Pentingnya Akhlak Mulia
Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian rutin setelah salat Subuh yang disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, khususnya pesan-pesan yang berkaitan dengan keimanan, menjauhi kemaksiatan, serta pentingnya membangun akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, Sabtu, (22/08/2026).
Jamaah
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengikuti kajian rutin setelah salat Subuh
yang disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, beliau
mengajak jamaah untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, khususnya
pesan-pesan yang berkaitan dengan keimanan, menjauhi kemaksiatan, serta
pentingnya membangun akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, Sabtu,
(22/08/2026).
Dalam
kajian tersebut, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengulas kisah Nabi Ibrahim AS ketika
berdakwah kepada ayahnya. Nabi Ibrahim AS menyampaikan ajakan agar ayahnya
meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan mengikuti jalan yang benar. Dari
kisah tersebut, jamaah diajak memahami pentingnya ilmu, petunjuk Allah, dan
sikap lembut dalam menyampaikan kebenaran.
KH.
Ahmad Maimun Syafi’i juga mengingatkan bahaya mengikuti hawa nafsu dan godaan
setan. Menurutnya, penyimpangan dalam ibadah dapat terjadi ketika seseorang
lebih mengikuti keinginan dan hawa nafsunya daripada petunjuk Allah SWT. Karena
itu, umat Islam perlu senantiasa berhati-hati agar tidak terjerumus dalam
kemaksiatan.
Lebih
lanjut, beliau menjelaskan bahwa kemaksiatan memiliki konsekuensi bagi manusia.
Ketaatan kepada Allah akan membawa seseorang pada keselamatan, sedangkan
kemaksiatan dapat menjadi sebab datangnya siksa Allah. Karena itu, jamaah
diajak untuk senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT
serta memperbanyak doa agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat.
Dalam bagian lain, KH. Ahmad Maimun Syafi’i menekankan bahwa keimanan merupakan
perkara yang sangat penting. Beliau mengingatkan agar umat tidak terjerumus
dalam kesyirikan. Keimanan kepada Allah menjadi landasan utama bagi keselamatan
seorang hamba, sedangkan kesyirikan merupakan dosa yang sangat berat.
Salah
satu pesan utama dalam kajian tersebut adalah pentingnya akhlakul karimah. KH.
Ahmad Maimun Syafi’i menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk
menyempurnakan akhlak manusia. Beliau mengutip penjelasan Sayyidah Aisyah RA
mengenai akhlak Rasulullah SAW yang disebut sebagai Al-Qur’an, yakni perilaku
Rasulullah merupakan cerminan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Menurutnya,
ajaran Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan ibadah secara ritual, tetapi juga
mengatur bagaimana manusia berperilaku dan berinteraksi dengan sesama. Karena
itu, semakin baik pemahaman seseorang terhadap agama, seharusnya semakin baik
pula akhlaknya.
Beliau
kemudian memberikan gambaran tentang bagaimana para nabi menunjukkan kelembutan
dalam menghadapi manusia. Salah satunya melalui kisah Nabi Yusuf AS. Dari kisah
tersebut, jamaah diajak melihat bagaimana seorang nabi tetap menjaga sikap dan
tutur kata meskipun menghadapi berbagai ujian.
KH.
Ahmad Maimun Syafi’i juga menegaskan bahwa akhlak yang baik harus diwujudkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang dituntut untuk menjaga tutur kata,
bersikap halus, serta menghormati orang lain.
Menurutnya,
perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk menghilangkan sikap kemanusiaan
dan persaudaraan. Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia, masyarakat
hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Karena itu, sikap saling
menghormati dan menjaga kerukunan menjadi bagian penting dalam kehidupan
bersama.
Beliau
juga mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan semata-mata kepandaian
atau kedudukan. Ilmu yang tinggi harus diiringi dengan akhlak yang baik. Sebab,
kepandaian tanpa akhlak justru dapat membawa seseorang pada perilaku yang
menyimpang.
Di
akhir kajian, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengajak jamaah untuk semakin
mendekatkan diri dengan masjid. Ia menyampaikan keutamaan orang yang hatinya
terpaut dengan masjid, termasuk mereka yang senantiasa menjaga kedekatan dengan
rumah Allah dan berusaha menghadiri salat berjamaah.
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan
salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan keimanan, ilmu, dan akhlak umat.
Kajian
Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro tersebut ditutup dengan penegasan
bahwa akhlak merupakan bagian penting dari kualitas keberagamaan seseorang.
Ilmu dan ibadah semestinya melahirkan perilaku yang semakin baik, santun, dan
bermanfaat bagi sesama.
Sebagaimana pesan yang ditekankan dalam kajian tersebut, ilmu yang tidak diiringi akhlak akan kehilangan makna dalam kehidupan. Karena itu, memperbaiki akhlak merupakan bagian penting dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
