Kritis Menyikapi Informasi di Era Media Sosial
Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah oleh Ustadz Agus Sholahuddin, M.HI. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memperkuat ilmu, menggunakan nalar kritis, serta tidak mudah menerima setiap informasi yang beredar di media sosial, Jum’at, (25/9/2026).
Kajian
Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah oleh Ustadz Agus
Sholahuddin, M.HI. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah untuk memperkuat ilmu,
menggunakan nalar kritis, serta tidak mudah menerima setiap informasi yang
beredar di media sosial, Jum’at, (25/9/2026).
Ustadz
Agus mengawali kajian dengan mengutip sebuah maqalah dari Yahya bin Mu'adz
Ar-Razi, “Al-'ilmu dalilul 'amali”, yang berarti ilmu menjadi petunjuk
bagi amal. Menurutnya, Islam dibangun di atas ilmu. Karena itu, pemahaman agama
seharusnya bersumber dari pengetahuan yang memadai, bukan sekadar pendapat atau
informasi yang diperoleh secara singkat dari media sosial.
Ustadz
Agus menyoroti tantangan masyarakat di tengah derasnya arus informasi. Saat
ini, seseorang dapat memperoleh ceramah, kajian, podcast, dan berbagai konten
keagamaan dengan mudah melalui YouTube, Spotify, maupun media sosial lainnya.
Namun,
banyaknya informasi yang diterima belum tentu membuat seseorang memiliki ilmu
yang benar. Menurutnya, informasi yang hanya dilihat atau didengar sekilas
kemudian dilupakan dapat berubah menjadi “sampah informasi” apabila tidak
dipahami dan diolah dengan baik.
“Tidak
semua yang kita serap dari layar HP itu betul-betul menjadi ilmu pengetahuan.
Kadang-kadang itu hanya menjadi sampah informasi,” jelasnya.
Karena
itu, jamaah diajak tidak sekadar mengonsumsi informasi, tetapi memahami,
menganalisis, dan menguji kebenarannya.
Lebih
lanjut, Ustadz Agus menjelaskan bagian lain dari maqalah Yahya bin Mu'adz
Ar-Razi, yakni “Wal-'aqlu qaidun lil khairi”, yang dimaknai bahwa akal
atau nalar menjadi pemandu menuju kebaikan.
Menurutnya,
kemampuan bernalar menjadi semakin penting di era media sosial karena informasi
yang muncul di layar gawai telah dipengaruhi oleh algoritma. Apa yang muncul
berulang-ulang di hadapan seseorang dapat memberikan kesan seolah-olah
informasi tersebut benar, padahal belum tentu demikian.
Ia
mendorong jamaah untuk membangun nalar kritis, analitis, dan logis agar mampu
membedakan antara informasi yang benar dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Harus
punya nalar kritis, analitis, logis. Bisa membedakan mana yang masuk akal dan
mana yang tidak masuk akal,” pesannya.
Ustadz
Agus juga menjelaskan bahwa rendahnya literasi tidak selalu berarti seseorang
tidak mampu membaca. Seseorang dapat membaca sebuah tulisan, tetapi belum tentu
memahami konteks dan maksud dari apa yang dibacanya.
Ia
menilai kemampuan memahami informasi menjadi semakin penting karena cara otak
menerima informasi melalui membaca, melihat, dan mendengarkan memiliki proses
yang berbeda. Tanpa pemahaman yang baik, informasi yang dikonsumsi berulang
kali belum tentu berubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Karena
itu, jamaah diingatkan agar tidak terburu-buru mempercayai informasi, terutama
isu yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.
Menurut
Ustadz Agus, salah satu persoalan yang muncul di tengah masyarakat adalah
mudahnya seseorang mempercayai isu hanya karena informasi tersebut sedang ramai.
Ia
mencontohkan berbagai isu yang berkembang di media sosial, termasuk isu
mengenai organisasi keagamaan. Dalam situasi seperti itu, masyarakat perlu
menggunakan nalar kritis dan tidak langsung menerima informasi sebelum
menganalisis kebenarannya.
Nalar,
lanjutnya, harus menjadi kemampuan yang melekat dalam diri sehingga seseorang
terbiasa bertanya: apakah informasi ini benar, apakah masuk akal, dan bagaimana
informasi tersebut dapat dianalisis?
Selain
menggunakan nalar, Ustadz Agus juga mengingatkan pentingnya mendekatkan diri
kepada Allah SWT ketika menghadapi berbagai pilihan dalam kehidupan.
Menurutnya,
manusia setiap hari selalu dihadapkan pada pilihan dan harus mengambil
keputusan. Karena itu, salat istikharah dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk
memohon petunjuk Allah SWT ketika menghadapi pilihan.
Ia
menjelaskan bahwa nalar dan analisis tetap diperlukan, tetapi seorang Muslim
juga perlu memohon bimbingan kepada Allah agar diberikan pilihan yang baik.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Agus juga membahas al-hawa, yang berkaitan dengan
kecenderungan atau keinginan hati.
Menurutnya,
hawa nafsu dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu secara tidak rasional apabila
keinginan tersebut tidak dikendalikan. Di era media sosial, bentuknya dapat
berupa keinginan memperoleh like, subscriber, viewer, atau validasi dari orang
lain.
Ia
mengingatkan bahwa keinginan untuk mendapatkan perhatian dan popularitas dapat
membuat seseorang membuat konten hanya demi viral, meskipun isi atau caranya
tidak sesuai dengan nilai yang seharusnya dijaga.
Ustadz
Agus juga menyoroti fenomena flexing, yakni kebiasaan menampilkan kekayaan atau
kemewahan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Ia
mengaitkan hal tersebut dengan peringatan agar harta tidak dijadikan sekadar
aksesoris untuk menunjukkan status dan memperoleh validasi. Apa yang tampak di
media sosial, menurutnya, belum tentu menggambarkan keadaan seseorang yang
sebenarnya.
Karena
itu, jamaah diajak untuk tidak menjadikan tampilan di media sosial sebagai
ukuran kehidupan seseorang. Masyarakat perlu menggunakan nalar untuk melihat
informasi secara lebih objektif dan tidak mudah terbawa oleh apa yang ditampilkan
di layar.
Menutup
kajiannya, Ustadz Agus mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media
sosial akan terus berlangsung. Karena itu, masyarakat perlu membekali diri
dengan ilmu, nalar kritis, kemampuan analisis, serta keteguhan spiritual.
Pesan
utama kajian tersebut adalah agar jamaah tidak hanya menjadi konsumen
informasi, tetapi mampu memahami, menyaring, menganalisis, dan
mempertanggungjawabkan informasi yang diterima.
Dengan ilmu sebagai petunjuk amal dan nalar sebagai pemandu menuju kebaikan, masyarakat diharapkan mampu menghadapi derasnya arus informasi secara lebih bijaksana, sekaligus tetap memohon petunjuk kepada Allah SWT dalam setiap pilihan kehidupan.
