Detail Berita

Ikhlas dan Keyakinan kepada Allah

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan KH. Azizi Falaqi sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya keikhlasan, keyakinan (iman), serta sikap ridha terhadap ketentuan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Ahad (26/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan KH. Azizi Falaqi sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya keikhlasan, keyakinan (iman), serta sikap ridha terhadap ketentuan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Ahad (26/4/2026).

Di hadapan para jamaah, KH. Azizi Falaqi mengawali tausiyahnya dengan mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga istiqamah dalam beribadah serta terus mengikuti kajian-kajian keilmuan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengutip perkataan sahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud, KH. Azizi menjelaskan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman adalah tidak menggantungkan ridha kepada manusia dalam urusan rezeki. “Jangan sampai kita memuji manusia atas rezeki yang sejatinya berasal dari Allah. Manusia hanya perantara,” ujarnya.

Beliau menyoroti fenomena di masyarakat di mana seseorang cenderung lebih menghargai pemberi bantuan secara langsung, namun melupakan bahwa semua itu merupakan titipan dari Allah. Sikap seperti ini, menurutnya, menunjukkan lemahnya keyakinan kepada Sang Pemberi Rezeki.

Lebih lanjut, KH. Azizi menguraikan tiga tingkatan keikhlasan dalam beribadah. Tingkatan tertinggi adalah beribadah semata-mata untuk mencari ridha Allah tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Tingkatan kedua adalah beribadah dengan harapan memperoleh balasan duniawi, seperti kelancaran rezeki. Sedangkan tingkatan ketiga adalah beribadah karena rasa takut terhadap siksa Allah.

“Semakin tinggi tingkat keikhlasan seseorang, maka semakin murni pula ibadahnya. Idealnya, kita beribadah hanya untuk Allah, bukan karena ingin sesuatu,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah menyalahkan orang lain dalam urusan rezeki. Menurutnya, rezeki telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, sehingga tidak mungkin tertukar atau direbut oleh orang lain.

“Seringkali kita melihat pedagang yang kehilangan pelanggan lalu menyalahkan pesaingnya. Padahal rezeki sudah ada jatahnya masing-masing,” tambahnya.

KH. Azizi menegaskan bahwa usaha atau ikhtiar tetap penting, namun tidak boleh membuat seseorang lalai dari ibadah. Beliau mengingatkan bahwa semangat berlebihan dalam mengejar dunia terkadang justru menggeser prioritas utama sebagai hamba Allah.

Menutup tausiyahnya, KH. Azizi mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga keistiqamahan dalam beribadah pasca-Ramadan serta memperkuat sikap ridha dan tawakal. Beliau berharap, dengan keimanan yang kuat, setiap persoalan hidup dapat dihadapi dengan tenang dan penuh keyakinan.

Kajian Shubuh ini menjadi salah satu kegiatan rutin yang diikuti masyarakat Bojonegoro sebagai sarana memperdalam pemahaman agama serta memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.