Detail Berita

ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan

Jamaah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan penting tentang hakikat ilmu dan adab dalam menuntut ilmu. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Khafif Ahmaruddin dalam kajian rutin setelah Salat Subuh, Selasa (18/08/2026).

Kuliah Shubuh

Jamaah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan penting tentang hakikat ilmu dan adab dalam menuntut ilmu. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Khafif Ahmaruddin dalam kajian rutin setelah Salat Subuh, Selasa (18/08/2026).

Dalam kajiannya, Ustadz Khafif mengingatkan bahwa ilmu tidak sekadar pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran. Ilmu merupakan “makanan ruh” yang dapat memperkuat hati, menerangi batin, serta mendorong seseorang semakin rajin beribadah dan menjauhi maksiat.

Menurutnya, seseorang terkadang merasa ilmu yang didengarkan dalam sebuah majelis belum benar-benar dipahami atau belum banyak yang melekat dalam ingatan. Namun, ilmu yang dipelajari tetap memiliki manfaat karena dapat terserap ke dalam hati dan membentuk perilaku seseorang.

“Ilmu itu makanan ruh, penguat ruh,” demikian inti pesan Ustadz Khafif dalam kajian tersebut. Ia mengibaratkan ilmu seperti makanan bagi tubuh. Meskipun seseorang hanya makan sedikit dan belum merasa kenyang, sari makanan tetap diserap tubuh dan memberikan energi. Begitu pula ilmu yang dipelajari, meskipun sedikit demi sedikit, dapat menjadi energi spiritual bagi seseorang untuk menjalankan ketaatan.

Ustadz Khafif menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat akan membuat hati semakin terang. Dengan hati yang terang, seseorang akan lebih mudah memahami berbagai keadaan yang diberikan Allah SWT, baik berupa kenikmatan maupun musibah.

Menurutnya, manusia sering kali belum mampu memahami hikmah di balik sesuatu yang terjadi karena kondisi hati yang belum cukup terang. Padahal, apa pun yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya pada hakikatnya mengandung kasih sayang dan hikmah.

Ia memberikan perumpamaan tentang orang tua yang membatasi uang saku anak. Sekilas, pembatasan tersebut mungkin dianggap sebagai bentuk kekikiran. Namun, orang tua bisa jadi sedang mendidik anak agar memahami perjuangan, memiliki mental yang kuat, serta tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja dan malas.

Demikian pula dengan ketentuan Allah SWT. Sesuatu yang belum diberikan atau bahkan ditahan dari seorang hamba tidak selalu berarti sebuah keburukan. Bisa jadi hal tersebut justru merupakan bentuk perlindungan Allah dari sesuatu yang membahayakan iman dan hati manusia.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Khafif juga mengajak jamaah untuk tetap bersyukur ketika menghadapi persoalan hidup, termasuk masalah ekonomi dan utang.

Ia menceritakan pengalaman seorang jamaah yang telah berusaha melunasi utang selama bertahun-tahun. Berbagai doa dan amalan telah dilakukan, tetapi kondisi utangnya belum juga selesai. Situasi tersebut membuat jamaah merasa berat dan mempertanyakan mengapa doanya belum terkabul.

Ustadz Khafif kemudian mengingatkan pentingnya menggabungkan ikhtiar lahiriah dengan doa dan munajat kepada Allah SWT. Jamaah juga diminta untuk tidak larut dalam kesedihan.

Menurutnya, doa hendaknya dipanjatkan dengan hati yang tetap bahagia dan penuh syukur. Sebab, ujian yang dialami seseorang juga dapat menjadi nikmat apabila disikapi dengan sabar dan syukur.

“Syukur,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kajian tersebut. Ujian berupa utang, misalnya, hendaknya tetap disyukuri karena seseorang masih memiliki kesempatan untuk menghadapi satu persoalan, dibandingkan harus menghadapi banyak ujian sekaligus.

Ustadz Khafif juga mengajak jamaah meneladani Nabi Ayyub AS dalam menghadapi ujian. Manusia perlu melihat nikmat yang masih dimiliki, bukan hanya terpaku pada bagian kehidupan yang sedang mengalami masalah.

Memasuki pembahasan utama tentang adab menuntut ilmu, Ustadz Khafif menegaskan pentingnya memuliakan ilmu dan ahli ilmu.

Ilmu tidak akan memberikan manfaat secara maksimal apabila seseorang tidak memiliki takzim terhadap ilmu. Karena itu, orang yang sedang belajar harus menjaga adab kepada guru, kitab, majelis ilmu, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan sejumlah kisah ulama Nusantara untuk menggambarkan bagaimana para ulama terdahulu menjaga adab dan penghormatan terhadap ilmu.

Salah satunya adalah kisah Mbah Hamid Pasuruan yang dikenal sangat menghormati lingkungan pesantren sebagai tempat menuntut ilmu. Kisah tersebut menggambarkan betapa tinggi penghormatan seorang ulama terhadap tempat yang digunakan untuk belajar dan beribadah.

Ustadz Khafif juga menceritakan sosok Mbah Hudhari, yang disebut sebagai salah satu santri Mbah Hasyim Asy'ari. Ia digambarkan sebagai sosok alim yang tekun dalam tirakat dan mujahadah.

Pesan lain yang disampaikan adalah pentingnya datang ke majelis ilmu dengan hati yang rendah dan terbuka.

Menurut Ustadz Khafif, seseorang jangan membawa kesombongan ketika belajar. Status sosial, keturunan, jabatan, atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya tidak seharusnya menjadi penghalang dalam menerima ilmu.

Majelis ilmu diibaratkan sebagai sebuah wadah yang hendak diisi. Karena itu, seseorang perlu mengosongkan hati dari rasa sombong dan merasa paling tahu agar ilmu dapat masuk dan memberikan manfaat.

“Datanglah dengan hati yang kosong,” menjadi pesan penting dalam bagian kajian ini. Sikap tawadhu dan menjaga adab dinilai menjadi kunci agar seseorang mendapatkan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya.

Ustadz Khafif kemudian mengaitkan ilmu dengan kualitas amal ibadah. Menurutnya, seseorang perlu terus belajar agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar dan sesuai dengan tuntunan.

Ilmu menjadi dasar agar seseorang mengetahui syarat, rukun, adab, serta berbagai hal yang berkaitan dengan ibadah. Karena itu, majelis ilmu memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas amal seorang Muslim.

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa amal ibadah memiliki tingkatan dalam hal penerimaannya. Ada amal yang mudah diterima karena disertai adab dan ketawadhuan. Sebaliknya, amal yang disertai kesombongan lebih mudah tertolak.

Ustadz Khafif juga menekankan pentingnya menjaga kekhusyukan dan adab ketika beribadah. Dalam salat, misalnya, seseorang harus berusaha menghadapkan hati dan pikirannya kepada Allah SWT, bukan membiarkan pikiran terus-menerus dipenuhi berbagai urusan dunia.

Pada akhirnya, kajian tersebut mengajarkan bahwa ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan. Ilmu yang benar seharusnya membuat seseorang semakin tawadhu, semakin mengenal kasih sayang Allah SWT, semakin bersyukur dalam menghadapi kehidupan, serta semakin baik kualitas ibadahnya.

Kajian Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro tersebut kemudian ditutup dengan doa dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.