Detail Berita

Ketergantungan Manusia kepada Allah

Kajian rutin setelah salat Shubuh kembali digelar dengan khidmat di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kali ini, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi yang mengangkat tema pentingnya kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan, Jum’at (24/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah salat Shubuh kembali digelar dengan khidmat di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kali ini, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi yang mengangkat tema pentingnya kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan, Jum’at (24/4/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan bahwa seluruh kemampuan manusia untuk beribadah semata-mata berasal dari pertolongan (taufik) Allah. Tanpa bantuan tersebut, manusia tidak akan mampu menjalankan kebaikan, bahkan cenderung terjerumus dalam kemaksiatan.

“Jika Allah tidak memberikan taufik, maka kita tidak akan mampu beribadah. Justru kita akan dikuasai oleh hawa nafsu,” ujarnya di hadapan jamaah.

Syahwat dan Tantangan Kehidupan

Ia menerangkan bahwa sejak lahir manusia telah dibekali berbagai keinginan (syahwat), mulai dari kebutuhan dasar hingga dorongan duniawi yang lebih kompleks. Oleh karena itu, manusia membutuhkan pertolongan Allah agar mampu mengendalikan syahwat tersebut.

Menurutnya, tanpa kendali, syahwat dapat menyeret manusia untuk menghalalkan segala cara, baik dalam mencari kekuasaan maupun harta.

Dalam kajian tersebut, ia melanjutkan pembahasan kitab Al-Hikam yang menekankan pentingnya menggantungkan diri kepada sifat-sifat ketuhanan (rububiyah) Allah.

Ia menjelaskan bahwa manusia seharusnya tidak bergantung kepada makhluk, melainkan kepada Allah. “Jika ingin mulia, bergantunglah pada kemuliaan Allah. Jika ingin cukup, bergantunglah pada kekayaan Allah,” jelasnya.

Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga mengingatkan adanya penyakit spiritual yang kerap dialami oleh orang-orang yang tekun beribadah, yaitu rasa putus asa. Hal ini bisa muncul ketika seseorang merasa amalnya tidak cukup baik atau terlalu banyak dosa di masa lalu.

“Jangan sampai kita berputus asa. Dalam kondisi apa pun, harapan kita hanya kepada Allah. Putus asa justru bisa menjerumuskan pada akhir yang buruk,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga husnuzan (prasangka baik) kepada Allah, terutama menjelang akhir hayat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep ubudiyah atau kehambaan, yaitu kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan Allah dalam setiap kondisi. Menurutnya, sifat fakir (butuh) kepada Allah adalah sifat yang tidak akan pernah hilang, baik di dunia maupun di akhirat.

“Dalam setiap napas, setiap ibadah, bahkan dalam memahami ilmu, kita selalu bergantung kepada Allah. Itulah hakikat kehambaan,” ungkapnya.

Di akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengingatkan jamaah untuk menjauhi sifat sombong. Ia menjelaskan bahwa kesombongan muncul ketika seseorang merasa lebih baik dibanding orang lain, padahal sejatinya semua manusia sama-sama bergantung kepada Allah.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk terus mendekat kepada Allah, dijauhkan dari sifat sombong, serta diberikan keikhlasan dalam beribadah.

Kegiatan kajian Shubuh ini menjadi bagian dari upaya pembinaan spiritual masyarakat Bojonegoro, sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan berbasis kitab klasik yang sarat makna.