Kisah Sayyidah Maryam dan Kekuasaan Allah
Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh kekhusyukan. Pada kesempatan kali ini, kajian diisi oleh KH A. Maimun Syafi'i yang menyampaikan tafsir kisah Maryam berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, Sabtu (18/4/2026).
Kajian
rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar
dengan penuh kekhusyukan. Pada kesempatan kali ini, kajian diisi oleh KH A.
Maimun Syafi'i yang menyampaikan tafsir kisah Maryam berdasarkan ayat-ayat
Al-Qur’an, Sabtu (18/4/2026).
Dalam
tausiyahnya, KH Maimun Syafi’i mengulas peristiwa ketika Malaikat Jibril diutus
oleh Allah SWT untuk menemui Sayyidah Maryam dan menyampaikan kabar bahwa ia
akan dikaruniai seorang anak laki-laki yang suci.
Beliau
menjelaskan bahwa kedatangan Malaikat Jibril merupakan bentuk kehendak Allah
untuk memberikan putra kepada Maryam tanpa melalui proses biologis sebagaimana
umumnya.
“Maryam
mempertanyakan bagaimana mungkin ia memiliki anak, padahal tidak pernah
disentuh laki-laki. Ini menunjukkan kesucian beliau,” ungkap KH Maimun di
hadapan jamaah.
Jawaban
dari Malaikat Jibril, lanjutnya, menegaskan bahwa hal tersebut mudah bagi
Allah, meskipun secara logika manusia dianggap mustahil.
Mbah
mun menekankan bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS tanpa ayah merupakan bukti
nyata kekuasaan Allah yang tidak terbatas.
“Secara
adat mungkin mustahil, tetapi bagi Allah itu sangat mudah. Ini menjadi tanda
bagi manusia agar semakin yakin terhadap kekuasaan-Nya,” jelasnya.
Beliau
kemudian menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam empat bentuk berbeda
sebagai bukti kesempurnaan kuasa-Nya, yakni: Pertama, tanpa ayah dan
ibu, seperti Nabi Adam AS. Kedua, dari laki-laki tanpa perempuan,
seperti Sayyidah Hawa. Ketiga, dari perempuan tanpa laki-laki, seperti
Nabi Isa AS dan keempat, dari laki-laki dan perempuan, yaitu manusia
pada umumnya.
“Ini
menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan dalam berbagai cara,” tambahnya.
Dalam
kajian tersebut, Mbah Mun juga menegaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an
bukan sekadar cerita, melainkan mengandung pelajaran, peringatan, dan petunjuk
bagi umat manusia.
“Kisah
Maryam ini bukan hanya sejarah, tapi juga pelajaran untuk memperkuat iman kita
kepada Allah,” ujarnya.
Beliau
menggambarkan Sayyidah Maryam sebagai perempuan yang sangat menjaga kehormatan
dan kesuciannya. Ketika mendapatkan ujian berupa kehamilan tanpa suami, Maryam
tetap teguh dalam keimanan dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Menurutnya,
peristiwa tersebut juga menjadi rahmat besar bagi umat manusia, karena melalui
kelahiran Nabi Isa AS, Allah memberikan petunjuk dan hidayah.
Kajian
ditutup dengan doa agar jamaah semakin kuat imannya dan mampu mengambil hikmah
dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Mbah Mun juga berharap ilmu yang disampaikan
membawa keberkahan dan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terus menjadi wadah pembelajaran agama yang diminati masyarakat, sekaligus memperkuat pemahaman keislaman berbasis kajian kitab dan tafsir Al-Qur’an
