Pentingnya Memanfaatkan Umur, Ilmu, dan Harta
Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi terhadap kehidupan dan mempertanggungjawabkan setiap nikmat yang diberikan Allah SWT. Kajian yang disampaikan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. tersebut membahas hadis riwayat Abu Barzah Al-Aslami RA tentang pertanyaan yang akan dihadapi manusia pada hari kiamat. Dalam kajian, jamaah diingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti begitu saja setelah dunia, tetapi seluru
Kajian
rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
kembali mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi terhadap kehidupan dan
mempertanggungjawabkan setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.
Kajian
yang disampaikan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. tersebut membahas hadis riwayat
Abu Barzah Al-Aslami RA tentang pertanyaan yang akan dihadapi manusia pada hari
kiamat. Dalam kajian, jamaah diingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti
begitu saja setelah dunia, tetapi seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah SWT, Sabtu, (22/08/2026).
Salah
satu penekanan utama adalah umur dan waktu. Ustadz Ahmad Rifki mengingatkan
agar umur yang diberikan Allah tidak dihabiskan untuk perkara yang sia-sia.
Setiap manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri, untuk apa waktu dan usia
yang dimiliki digunakan.
Selain
umur, ilmu juga menjadi bagian yang akan dipertanggungjawabkan. Menurut kajian
tersebut, ilmu seharusnya tidak menjadi sarana untuk menyombongkan diri,
melainkan digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan
manfaat bagi kehidupan.
Ustadz
Ahmad Rifki juga mengingatkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memiliki ilmu.
Ilmu harus digunakan dengan benar dan sesuai dengan tuntunan syariat. Setiap
orang akan dimintai pertanggungjawaban mengenai bagaimana ilmu tersebut
diperoleh dan untuk apa ilmu itu digunakan.
Hal
serupa juga berlaku terhadap harta. Jamaah diajak memahami bahwa proses
mencari, memperoleh, dan membelanjakan harta semuanya memiliki konsekuensi.
Harta harus dicari melalui jalan yang halal dan digunakan untuk perkara yang
diridai Allah SWT.
Dalam
kajian tersebut diberikan gambaran bahwa seseorang akan diuji ketika mencari
harta, ketika memiliki harta, maupun ketika kehilangan harta. Ujian tersebut
menunjukkan bagaimana seseorang menempatkan harta dalam hatinya dan apakah
tetap berpegang pada ketentuan Allah.
Selain
umur, ilmu, dan harta, manusia juga akan mempertanggungjawabkan tubuh dan
anggota badannya. Karena itu, setiap anggota tubuh harus dijaga agar tidak
digunakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Pesan
tersebut mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan mata,
telinga, lisan, tangan, kaki, serta seluruh anggota tubuh. Jangan sampai nikmat
fisik yang diberikan Allah justru digunakan untuk melakukan kemaksiatan.
Kajian
kemudian mengingatkan jamaah mengenai gambaran kehidupan akhirat dan hari
kiamat. Seluruh manusia akan dikumpulkan dan menghadapi pertanggungjawaban atas
amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
Di
bagian lain, Ustadz Ahmad Rifki menekankan pentingnya menjaga keseimbangan
antara khauf atau rasa takut kepada Allah dan raja' atau harapan terhadap
rahmat-Nya.
Rasa
takut kepada Allah diperlukan agar manusia tidak merasa aman ketika melakukan
dosa. Namun, rasa takut tersebut juga tidak boleh membuat seseorang berputus
asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, seorang Muslim harus tetap memiliki harapan
bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Jamaah
yang merasa pernah melakukan kesalahan dan dosa pun diingatkan agar tidak
menjadikan dosa sebagai alasan untuk meninggalkan jalan Allah. Allah membuka
pintu taubat bagi hamba-Nya. Karena itu, seseorang harus segera kembali kepada
Allah, memperbaiki diri, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Kajian
tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa setiap nikmat akan dimintai
pertanggungjawaban. Umur harus diisi dengan kebaikan, ilmu harus diamalkan,
harta harus diperoleh dan digunakan secara halal, serta anggota tubuh harus
dijaga dari kemaksiatan.
Melalui kajian Riyadhus Sholihin, jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diajak untuk tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
