Salat Berjamaah dan Pendidikan Agama Anak
Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah untuk memperkuat keimanan melalui salat berjamaah, menjaga hubungan dengan masjid, serta memberikan pendidikan agama yang kuat kepada anak-anak sebagai generasi penerus, Senin (17/8/2026).
Kajian
Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan KH. Abdul Aziz
Ahmad mengajak jamaah untuk memperkuat keimanan melalui salat berjamaah,
menjaga hubungan dengan masjid, serta memberikan pendidikan agama yang kuat
kepada anak-anak sebagai generasi penerus, Senin (17/8/2026).
Dalam
tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengingatkan jamaah agar tidak hanya
menjalankan ibadah secara formal, tetapi juga menanamkan keyakinan yang kuat
terhadap ajaran Rasulullah SAW. Menurutnya, keimanan harus diwujudkan dengan
menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang.
Salah
satu pokok pembahasan yang disampaikan adalah keutamaan salat berjamaah di
masjid. KH. Abdul Aziz Ahmad menjelaskan bahwa salat berjamaah memiliki
keutamaan yang lebih besar dibandingkan salat yang dilakukan sendirian di
rumah.
Ia
mengingatkan jamaah agar membiasakan diri mempersiapkan ibadah sejak dari
rumah. Kesempurnaan wudu, kemudian berangkat menuju masjid dengan niat
melaksanakan salat, menjadi bagian dari rangkaian ibadah yang memiliki nilai
pahala.
Setiap
langkah menuju masjid, menurutnya, memiliki keutamaan tersendiri. Langkah
tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang Muslim untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
Karena
itu, jamaah diajak untuk tidak meremehkan perjalanan menuju masjid. Salat sunah
sebelum salat wajib, salat Tahiyatul Masjid, salat berjamaah, zikir setelah
salat, hingga kembali pulang merupakan rangkaian amal yang perlu dijaga.
KH.
Abdul Aziz Ahmad juga menekankan pentingnya memiliki keyakinan yang kuat
terhadap apa yang disampaikan Rasulullah SAW.
Menurutnya,
meskipun umat Islam saat ini tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah
SAW, keimanan tetap harus diwujudkan dengan membenarkan ajaran beliau.
Caranya
adalah dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah dan meninggalkan
apa yang dilarang.
Keyakinan
tersebut, lanjutnya, tidak cukup hanya berada dalam hati. Keimanan harus
tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam menjaga salat,
memperbanyak zikir, serta menjalankan berbagai amal kebajikan.
Pesan
penting lainnya ditujukan kepada para orang tua. KH. Abdul Aziz Ahmad
mengingatkan agar pendidikan agama anak tidak diberikan sekadarnya.
Menurutnya,
anak merupakan generasi penerus sekaligus salah satu harapan orang tua untuk
mendapatkan kebaikan setelah kehidupan di dunia berakhir.
Orang
tua didorong untuk mendekatkan anak kepada guru ngaji, kiai, dan ulama.
Lingkungan pendidikan agama yang baik diharapkan dapat membentuk kecintaan anak
terhadap agama dan ilmu.
Ia
juga mengingatkan tantangan pendidikan anak pada era teknologi. Kehadiran
telepon seluler, internet, media sosial, dan berbagai konten digital perlu
mendapatkan perhatian serius dari orang tua.
Anak-anak
tidak cukup hanya diberikan perangkat teknologi, tetapi juga harus mendapatkan
pendampingan agar mampu membedakan konten yang baik dan buruk.
Dalam
kajian tersebut, KH. Abdul Aziz Ahmad memberikan perhatian khusus terhadap
pendidikan Al-Qur'an.
Ia
mengajak orang tua untuk membiasakan anak membaca dan mempelajari Al-Qur'an
sejak dini. Menurutnya, ketika Al-Qur'an mulai tertanam dalam diri anak, orang
tua telah memberikan bekal yang sangat berharga bagi masa depannya.
Bukan
hanya untuk kehidupan anak, pendidikan Al-Qur'an juga dapat menjadi amal yang
memberikan manfaat kepada orang tua.
Ia
menyampaikan gambaran tentang kemuliaan orang tua di akhirat karena kebaikan
anaknya, termasuk ketika anak memiliki kemampuan membaca dan menghafal
Al-Qur'an.
KH.
Abdul Aziz Ahmad juga mengingatkan pentingnya membiasakan anak berzikir dan
mendoakan kedua orang tua setelah salat.
Ia
menyayangkan apabila setelah salam dari salat, seseorang langsung meninggalkan
tempat tanpa berzikir dan berdoa.
Padahal,
berbagai zikir dan doa setelah salat dapat menjadi sarana untuk memohon ampun
kepada Allah, termasuk memohonkan ampun bagi kedua orang tua.
Salah
satu amalan sederhana yang dapat diajarkan adalah membaca istighfar dan
mendoakan kedua orang tua.
Menurutnya,
ketika orang tua telah meninggal dunia, doa dan istighfar dari anak saleh tetap
menjadi salah satu bentuk kebaikan yang diharapkan memberikan manfaat bagi
mereka.
Dalam
kajiannya, KH. Abdul Aziz Ahmad juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi
muda saat ini.
Kemajuan
teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama juga
menghadirkan berbagai risiko. Anak-anak dapat dengan mudah mengakses berbagai
informasi dan konten melalui internet serta media sosial.
Karena
itu, orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada
teknologi.
Pendampingan,
keteladanan, pendidikan agama, serta kedekatan dengan guru dan ulama menjadi
bagian penting dalam membangun generasi yang saleh.
Menurutnya,
kedekatan dengan ulama juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mendapatkan
ilmu dan keteladanan. Ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya yang membimbing
kehidupan seseorang.
KH.
Abdul Aziz Ahmad juga mengajak jamaah untuk memperbanyak waktu di masjid,
khususnya setelah melaksanakan salat berjamaah.
Duduk
di masjid untuk berzikir dan menunggu waktu ibadah merupakan kesempatan yang
sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa dalam keadaan tersebut, malaikat
senantiasa mendoakan orang yang berada di tempat salatnya.
Doa
para malaikat tersebut menjadi salah satu keutamaan bagi orang yang menjaga
kedekatan dengan masjid.
Karena
itu, jamaah diajak untuk tidak terburu-buru meninggalkan masjid setelah salat.
Memanfaatkan waktu dengan zikir, doa, dan ibadah diharapkan semakin memperkuat
hubungan seorang Muslim dengan Allah SWT.
Di
penghujung kajian, KH. Abdul Aziz Ahmad kembali menekankan bahwa pendidikan
agama harus dimulai dari keluarga.
Orang
tua memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang mencintai
agama, Al-Qur'an, ilmu, dan ibadah. Anak-anak perlu dibiasakan salat, zikir,
membaca Al-Qur'an, serta mendoakan kedua orang tua.
Dengan pendidikan tersebut, diharapkan lahir generasi saleh yang tidak hanya sukses dalam kehidupan dunia, tetapi juga menjadi investasi amal bagi orang tua di akhirat.
