Detail Berita

Perbanyak Shalawat Nabi

Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian Subuh yang disampaikan oleh Abuya Hasan Nur. Dalam kajiannya, Abuya Hasan Nur mengajak jamaah untuk terus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, salah satunya dengan memperbanyak membaca shalawat, Kamis (17/9/2026).

Kuliah Shubuh

Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian Subuh yang disampaikan oleh Abuya Hasan Nur. Dalam kajiannya, Abuya Hasan Nur mengajak jamaah untuk terus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, salah satunya dengan memperbanyak membaca shalawat, Kamis (17/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Abuya Hasan Nur juga menjelaskan tentang Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kecintaan dan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW tidak harus dibatasi hanya pada bulan Rabiul Awal. Peringatan Maulid dapat menjadi momentum untuk terus mengingat, memuji, dan bershalawat kepada Rasulullah SAW sepanjang waktu.

Abuya Hasan Nur menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih mempertanyakan mengapa kegiatan Maulid Nabi tetap dilaksanakan ketika bulan Rabiul Awal telah berlalu.

Ia menyampaikan bahwa kegembiraan dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak harus dibatasi pada satu bulan tertentu. Kegiatan Maulid dapat dilaksanakan pada bulan-bulan lainnya sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Menurutnya, salah satu bagian penting dalam kegiatan Maulid adalah pembacaan shalawat. Melalui shalawat, umat Islam diajak untuk terus mengingat dan memuliakan Rasulullah SAW.

Dalam kajiannya, Abuya Hasan Nur menguraikan sejumlah keutamaan membaca shalawat. Ia merujuk pada kitab karya Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yang menjelaskan berbagai faedah membaca shalawat.

Salah satu keutamaan yang disampaikan adalah bahwa membaca shalawat merupakan bentuk menjalankan perintah Allah SWT. Abuya Hasan Nur mengingatkan jamaah bahwa Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, ketika seorang Muslim membaca shalawat, ia tidak hanya sedang mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjalankan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Abuya Hasan Nur kemudian menjelaskan keutamaan membaca shalawat sebagaimana hadis yang populer di kalangan umat Islam, bahwa orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW satu kali akan mendapatkan balasan dari Allah SWT sebanyak sepuluh kali.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa balasan itu mencakup pemberian sepuluh kebaikan dan pengangkatan derajat sebanyak sepuluh derajat.

“Sekali membaca shalawat, Allah mengangkat derajat seseorang sepuluh derajat,” demikian inti penjelasan Abuya Hasan Nur.

Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan sebuah amalan yang secara praktik sangat sederhana dan dapat dilakukan kapan saja.

Abuya Hasan Nur juga mengingatkan jamaah bahwa membaca shalawat merupakan amalan yang relatif mudah dilakukan.

Berbeda dengan beberapa bentuk ibadah yang memiliki persyaratan tertentu, membaca shalawat dapat dilakukan dalam berbagai keadaan. Seseorang dapat bershalawat ketika duduk, berdiri, berjalan, maupun melakukan aktivitas sehari-hari lainnya.

Karena kemudahan tersebut, jamaah didorong untuk menjadikan shalawat sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Ia mendorong jamaah untuk tidak hanya membaca shalawat ketika menghadiri acara Maulid, tetapi membiasakannya secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Abuya Hasan Nur menyampaikan bahwa membaca shalawat juga memiliki keutamaan berupa bertambahnya kebaikan dan terhapusnya kesalahan.

Dalam penjelasan yang disampaikan, satu kali membaca shalawat disebut mendapatkan sepuluh kebaikan dan menjadi sebab terhapusnya sepuluh keburukan.

Karena itu, jamaah diajak untuk memperbanyak shalawat sebagai salah satu cara mengisi waktu dengan amal yang bernilai.

Bahkan, membaca shalawat dapat dilakukan di sela-sela berbagai aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, waktu yang sebelumnya berlalu tanpa aktivitas ibadah dapat diisi dengan dzikir dan shalawat.

Abuya Hasan Nur kemudian mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada semangat sesaat. Menurutnya, yang penting adalah membangun kebiasaan membaca shalawat secara rutin dan istiqamah.

Ia memberikan dorongan agar jamaah membiasakan membaca shalawat setiap hari, termasuk dengan menetapkan jumlah tertentu sebagai amalan rutin.

Istiqamah dalam membaca shalawat diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim, bukan hanya dilakukan ketika menghadiri pengajian atau peringatan Maulid Nabi.

Pada bagian akhir kajian, Abuya Hasan Nur mengajak jamaah untuk memperbanyak shalawat dengan harapan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW kelak di hari kiamat.

Ia mendoakan agar jamaah dapat istiqamah dan rutin membaca shalawat sehingga mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

Kajian Subuh tersebut menjadi pengingat bagi jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk amal, salah satunya dengan memperbanyak membaca shalawat.

Bukan sekadar memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menjadikan kecintaan kepada beliau sebagai kebiasaan yang hadir setiap hari melalui shalawat, mengikuti ajarannya, dan berusaha menghidupkan sunnahnya dalam kehidupan.