Meneladani Nabi Ibrahim dalam Menjaga Tauhid
Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi dengan tausiah keagamaan oleh KH Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memperkuat tauhid, meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam berdakwah, serta senantiasa memohon kepada Allah SWT agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, Sabtu (15/6/2026).
Kajian
Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi dengan tausiah keagamaan oleh
KH Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memperkuat
tauhid, meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam berdakwah, serta senantiasa
memohon kepada Allah SWT agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, Sabtu
(15/6/2026).
Kajian
tersebut mengangkat pembahasan tafsir Al-Qur’an, khususnya Surah Maryam, yang
di dalamnya terdapat kisah Nabi Ibrahim AS. KH Ahmad Maimun Syafi’i menjelaskan
bahwa kisah para nabi dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi
mengandung pelajaran penting bagi kehidupan umat Islam.
Salah
satu pesan yang ditekankan adalah keyakinan bahwa seluruh kehidupan manusia
pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Ia mengaitkannya dengan kandungan
Surah Maryam ayat 40 tentang bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya yang
pada akhirnya menjadi milik Allah dan kembali kepada-Nya.
KH
Ahmad Maimun Syafi’i mengibaratkan kehidupan dan berbagai hal yang dimiliki
manusia sebagai sebuah titipan. Sebagaimana seseorang menitipkan kendaraan
kepada petugas parkir untuk sementara waktu, demikian pula kehidupan, harta,
jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia yang diberikan Allah kepada manusia.
Karena
merupakan titipan, semua itu pada akhirnya harus dikembalikan kepada
pemiliknya, yakni Allah SWT.
Pesan
tersebut sekaligus menjadi pengingat agar manusia tidak terlalu terikat dengan
kehidupan dunia. Apa pun yang dimiliki saat ini pada hakikatnya berada dalam
kekuasaan Allah dan suatu saat akan ditinggalkan.
Memasuki
pembahasan Nabi Ibrahim AS, KH Ahmad Maimun Syafi’i menjelaskan keistimewaan
beliau sebagaimana disebutkan dalam Surah Maryam. Nabi Ibrahim AS disebut
sebagai shiddiq, yaitu sosok yang sangat benar dan memiliki keteguhan
dalam ucapan, perbuatan, serta sikap.
Menurutnya,
Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu teladan utama dalam persoalan tauhid. Di
tengah masyarakat yang menyembah selain Allah, Nabi Ibrahim AS tetap teguh
menyerukan penyembahan hanya kepada Allah SWT.
Keteguhan
tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak mudah mengikuti kebiasaan
masyarakat apabila kebiasaan tersebut bertentangan dengan ajaran tauhid.
KH
Ahmad Maimun Syafi’i juga mengingatkan bahwa seseorang tidak cukup hanya
memiliki nama atau nasab yang baik. Nama yang baik harus diikuti dengan
perilaku yang baik. Ia mencontohkan bagaimana nama seseorang yang dikaitkan
dengan tokoh saleh tidak otomatis menjadikan orang tersebut memiliki akhlak
yang sama.
Salah
satu bagian penting dalam kajian adalah cara Nabi Ibrahim AS berdakwah kepada
ayahnya, Azar. Meskipun memiliki perbedaan keyakinan, Nabi Ibrahim AS tetap
menyampaikan dakwah dengan bahasa yang halus dan penuh penghormatan.
Nabi
Ibrahim AS memanggil ayahnya dengan panggilan yang penuh kelembutan, kemudian
mengajaknya berpikir tentang sesembahan yang disembahnya. Ia mempertanyakan
bagaimana sesuatu yang tidak mampu mendengar, melihat, memberikan manfaat,
maupun menolak mudarat dapat dijadikan sebagai sesembahan.
Dari
kisah tersebut, KH Ahmad Maimun Syafi’i menekankan pentingnya dakwah yang
santun dan bijaksana. Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi cara
menyampaikannya juga harus memperhatikan kondisi dan perasaan orang yang diajak
berbicara.
KH
Ahmad Maimun Syafi’i kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan doa umat
Islam dalam Surah Al-Fatihah:
“Ihdinash-shirathal
mustaqim” — tunjukilah kami jalan yang lurus.
Menurutnya,
jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mendapatkan
nikmat dari Allah, yakni para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan
orang-orang saleh.
Karena
itu, setiap kali membaca Al-Fatihah dalam salat, umat Islam sejatinya sedang
memohon agar Allah senantiasa memberikan petunjuk dan menjaga mereka agar tetap
berada di jalan kebenaran.
Dalam
kajian tersebut, KH Ahmad Maimun Syafi’i juga menyampaikan pesan motivasi bahwa
keterbatasan ekonomi atau kondisi sulit bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Ia menyinggung kisah orang-orang yang berhasil setelah melewati berbagai
kegagalan dan keterbatasan.
Menurutnya,
yang paling penting adalah kesungguhan dalam mencari ilmu dan menjalani proses
kehidupan. Ia mendorong jamaah, khususnya generasi muda, agar tidak hanya
mengejar materi, tetapi juga bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
“Banyak
orang yang sukses berangkat dari kegagalan,” menjadi salah satu pesan yang
ditekankan dalam kajian tersebut.
Di
penghujung kajian, KH Ahmad Maimun Syafi’i kembali mengingatkan jamaah agar
senantiasa menjaga kemurnian tauhid dan tidak menggantungkan hati kepada selain
Allah.
Kisah
Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa tauhid membutuhkan keberanian, keteguhan,
sekaligus kebijaksanaan dalam menyampaikannya. Umat Islam juga diajak untuk
terus memohon hidayah agar dapat berjalan di atas shirathal mustaqim.
Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa agar jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro senantiasa mendapatkan petunjuk, keteguhan iman, serta pertolongan Allah SWT dalam menjalani kehidupan.
