Detail Berita

Tafsir Surat Maryam dan Rahasia Takdir

Kajian tafsir Al-Qur’an kembali digelar usai salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, KH A. Maimun Syafi’i menyampaikan penjelasan mendalam tentang tafsir Surat Maryam, khususnya kisah kelahiran Nabi Isa AS, Sabtu (25/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian tafsir Al-Qur’an kembali digelar usai salat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, KH A. Maimun Syafi’i menyampaikan penjelasan mendalam tentang tafsir Surat Maryam, khususnya kisah kelahiran Nabi Isa AS, Sabtu (25/4/2026).

Dalam pembukaan, KH Maimun mengajak jamaah untuk meningkatkan keimanan melalui pemahaman Al-Qur’an. Ia kemudian memaparkan tafsir ayat yang menjelaskan proses kehamilan Maryam yang terjadi tanpa perantara seorang ayah.

Menurutnya, peristiwa kelahiran Nabi Isa tanpa ayah merupakan bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil, melainkan bagian dari kehendak dan ketetapan-Nya.

“Kelahiran tanpa ayah itu adalah tanda (ayat) bagi manusia agar memahami kesempurnaan kekuasaan Allah,” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa segala sesuatu yang telah menjadi ketetapan Allah (qadha) tidak dapat diubah, karena sudah ditentukan sejak awal.

Dalam tausiyahnya, Mbah Mun juga menjelaskan konsep takdir dalam Islam, yaitu perpaduan antara usaha manusia (ikhtiar) dan kehendak Allah. Ia menyampaikan bahwa secara lahiriah manusia diberi kebebasan untuk berusaha, namun secara hakikat tetap berada dalam kendali Allah.

“Secara lahir kita berikhtiar, tetapi secara batin kita berada dalam ketentuan Allah. Inilah yang disebut mukhtar secara lahir, tetapi majbur secara hakikat,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa orang yang memahami rahasia takdir akan lebih mudah menerima ujian hidup dan tidak mudah berputus asa.

Mbah Mun juga mengisahkan dialog antara Maryam dan seorang kerabatnya, Yusuf, yang awalnya merasa heran atas kehamilan tersebut. Dalam penjelasannya, Maryam memberikan analogi bahwa Allah mampu menciptakan sesuatu tanpa sebab yang biasa, sebagaimana tanaman yang bisa tumbuh tanpa biji atau kehidupan tanpa perantara tertentu.

Penjelasan tersebut akhirnya membuat Yusuf memahami bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah yang mutlak.

Lebih lanjut, Mbah Mun mengingatkan jamaah agar tidak berburuk sangka (suudzon) kepada Allah, terutama dalam menghadapi takdir yang tidak sesuai harapan. Beliau menekankan pentingnya husnuzan sebagai bentuk keimanan yang matang.

“Jangan sampai kita salah dalam memahami takdir, lalu berprasangka buruk kepada Allah. Itu tanda lemahnya pemahaman,” tegasnya.

Di akhir kajian, beliau berharap kisah Maryam dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk semakin yakin terhadap kekuasaan Allah serta memperkuat keimanan.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah diberikan keteguhan iman, pemahaman agama yang benar, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Kegiatan kajian Subuh ini terus menjadi sarana pembelajaran keagamaan bagi masyarakat Bojonegoro, sekaligus mempererat hubungan spiritual melalui pemahaman tafsir Al-Qur’an secara mendalam.