Menjaga Istiqamah dengan Raja’ dan Khauf
Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengajak jamaah untuk memperkuat keistiqamahan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag., dengan melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Jum’at (21/08/2026).
Kajian
rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali
mengajak jamaah untuk memperkuat keistiqamahan dalam menjalankan ketaatan
kepada Allah SWT. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi,
M.Ag., dengan melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Ibnu
‘Athaillah As-Sakandari, Jum’at (21/08/2026).
Dalam
kajiannya, Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan bahwa perjalanan istiqamah dalam
beribadah tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang mengalami
kelelahan, rasa malas, bahkan terjatuh dalam dosa. Namun, kondisi tersebut
tidak seharusnya membuat seorang muslim berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Ustadz
Ahmad Rifki mengingatkan jamaah agar tetap berhusnuzan kepada Allah ketika
mengalami kesalahan atau terjatuh dalam dosa. Seseorang tidak boleh berpikir
bahwa dirinya tidak mampu lagi istiqamah sehingga kemudian meninggalkan
berbagai bentuk ketaatan.
Menurutnya,
ketika seseorang terjatuh dalam dosa, ia harus segera bangkit dan kembali
kepada Allah. Bahkan, dosa yang dilakukan seharusnya menjadi momentum untuk
memperbaiki diri dan semakin mendekat kepada-Nya.
Ia
juga menjelaskan bahwa salah satu konsekuensi dosa dapat berupa hilangnya
kenikmatan dalam beribadah. Seseorang mungkin tetap menjalankan salat, membaca
Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan amal lainnya, tetapi tidak lagi
merasakan manisnya ibadah seperti sebelumnya.
Memasuki
pembahasan utama, Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan konsep raja’ dan khauf.
Raja’ berarti berharap kepada Allah SWT, terutama berharap
terhadap rahmat, keutamaan, ampunan, dan balasan kebaikan dari-Nya. Sementara khauf
berarti rasa takut kepada Allah, khususnya takut terhadap dosa dan siksa-Nya.
Menurutnya,
kedua sikap tersebut harus berjalan secara seimbang. Raja’ memberikan semangat
untuk terus beramal, sedangkan khauf menjadi pengendali agar seseorang tidak
meremehkan dosa dan merasa aman dari hukuman Allah.
Ketika
seseorang mulai malas beribadah, misalnya meninggalkan salat sunah qabliyah
Subuh, maka rasa raja’ dapat dibangkitkan dengan mengingat keutamaan amal
tersebut. Pengetahuan mengenai pahala dan keutamaan ibadah dapat mendorong
seseorang kembali bersemangat dalam menjalankan ketaatan.
Di
sisi lain, Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan bahwa rasa khauf tidak muncul
begitu saja. Salah satu cara membangkitkannya adalah dengan memperbanyak ilmu.
Seorang
muslim perlu mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan tentang
rahmat Allah sekaligus azab dan akibat perbuatan dosa. Dengan memahami
keduanya, hati akan terdorong untuk berharap kepada Allah sekaligus
berhati-hati terhadap kemaksiatan.
Dalam
kajiannya, ia memberikan gambaran melalui kisah para nabi dan orang-orang
terdahulu. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi bahan renungan agar manusia tidak
merasa dirinya aman dari ujian dan hukuman Allah.
Ustadz
Ahmad Rifki juga mengingatkan bahwa terlalu menekankan raja’ tanpa
diimbangi khauf dapat membuat seseorang merasa terlalu aman dari hukuman
Allah.
Seseorang
bisa saja berpikir bahwa semua dosa akan diampuni sehingga akhirnya meremehkan
kemaksiatan. Karena itu, harapan kepada rahmat Allah harus selalu disertai
kesadaran bahwa Allah juga memiliki ketetapan dan hukuman bagi orang yang
melakukan kemaksiatan.
Sebaliknya,
terlalu menekankan rasa takut tanpa menghadirkan harapan juga dapat menimbulkan
keputusasaan. Seseorang bisa merasa dosanya terlalu banyak dan menganggap
dirinya tidak mungkin mendapatkan ampunan Allah.
Karena
itu, keseimbangan antara raja’ dan khauf menjadi penting dalam
menjaga perjalanan spiritual seorang muslim.
Pada
bagian akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki mengajak jamaah untuk memperkuat raja’
dengan melihat berbagai nikmat dan anugerah yang telah diberikan Allah SWT.
Nikmat
kesehatan, rezeki, kesempatan beribadah, keluarga, serta berbagai kebaikan yang
terus diberikan Allah merupakan tanda bahwa manusia senantiasa berada dalam
limpahan rahmat-Nya.
Namun,
semua nikmat tersebut juga harus menjadi alasan untuk semakin bersyukur dan
meningkatkan ketaatan, bukan justru membuat seseorang lalai.
Ia
menegaskan bahwa harapan kepada Allah dapat menjadi kekuatan bagi seseorang
untuk bersabar dalam menjalankan ketaatan. Harapan terhadap balasan dan
anugerah Allah akan membantu seseorang bertahan dalam menghadapi berbagai
kesulitan dalam beribadah maupun menjalani kehidupan.
Melalui
kajian Kitab Al-Hikam tersebut, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak jamaah
untuk menjaga istiqamah dengan membangun keseimbangan antara harapan dan rasa
takut kepada Allah.
Ketika
malas beribadah, ingatlah keutamaan dan rahmat Allah agar kembali bersemangat.
Ketika mulai meremehkan dosa, ingatlah kebesaran dan azab Allah agar kembali
berhati-hati. Dan ketika terjatuh dalam dosa, jangan berputus asa, tetapi
segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT.
Istiqamah
bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi terus berusaha kembali kepada Allah
setiap kali terjatuh.
Dengan memperkuat ilmu, memperbanyak amal saleh, mengingat nikmat Allah, serta menyeimbangkan raja’ dan khauf, diharapkan jamaah mampu menjalani kehidupan dengan hati yang penuh harapan kepada rahmat Allah sekaligus senantiasa waspada terhadap dosa dan kemaksiatan.
