Detail Berita

Mengapa Bulan Muharram Begitu Istimewa

Kajian rutin setelah Sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Kamis pagi disampaikan oleh Abuya Hasan Nur. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram dengan memperbanyak amal saleh dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, Kamis (11/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Kamis pagi disampaikan oleh Abuya Hasan Nur. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram dengan memperbanyak amal saleh dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, Kamis (11/6/2026).

Di awal kajian, Abuya Hasan Nur mengungkapkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT, terutama nikmat kesehatan, kesempatan beribadah, serta panjang umur sehingga jamaah dapat kembali berkumpul di Masjid Agung Darussalam. Beliau juga menyampaikan doa bagi para jamaah haji asal Bojonegoro yang telah menunaikan ibadah haji maupun yang masih menantikan panggilan Allah ke Tanah Suci.

Dalam tausiyahnya, Abuya Hasan Nur menyoroti pentingnya umat Islam memberikan perhatian terhadap Tahun Baru Hijriah. Menurutnya, sering kali umat Islam kurang antusias menyambut tahun baru Islam, sementara perayaan tahun baru selain Islam justru mendapat perhatian yang lebih besar.

“Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Muharram. Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita memuliakan dan menyambut tahun baru Islam dengan memperbanyak ibadah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi berbagai perbuatan maksiat.

Abuya Hasan Nur juga menguraikan sejumlah peristiwa penting yang menurut riwayat terjadi pada bulan Muharram, di antaranya penciptaan Nabi Adam AS dan Siti Hawa, keselamatan Nabi Nuh AS dari banjir besar, keselamatan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api, terbebasnya Nabi Yusuf AS dari berbagai ujian, kesembuhan Nabi Ayyub AS, kemenangan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun, hingga keselamatan Nabi Yunus AS setelah berada di dalam perut ikan.

Menurut beliau, banyaknya peristiwa besar tersebut menunjukkan bahwa bulan Muharram memiliki kedudukan yang istimewa dalam sejarah Islam.

Lebih lanjut, Abuya Hasan Nur mengajak jamaah untuk mengisi bulan Muharram dengan berbagai amalan sunnah, seperti mempererat silaturahmi, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Tasu’a dan Asyura pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Beliau menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis, yakni menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal kebajikan lainnya sebagai bentuk pengagungan terhadap bulan yang dimuliakan Allah SWT tersebut.

Pada akhir kajian, Abuya Hasan Nur mengundang seluruh jamaah untuk menghadiri Majelis Ijazah yang akan diselenggarakan pada Sabtu sore mendatang. Dalam kegiatan tersebut, beliau akan menyampaikan berbagai amalan dan ijazah yang diperoleh dari para guru beliau, sebagai sarana menambah keberkahan dan memperkuat hubungan spiritual umat Islam dengan para ulama.

Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa diberikan taufik, hidayah, kesehatan, keberkahan rezeki, serta kemampuan untuk mengagungkan bulan Muharram dan mengisi tahun baru Islam dengan amal-amal yang diridhai Allah SWT.