Detail Berita

Kemuliaan Sejati Terletak pada Akhlak

Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti Kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmarduddin, M.Pd. Dalam kajiannya, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk memahami makna kemuliaan yang sebenarnya. Menurutnya, kemuliaan seorang manusia tidak semata-mata ditentukan oleh bagaimana ia dinilai oleh sesama manusia, tetapi terutama oleh bagaimana ia dinilai di sisi Allah SWT, Selasa (15/9/2026).

Kuliah Shubuh

Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti Kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmarduddin, M.Pd. Dalam kajiannya, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk memahami makna kemuliaan yang sebenarnya. Menurutnya, kemuliaan seorang manusia tidak semata-mata ditentukan oleh bagaimana ia dinilai oleh sesama manusia, tetapi terutama oleh bagaimana ia dinilai di sisi Allah SWT, Selasa (15/9/2026).

Ustadz Khafif menjelaskan, jika seseorang terlalu mengejar penilaian manusia, ia akan mudah kecewa. Sebab, penilaian manusia sering kali dipengaruhi oleh rasa suka atau tidak suka, serta apakah seseorang dianggap menguntungkan atau merugikan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya lebih mengutamakan penilaian Allah SWT.

“Kalau kita ingin mulia, cukup dalam pandangan Allah.”

Dalam kajian tersebut, Ustadz Khafif menekankan pentingnya menjaga adab dan akhlak kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang belum dikenal.

Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh hanya bersikap baik kepada orang yang sudah dikenal atau dianggap memiliki kedudukan. Kepada siapa pun yang datang, sikap sopan dan perilaku baik harus tetap dijaga.

Ia menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak bahkan dapat mengangkat derajat seseorang sebagaimana orang-orang yang melakukan tirakat dan ibadah berat. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan seseorang perlu berjalan beriringan dengan akhlak yang baik.

Untuk menggambarkan tingginya kedudukan akhlak, Ustadz Khafif menceritakan kisah seorang santri putri di sebuah pondok pesantren tahfidz Al-Qur'an.

Santri tersebut menangis ketika dibangunkan menjelang Subuh. Ketika ditanya oleh ibu nyainya, ia menjelaskan bahwa dirinya sedih karena merasa kehilangan kesempatan untuk melanjutkan membaca dan mendalami ajaran Rasulullah SAW. Ia merasa mendapatkan anugerah besar karena dapat mengaji, bertabarruk, dan mempelajari nasihat-nasihat luhur dari Rasulullah SAW.

Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan pertanyaan tentang bagaimana seseorang bisa memperoleh kemuliaan meskipun amalan ibadahnya terlihat sederhana.

Ustadz Khafif menjelaskan bahwa akhlak yang terjaga dan sikap sopan kepada sesama merupakan bagian penting dari kemuliaan seorang Muslim.

Dalam kajian, Ustadz Khafif juga menyampaikan sebuah kisah tentang seorang pekerja yang awalnya bekerja sebagai pencuci mobil.

Meskipun posisinya sederhana, ia dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan dalam membantu, suka belajar, dan memiliki adab yang baik. Ia tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya, tetapi juga membantu pekerjaan rekan-rekannya.

Sikap tersebut kemudian diperhatikan oleh seorang direktur. Karena melihat kemampuan, kemauan belajar, integritas, kejujuran, dan akhlaknya, pekerja tersebut mendapatkan kepercayaan yang semakin besar. Dari pekerjaan sederhana, ia kemudian dipercaya membantu pekerjaan sekretaris pribadi direktur hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi direktur perusahaan.

Kisah tersebut menjadi ilustrasi bahwa karakter dan akhlak seseorang dapat membuka kesempatan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Ustadz Khafif menekankan bahwa rezeki tidak selalu datang melalui jalur yang kita perkirakan. Kebaikan akhlak, sikap suka membantu, dan kemauan untuk terus belajar dapat menjadi sebab terbukanya berbagai jalan kebaikan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya sifat dermawan. Ustadz Khafif mengisahkan dialog Nabi Yahya dengan iblis. Dalam kisah tersebut, disebutkan bahwa salah satu tipe manusia yang mudah digoda adalah orang yang bakhil. Sebaliknya, orang yang senang berbagi dan membantu sesama lebih sulit digoda karena sifat dermawan membuat seseorang mudah mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Karena itu, jamaah diajak untuk membiasakan diri menjadi pribadi yang loman, suka memberi, dan membantu orang lain, meskipun kemampuan ibadahnya masih sederhana.

Kedermawanan bukan hanya berkaitan dengan jumlah materi yang diberikan. Lebih luas dari itu, seseorang dapat membantu sesama dengan tenaga, waktu, ilmu, perhatian, maupun kemampuan yang dimilikinya.

Ustadz Khafif juga mengajak jamaah untuk mencintai dan menghormati orang-orang saleh serta para ulama.

Ia menjelaskan bahwa meneladani orang saleh dapat dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana. Misalnya, mengikuti cara berpakaian yang baik, membiasakan diri mengaji, menghormati ulama, serta berusaha meniru kebiasaan baik mereka.

Menurutnya, seseorang mungkin belum mampu melakukan seluruh amal saleh sebagaimana orang-orang saleh yang diteladaninya. Namun, kecintaan dan usaha untuk meniru kebaikan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki diri.

Ustadz Khafif juga menyampaikan pandangan yang dinisbatkan kepada para ulama bahwa semakin seseorang mencintai dan dekat dengan orang-orang saleh, semakin besar pula tanda kecintaannya kepada Allah SWT.

Menjelang akhir kajian, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.

Ia mengangkat pertanyaan sederhana: apakah seseorang benar-benar termasuk orang saleh?

Menurut materi yang disampaikan, salah satu hal yang dapat direnungkan adalah bagaimana perasaan seseorang ketika bertemu dengan orang-orang saleh dan para ulama. Apabila dalam hati terdapat kecintaan, penghormatan, dan keinginan untuk meneladani mereka, hal tersebut menjadi salah satu tanda yang perlu dipelihara.

Kajian Subuh tersebut memberikan pesan penting kepada jamaah bahwa kemuliaan tidak selalu identik dengan kedudukan, harta, jabatan, maupun banyaknya amalan yang terlihat oleh manusia.

Kemuliaan dapat dibangun melalui akhlak yang baik: tetap sopan kepada siapa pun, ringan membantu, dermawan, jujur, senang belajar, menghormati ulama, mencintai orang-orang saleh, serta berusaha menjaga hati dari prasangka buruk.

Pada akhirnya, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk tidak terlalu sibuk mengejar penilaian manusia. Yang lebih penting adalah terus memperbaiki akhlak dan amal agar mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

“Datang kepada siapa pun, tetap sopan, tetap berbuat baik, dan tetap menjaga akhlak.” Pesan tersebut menjadi salah satu inti kajian Subuh yang disampaikan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.