Detail Berita

Hakikat Tawakal dan Rezeki

Kajian rutin setelah salat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Pada kesempatan kali ini, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Yogi Prana Izza yang mengangkat tema tentang hakikat tawakal dan pemahaman rezeki dalam Islam, Rabu (29/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah salat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Pada kesempatan kali ini, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Yogi Prana Izza yang mengangkat tema tentang hakikat tawakal dan pemahaman rezeki dalam Islam, Rabu (29/4/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Yogi mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang diberikan Allah SWT. Ia menekankan pentingnya menjaga kedua nikmat tersebut hingga akhir hayat agar dapat meraih husnul khatimah.

Kajian yang merujuk pada kitab Qutul Qulub karya ulama sufi Abu Thalib al-Makki ini membahas bahwa setiap mukmin sejatinya bertawakal kepada Allah, namun tingkat tawakal seseorang berbeda sesuai kadar keyakinannya.

Menurutnya, tawakal terbagi menjadi dua tingkatan. Pertama, tawakal orang awam, yaitu menerima takdir Allah baik dan buruk, meskipun masih ada rasa berat dalam hati. Kedua, tawakal orang khusus, yakni tawakal yang disertai musyahadah (kesadaran penuh akan kehadiran Allah) dan sikap ridha terhadap setiap ketetapan-Nya.

“Orang yang bertawakal secara khusus meyakini bahwa setiap kejadian pasti atas izin Allah dan di baliknya terdapat hikmah, meskipun belum tampak,” jelasnya di hadapan jamaah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep rezeki dalam Islam yang seringkali disalahpahami. Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, Ustadz Yogi membagi rezeki menjadi dua jenis, yaitu rezeki lahir (materi) seperti harta dan kesehatan, serta rezeki batin (rohani) seperti ilmu, hidayah, dan keimanan.

Ia menegaskan bahwa rezeki batin memiliki kedudukan lebih tinggi karena manfaatnya bersifat abadi hingga kehidupan akhirat. “Seringkali manusia lebih fokus pada rezeki materi, padahal rezeki rohani justru lebih menentukan keselamatan hidupnya,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, ia juga mengutip ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan manusia. Dari ayat tersebut, ia mengajak jamaah untuk merenung mengapa manusia begitu yakin pada kekuasaan Allah dalam hal kehidupan dan kematian, namun masih ragu dalam urusan rezeki.

Selain itu, ia menekankan bahwa usaha tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan. Tawakal tidak berarti pasif, melainkan tetap berikhtiar. Hal ini dicontohkan melalui kisah ulama terdahulu tentang burung yang saling memberi makan, yang mengajarkan bahwa menjadi “tangan di atas” lebih utama daripada hanya menunggu pemberian.

Di akhir kajian, Ustadz Yogi mengingatkan bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Ia menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan manusia bukan untuk kepentingan Allah, melainkan kembali kepada manfaat diri manusia sendiri.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan keberkahan dalam hidup, ilmu, serta rezeki, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

Kegiatan kajian Shubuh ini menjadi salah satu upaya memakmurkan masjid sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat di Bojonegoro.