Keutamaan Zikir dalam Kehidupan
Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan tausiah dalam Kajian Rutin Setelah Salat Subuh yang disampaikan oleh Kiai Kholidin. Kajian tersebut mengangkat pembahasan mengenai keutamaan zikir kepada Allah SWT, termasuk anjuran memperbanyak zikir dalam berbagai keadaan serta pentingnya menjaga lisan agar senantiasa mengingat Allah, Ahad (16/8/2026).
Jamaah
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan tausiah dalam Kajian Rutin
Setelah Salat Subuh yang disampaikan oleh Kiai Kholidin. Kajian tersebut
mengangkat pembahasan mengenai keutamaan zikir kepada Allah SWT, termasuk
anjuran memperbanyak zikir dalam berbagai keadaan serta pentingnya menjaga
lisan agar senantiasa mengingat Allah, Ahad (16/8/2026).
Dalam
kajiannya, Kiai Kholidin mengawali pembahasan dengan sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dari Sa'ad bin Abi Waqqash
radhiyallahu 'anhu. Hadis tersebut menjelaskan tentang amalan zikir yang ringan
dilakukan, tetapi memiliki keutamaan yang besar.
Kiai
Kholidin menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan beberapa bacaan yang
dapat diamalkan sebagai zikir, di antaranya Subhanallah, Allahu Akbar,
Alhamdulillah, La ilaha illallah, serta La haula wa la quwwata illa billah.
Menurutnya,
bacaan-bacaan tersebut memiliki keutamaan besar dan dapat diamalkan oleh siapa
saja, kapan saja, tanpa harus menunggu waktu atau keadaan tertentu.
Salah
satu pembahasan yang menarik dalam kajian tersebut adalah mengenai penggunaan
alat untuk menghitung zikir. Kiai Kholidin menjelaskan bahwa terdapat hadis
yang menunjukkan kebolehan menggunakan tasbih atau alat bantu hitung zikir,
sementara terdapat pula tuntunan Rasulullah SAW untuk menghitung zikir
menggunakan jari-jari tangan.
Ia
menjelaskan bahwa kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan. Yang
terpenting adalah zikir tetap dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan hati.
Menurutnya,
penggunaan tasbih, termasuk tasbih digital, dapat membantu seseorang menjaga
hitungan zikir. Sementara menghitung dengan jari juga memiliki dasar dari
tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Kiai
Kholidin kemudian menekankan pentingnya menjaga lisan agar selalu mengingat
Allah. Zikir tidak harus dilakukan dengan suara keras atau dalam kondisi
khusus.
Bahkan
di tengah aktivitas sehari-hari, seseorang tetap dapat berzikir. Ketika
berjalan, bekerja, bepergian, atau melakukan aktivitas lainnya, lisan tetap
dapat digunakan untuk mengucapkan kalimat-kalimat zikir.
Pesan
yang ditekankan adalah agar lisan seorang Muslim tidak kering dari zikir kepada
Allah SWT.
“Jangan
sampai cangkemmu kering saka zikir marang Allah,” menjadi pesan yang
disampaikan dalam kajian tersebut.
Dengan
demikian, zikir tidak hanya menjadi aktivitas yang dilakukan setelah salat,
tetapi dapat menjadi kebiasaan yang menyertai kehidupan seorang Muslim.
Kiai
Kholidin juga menyampaikan hadis yang menjelaskan keutamaan orang-orang yang
banyak berzikir kepada Allah. Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW
menjelaskan bahwa orang yang banyak mengingat Allah memiliki kedudukan yang
sangat tinggi.
Ia
mengibaratkan zikir sebagai amalan yang ringan dilakukan, tetapi besar
pahalanya.
Berbeda
dengan sejumlah amal yang membutuhkan kemampuan, tenaga, biaya, atau kondisi
tertentu, zikir dapat dilakukan oleh hampir setiap orang dan dalam berbagai
keadaan.
Karena
itu, jamaah diajak untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk
memperbanyak zikir.
Menurut
Kiai Kholidin, memperbanyak zikir bukan berarti seseorang harus meninggalkan
pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Justru zikir dapat dilakukan di sela-sela
kesibukan.
Ketika
bekerja, bepergian, menunggu, atau melakukan aktivitas lainnya, seseorang tetap
dapat mengingat Allah dalam hati maupun melalui lisannya.
Dengan
membiasakan zikir, diharapkan hati menjadi lebih dekat kepada Allah dan
kehidupan sehari-hari senantiasa berada dalam kesadaran spiritual.
Dalam
kajian tersebut, Kiai Kholidin juga menyampaikan kisah Nabi Ibrahim AS yang
berkaitan dengan keutamaan zikir.
Dalam
peristiwa Isra Mikraj, Nabi Ibrahim AS berpesan kepada Rasulullah SAW agar
menyampaikan salam kepada umatnya sekaligus memberitahukan bahwa surga memiliki
tanah yang subur dan air yang baik, sedangkan tanamannya adalah Subhanallah,
Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar.
Kiai
Kholidin menjelaskan bahwa pesan tersebut menggambarkan betapa besar keutamaan
zikir. Setiap kali seorang Muslim mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dengan
penuh keimanan, ia seakan sedang menanam kebaikan untuk kehidupan akhirat.
“Ketika
kita berzikir, dengan tidak sengaja kita membuat perkebunan di surga,” jelasnya
dalam kajian tersebut.
Di
akhir kajian, Kiai Kholidin mengajak jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
untuk menjadikan zikir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Zikir tidak harus menunggu waktu tertentu. Setiap kesempatan dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah SWT. Dengan memperbanyak zikir, seorang Muslim diharapkan semakin dekat dengan Allah, hatinya lebih tenang, dan kehidupannya dipenuhi keberkahan.
