Detail Berita

Kebahagiaan Sejati Adalah Menerima Takdir Allah dengan Ridha

Jamaah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan tentang makna kebahagiaan, ridha terhadap takdir Allah, serta pentingnya memperbanyak zikir. Kajian tersebut disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA., dalam kajian rutin setelah Salat Subuh, Rabu, (19/08/2026).

Kuliah Shubuh

Jamaah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan pesan tentang makna kebahagiaan, ridha terhadap takdir Allah, serta pentingnya memperbanyak zikir. Kajian tersebut disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA., dalam kajian rutin setelah Salat Subuh, Rabu, (19/08/2026).

Dalam kajiannya, Dr. Yogi mengangkat perkataan Umar bin Abdul Aziz yang menyebut bahwa kebahagiaan seseorang hendaknya tidak hanya bergantung pada sesuatu yang sesuai dengan keinginannya, tetapi juga pada sikap menerima keputusan dan takdir Allah SWT.

Menurut Dr. Yogi, kebahagiaan yang selama ini dipahami manusia sering kali bersifat bersyarat. Seseorang merasa bahagia ketika usahanya berhasil, rencananya berjalan sesuai harapan, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, memiliki anak, atau melihat anaknya sukses.

Namun, konsep tersebut berbeda dengan kebahagiaan yang didasarkan pada sikap ridha. Orang yang ridha tetap dapat merasakan kebahagiaan ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya, karena ia meyakini bahwa apa yang terjadi merupakan bagian dari takdir Allah SWT.

Dr. Yogi juga menjelaskan bahwa konsep ridha dapat menjadi salah satu penawar kegelisahan dan kecemasan yang banyak dialami manusia modern.

Ia menggambarkan suasana pagi sebagai awal seseorang menjalani aktivitas, ketika berbagai pikiran dan kekhawatiran mulai muncul. Mulai dari pertanyaan apakah pekerjaan akan berhasil, apakah target dapat tercapai, hingga kekhawatiran menghadapi kegagalan.

Menurutnya, manusia boleh memiliki harapan dan ekspektasi. Namun, ekspektasi tersebut harus disertai kesadaran bahwa realitas berada di luar kendali manusia sepenuhnya.

Karena itu, doa pun dapat diarahkan bukan hanya dengan meminta sesuatu yang sesuai dengan keinginan, tetapi juga dengan memohon agar apa pun yang Allah berikan dapat menjadi sumber kebahagiaan.

“Ya Allah, apa pun yang Kau berikan kepada saya, maka itu akan membahagiakan saya,” menjadi gambaran sederhana tentang sikap ridha yang dijelaskan dalam kajian.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Yogi menegaskan bahwa ridha tidak sama dengan sikap fatalistis atau pasrah tanpa usaha.

Menurutnya, fisik manusia berada dalam wilayah ikhtiar, sedangkan ridha berada dalam wilayah hati. Seseorang tetap harus berusaha sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Takdir baru diketahui setelah sebuah peristiwa terjadi.

Perbedaan tersebut membuat orang yang ridha justru cenderung optimistis. Ia tetap berusaha karena tidak mengetahui bagaimana takdir yang akan dihadapinya, tetapi apa pun hasilnya akan diterima dengan lapang dada.

“Orang-orang ridha itu cenderung optimis karena kita tidak tahu takdir kita seperti apa, sehingga kita berusaha, tetapi ridha terhadap apa yang ditetapkan oleh Allah,” jelasnya dalam kajian.

Pembahasan kemudian berlanjut pada perbedaan antara orang yang banyak meminta kepada Allah dan orang yang menyibukkan dirinya dengan zikir.

Dr. Yogi menjelaskan bahwa orang yang berdoa dan meminta kepada Allah pada dasarnya memohon sesuatu untuk kemaslahatan dirinya. Sementara itu, ahli zikir lebih memusatkan perhatian kepada Allah SWT sebagai Dzat yang selalu diingat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa meminta kepada Allah tetap diperbolehkan. Nabi Sulaiman AS, misalnya, pernah memohon kepada Allah agar diberikan kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya.

Namun, permintaan Nabi Sulaiman AS tersebut diawali dengan permohonan ampun kepada Allah. Kekuasaan yang dimilikinya juga dipandang sebagai karunia sekaligus ujian dari Allah SWT.

Dari kisah tersebut, jamaah diajak memahami bahwa ketika memohon sesuatu kepada Allah, hendaknya permintaan tersebut diarahkan kepada kebaikan dan keberkahan.

Meminta kesehatan, misalnya, bukan sekadar agar tubuh sehat, tetapi agar kesehatan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan ibadah. Demikian pula ketika memohon rezeki, hendaknya disertai harapan agar rezeki tersebut penuh keberkahan dan dapat digunakan untuk kebaikan dunia maupun akhirat.

Dr. Yogi juga memberikan cara sederhana untuk melihat apakah sesuatu yang dimiliki seseorang membawa keberkahan.

Jabatan, kendaraan, harta, maupun berbagai fasilitas kehidupan disebut berkah apabila keberadaannya justru membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, meningkatkan rasa syukur, dan mendorong bertambahnya ibadah.

Sebaliknya, jika sesuatu yang dimiliki justru membuat hati semakin jauh dari Allah, menambah kemaksiatan, dan menghilangkan ketenangan, maka hal tersebut perlu dievaluasi karena jauh dari makna keberkahan.

Pada bagian akhir kajian, Dr. Yogi mengajak jamaah untuk belajar melihat Allah di balik setiap peristiwa yang dialami.

Ketika mendapatkan nikmat, seseorang tidak hanya melihat nikmatnya, tetapi juga mengingat Allah sebagai Pemberi nikmat. Ketika menghadapi sakit atau kegagalan, seseorang juga diajak melihat bahwa di balik ujian tersebut terdapat kehendak dan hikmah Allah SWT.

Menurutnya, cara pandang tersebut dapat membentuk hati yang selalu terhubung dengan Allah. Seorang Muslim tidak hanya mengejar kenikmatan dunia, tetapi juga menyadari bahwa kehidupan dunia merupakan sarana menuju kehidupan akhirat.

Dr. Yogi mengingatkan bahwa salah satu kenikmatan terbesar bagi orang beriman di akhirat adalah dapat melihat Allah SWT. Karena itu, kehidupan di dunia hendaknya diisi dengan amal kebaikan, rasa syukur, zikir, dan upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Kajian ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan keberkahan dalam rezeki, ilmu, amal, keluarga, rumah, dan kehidupan.