Keutamaan Salat Berjamaah dan Empat Karunia Terbaik dari Allah SWT
Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. Dalam kajiannya, ia membahas sejumlah hadis tentang keutamaan menjaga salat berjamaah, empat karunia terbaik dari Allah SWT, serta hikmah ujian yang menimpa seorang Muslim, Sabtu, (19/9/2026).
Kajian
rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. Dalam kajiannya, ia membahas sejumlah
hadis tentang keutamaan menjaga salat berjamaah, empat karunia terbaik dari
Allah SWT, serta hikmah ujian yang menimpa seorang Muslim, Sabtu, (19/9/2026).
Mengawali
kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menyampaikan hadis dari Umar bin Khattab
radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan orang yang
melaksanakan salat berjamaah di masjid secara konsisten. Dalam hadis yang
dikutipnya, seseorang yang melaksanakan salat berjamaah selama 40 malam dan
tidak tertinggal rakaat pertama salat Isya mendapatkan jaminan terbebas dari
api neraka.
Hadis
tersebut, menurutnya, menjadi dorongan bagi umat Islam untuk menjaga salat
berjamaah dan berusaha tidak terlambat mengikuti salat sejak awal.
Ustadz
Ahmad Rifki kemudian mengutip hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
tentang empat hal yang apabila diberikan Allah SWT kepada seseorang, maka ia
telah memperoleh kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Empat
hal tersebut adalah hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang selalu
berdzikir, badan yang sabar menghadapi musibah, serta istri yang tidak mencela
dirinya dan hartanya.
Menurutnya,
keempat hal tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan seorang Muslim tidak hanya
berkaitan dengan materi. Ketenangan hati, kebiasaan berdzikir, kesabaran dalam
menghadapi ujian, serta keluarga yang saling menjaga merupakan bagian penting
dari kehidupan yang baik.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Ahmad Rifki juga menyampaikan hadis dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu mengenai seseorang yang mendapatkan ujian berupa sakit atau
cobaan yang menimpa tubuhnya.
Ia
menjelaskan bahwa dalam hadis tersebut disebutkan bahwa ketika seorang Muslim
mendapatkan ujian, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat amal saleh
yang sebelumnya biasa dikerjakannya. Apabila ia sembuh, ujian tersebut menjadi
sebab dirinya dibersihkan, sedangkan apabila meninggal dunia, ia mendapatkan
ampunan dan rahmat Allah SWT.
Pesan
tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak selalu memandang ujian
sebagai sesuatu yang buruk. Kesabaran dalam menghadapi sakit dan cobaan dapat
menjadi bagian dari proses mendapatkan ampunan serta rahmat Allah SWT.
Ustadz
Ahmad Rifki juga menyampaikan hadis yang menjelaskan keutamaan mencari
penghasilan melalui usaha sendiri.
Ia
mengutip hadis yang menyebutkan bahwa tidak ada makanan yang lebih baik
daripada makanan yang diperoleh dari hasil usaha seseorang sendiri. Nabi Daud
AS juga disebut makan dari hasil usaha tangannya sendiri.
Menurutnya,
hadis tersebut memberikan dorongan kepada umat Islam untuk bekerja, berusaha,
dan tidak menggantungkan kehidupan kepada orang lain selama masih mampu
melakukan usaha yang halal.
Selain
membahas hadis-hadis dalam Riyadhus Sholihin, Ustadz Ahmad Rifki juga
menguraikan kandungan awal Surah Taha, termasuk pembahasan mengenai huruf-huruf
muqatha'ah seperti “Tha Ha”.
Ia
menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama dan mufasir
mengenai makna huruf-huruf tersebut. Dalam tradisi keilmuan Islam, sebagian
ulama memilih sikap tawaduk dengan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah
SWT.
Dalam
penjelasannya, ia juga membahas bagaimana para ulama memahami konteks ayat
dengan memperhatikan rangkaian pembicaraan atau siyaq al-kalam.
Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Qur'an membutuhkan ilmu dan kehati-hatian
agar seseorang tidak mudah membuat kesimpulan tanpa dasar.
Ustadz
Ahmad Rifki mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dalam memahami teks agama
merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam. Karena itu, umat perlu menghargai
proses kajian yang dilakukan para ulama dan tidak terburu-buru menyalahkan
sebuah pendapat hanya karena berbeda dengan pemahamannya.
Ia
juga menekankan pentingnya membangun pemahaman agama yang tidak berhenti pada
hafalan, tetapi disertai kemampuan membaca konteks, memahami dalil, dan merujuk
kepada tradisi keilmuan para ulama.
Kajian rutin Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman terhadap hadis dan ajaran Islam. Melalui materi yang disampaikan, jamaah diajak menjaga salat berjamaah, membiasakan syukur dan dzikir, bersabar ketika mendapatkan ujian, serta terus menuntut ilmu dalam memahami Al-Qur'an dan hadis.
