Detail Berita

Dzikir Sebagai Benteng Godaan Setan

Bojonegoro, Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mengikuti kajian subuh rutin yang pada kesempatan kali ini membahas tiga benteng perlindungan manusia dari godaan setan, sebagaimana dinukil dari dawuh Syekh Ka’ab al-Ahbar dari kalangan tabi’in, Sabtu (29/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mengikuti kajian subuh rutin yang pada kesempatan kali ini membahas tiga benteng perlindungan manusia dari godaan setan, sebagaimana dinukil dari dawuh Syekh Ka’ab al-Ahbar dari kalangan tabi’in, Sabtu (29/11/2025).

Ustadz Khafif menjelaskan bahwa tiga benteng tersebut adalah masjid, zikir, dan satu benteng lain yang akan dibahas pada pertemuan mendatang. Setelah membahas masjid pada kajian sebelumnya, kali ini pembahasan difokuskan pada benteng kedua, yaitu zikir.

“Allah memerintahkan kita untuk banyak berzikir, bertasbih pada waktu pagi dan petang. Orang yang jarang mengingat Allah akan mudah diuji, pikirannya disibukkan hal-hal remeh, dan hatinya menjadi rapuh,” ujarnya di hadapan jamaah.

Menurutnya, kelalaian dari zikir dapat membuat seseorang lupa pada Allah, lupa pada dosa-dosanya, bahkan lupa pada dirinya sendiri. “Orang yang lalai akan rawan terperosok ke dalam maksiat. Pokok dari tergelincirnya manusia adalah karena lupa kepada Allah,” katanya.

Ia mengutip pendapat ulama ahlul hikmah yang menyarankan agar jarak antarwaktu salat yang panjang diisi dengan salat sunah, seperti salat duha, agar hati tidak terputus dari ingat kepada Allah.

Selain itu, ia juga mengingatkan hadis riwayat Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa setan selalu mengawasi manusia. “Ketika manusia berzikir, setan bersembunyi. Namun saat manusia lupa, setan masuk dan menggoda, menebarkan waswas dan merusak iman.”

Zikir, menurut Ustadz Khafif, adalah ibadah paling ringan namun memiliki pahala yang besar. Ia menekankan bahwa zikir dapat dilakukan dalam keadaan apa pun, sambil bekerja, olahraga, mengemudi, bahkan saat menunggu pelayanan.

“Zikir itu ringan, tetapi pahalanya sangat besar. Orang yang ahli zikir, baik laki-laki maupun perempuan, dijanjikan Allah pahala yang agung,” katanya.

Ia juga menyinggung sabda Nabi Muhammad SAW, “Sabaqal mufarridun,” yakni golongan yang hatinya selalu sibuk mengingat Allah. Mereka, katanya, akan mendahului manusia lain menuju surga.

Ustadz Khafif kemudian memaparkan tingkatan zikir. Tingkatan terendah adalah melafalkan kalimat zikir, seperti subhanallah, astaghfirullah, dan Allahu akbar. Meskipun paling rendah, ganjarannya tetap besar.

Namun, Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa zikir tanpa kehadiran hati manfaatnya menjadi kurang kuat. “Hati manusia bisa berkarat seperti besi, dan zikir yang dihayati mampu merontokkan karat dosa dan penyakit-penyakit batin,” tuturnya.

Ia mengutip Syekh Nawawi al-Bantani yang menyebut bahwa istikamah berzikir akan merontokkan sifat sombong, riya, ujub, dan berbagai penyakit hati lainnya.

Salah satu anjuran unik yang disampaikan adalah tidak minum di tengah atau setelah zikir, karena dianggap dapat “mendinginkan” energi zikir yang berfungsi mengikis kekotoran rohani.

Dalam bagian akhir kajian, Ustadz Khafif menekankan pentingnya mengagungkan Allah dalam doa. Ia menceritakan kisah dua orang yang sama-sama berutang namun mengalami penyelesaian yang berbeda. Menurutnya, orang yang menganggap masalahnya ringan di hadapan Allah lebih cepat mendapat pertolongan-Nya.

“Allahu akbar berarti Allah Maha Besar. Selain Allah kecil. Termasuk masalah kita. Ketika yang dibesarkan adalah Allah, bukan masalahnya, maka pertolongan Allah akan lebih cepat datang,” ujarnya.

Selanjutnya, kajian ditutup dengan penjelasan lanjutan tentang makna la ilaha illallah, baik dalam arti “tiada Tuhan selain Allah”, “tiada tujuan selain Allah”, maupun “tiada wujud yang hakiki selain Allah”.

Ustadz Khafif mengingatkan bahwa tahlil memiliki keutamaan besar. “Satu kali la ilaha illallah yang dibaca untuk orang yang telah meninggal dapat meringankan siksa kubur bila ia sedang mendapatkannya,” ujarnya.

Ia berharap kajian mengenai zikir ini dapat menambah semangat jamaah dalam memperbanyak zikir kepada Allah. Pada pertemuan berikutnya, ia akan melanjutkan pembahasan mengenai benteng ketiga dari godaan setan.