diteladani.
Kyai
Kholidin kemudian menjelaskan hadis lain mengenai adab ketika mendapatkan
pakaian baru.
Dalam
penjelasan hadis tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang mengenakan
pakaian baru seraya memuji Allah SWT dan memohon agar pakaian tersebut membawa
kebaikan.
Jamaah
diajak untuk tidak sekadar melihat pakaian sebagai kebutuhan penampilan, tetapi
juga mengingat Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.
Kyai
Kholidin juga mengingatkan agar umat Islam membiasakan diri memperhatikan
tuntunan Rasulullah SAW dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Salah
satu materi penting yang disampaikan dalam kajian adalah sunnah mendahulukan
anggota tubuh sebelah kanan dalam berbagai aktivitas yang baik.
Kyai
Kholidin menjelaskan bahwa Rasulullah SAW senang menggunakan anggota tubuh
sebelah kanan untuk perkara-perkara yang baik. Hal tersebut antara lain
diterapkan ketika mengenakan pakaian, bersuci, menggunakan sandal, serta
melakukan aktivitas lainnya.
Kebiasaan
sederhana tersebut dapat menjadi bentuk kecintaan seorang Muslim kepada
Rasulullah SAW.
Ia
mengajak jamaah untuk mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil dalam
kehidupan sehari-hari. Sebab, meneladani Rasulullah SAW tidak hanya dilakukan
melalui ibadah-ibadah besar, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari.
Dalam
pembahasan mengenai wudhu, Kyai Kholidin menjelaskan agar jamaah memperhatikan
urutan penggunaan anggota tubuh, khususnya mendahulukan anggota tubuh sebelah
kanan.
Ia
memberikan contoh ketika membasuh tangan dalam wudhu. Tangan kanan dibasuh
terlebih dahulu sebelum tangan kiri, sesuai dengan tuntunan yang dijelaskan
dalam hadis-hadis Nabi SAW.
Menurutnya,
memahami sunnah semacam ini penting agar aktivitas bersuci tidak hanya
menghasilkan kesucian secara lahiriah, tetapi sekaligus menjadi sarana
mengikuti teladan Rasulullah SAW.
Kyai
Kholidin juga menjelaskan bahwa tangan kanan digunakan Rasulullah SAW untuk
berbagai aktivitas yang baik, termasuk makan dan minum.
Ia
mengajak jamaah untuk memperhatikan kebiasaan tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Bahkan ketika menggunakan sendok, garpu, maupun gelas, seorang
Muslim tetap dapat membiasakan penggunaan tangan kanan sebagai bentuk mengikuti
sunnah Rasulullah SAW.
Pesan
tersebut menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah SAW dapat diterapkan dalam
aktivitas yang sangat sederhana, sehingga kehidupan sehari-hari pun dapat
bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat dan cara yang benar.
Selain
pembahasan tentang pakaian, Kyai Kholidin juga mengingatkan jamaah mengenai doa
ketika hendak melepas pakaian, terutama ketika berada di tempat seperti kamar
mandi.
Dalam
kajian tersebut disampaikan anjuran membaca: “Bismillahirrahmanirrahim, la
ilaha illa huwa.”
Kyai
Kholidin menjelaskan bahwa bacaan tersebut berkaitan dengan adab seorang Muslim
ketika membuka aurat dan berada di tempat yang memiliki kondisi khusus seperti
kamar mandi.
Ia
mengajak jamaah agar tidak menganggap remeh doa-doa pendek yang diajarkan dalam
Islam. Justru melalui kebiasaan sederhana tersebut, seorang Muslim dapat
senantiasa mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan.
Di
akhir kajian, Kyai Kholidin mengajak jamaah Masjid Agung Darussalam untuk mulai
membiasakan diri meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya,
banyak sunnah Nabi yang sebenarnya sangat mudah dilakukan, tetapi sering kali
terlewat karena kurang diperhatikan. Mulai dari mengenakan pakaian, berwudhu,
menggunakan sandal, makan dan minum, hingga memasuki dan keluar dari masjid.
Dengan
memahami hadis dan membiasakan diri mengamalkannya, seorang Muslim tidak hanya
mengetahui ajaran Rasulullah SAW, tetapi juga berusaha menghadirkan keteladanan
beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian Subuh tersebut menjadi pengingat bahwa menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dapat dimulai dari perkara-perkara sederhana. Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari upaya seorang Muslim untuk semakin dekat dengan Allah SWT dan mencintai Rasulullah SAW.
