Detail Berita

Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan 2026, Dorong Inovasi dan Peningkatan Literasi di Bojonegoro

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Perpustakaan Tahun 2026 yang berlangsung di Partnership Room Lantai 4 Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Selasa 28/4/2026).

Umum

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Perpustakaan Tahun 2026 yang berlangsung di Partnership Room Lantai 4 Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Selasa 28/4/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari berbagai jenis perpustakaan di wilayah Bojonegoro, meliputi 15 perpustakaan kecamatan, 12 perpustakaan desa, 9 perpustakaan pondok pesantren, 6 perpustakaan puskesmas, 3 perpustakaan OPD, 3 taman bacaan masyarakat (TBM) serta 2 perpustakaan masjid, salah satunya adalah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Dalam laporan penyelenggara, disampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelola perpustakaan agar lebih profesional, adaptif, dan inovatif di tengah perkembangan teknologi informasi. Kegiatan ini juga didukung pembiayaannya oleh DPR serta Perpustakaan Kesehatan Jepang Tahun 2026.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini adalah Sujarwo, S.Sos., M.Si, pustakawan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro, Erick Firdaus, S.T, dalam sambutannya sekaligus membuka acara secara resmi, menekankan pentingnya transformasi pengelolaan perpustakaan di era digital saat ini.

“Perpustakaan tidak lagi cukup hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku. Dibutuhkan pengelolaan yang profesional, inovatif, serta mampu menciptakan ruang yang nyaman dan menarik bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa saat ini minat baca masyarakat, khususnya anak-anak, menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi dan penggunaan gawai sejak usia dini. Oleh karena itu, perpustakaan harus mampu beradaptasi dan menghadirkan suasana yang lebih ramah, nyaman, dan bahkan instagramable agar menarik minat pengunjung.

Selain itu, Erick juga menyampaikan pentingnya inovasi program, seperti pelatihan berbasis perpustakaan melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program tersebut telah menghadirkan berbagai kegiatan seperti pelatihan bahasa Inggris dan komputer dengan melibatkan relawan, termasuk tenaga asing yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Perpustakaan harus menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan hanya tempat membaca, tetapi juga tempat belajar, berlatih, dan berkolaborasi,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga diperkenalkan inovasi layanan digital berupa aplikasi e-book “iBojonegoro” (atau e-maos), yang memungkinkan masyarakat mengakses buku secara elektronik sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan bimtek ini, diharapkan para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan di masing-masing wilayah, sehingga mampu menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan budaya literasi masyarakat.

Acara ditutup dengan sesi materi inti yang dipandu oleh narasumber, serta berlangsung dengan penuh antusias dari seluruh peserta.