Detail Berita

Kebahagiaan Tidak Diukur dari Harta dan Jabatan

Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah yang mengingatkan jamaah tentang hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam kajian tersebut, Abuya Hasan Nur menyampaikan bahwa kebahagiaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya usaha, tetapi oleh kedekatan kepada Allah SWT dan kemampuan menjalankan amalan-amalan yang mendatangkan ketenangan, Kamis, (24/9/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah yang mengingatkan jamaah tentang hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam kajian tersebut, Abuya Hasan Nur menyampaikan bahwa kebahagiaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya usaha, tetapi oleh kedekatan kepada Allah SWT dan kemampuan menjalankan amalan-amalan yang mendatangkan ketenangan, Kamis, (24/9/2026).

Di hadapan jamaah Salat Shubuh, Abuya Hasan Nur menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kekayaan melimpah dan jabatan tinggi belum tentu hidup bahagia. Sebaliknya, orang yang kehidupannya sederhana dapat merasakan ketenteraman apabila hatinya dekat dengan Allah SWT.

Menurutnya, terdapat lima amalan yang dapat menjadi jalan kebahagiaan dunia hingga akhirat. Lima amalan tersebut menjadi inti pesan yang disampaikan dalam kajian Shubuh tersebut.

Amalan pertama yang disampaikan adalah senantiasa mengingat Allah SWT dengan memperbanyak kalimat “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

Abuya Hasan Nur menjelaskan bahwa dzikir tersebut hendaknya tidak hanya dilakukan ketika seseorang menghadiri acara tahlilan, tetapi dibiasakan setiap waktu. Setelah salat, misalnya, seorang Muslim dianjurkan mengingat dan menyebut nama Allah SWT.

Menurutnya, lisan yang senantiasa dibasahi dengan kalimat thayyibah merupakan bentuk mengagungkan dan memuji Allah SWT. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat mendekatkan seorang hamba kepada rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Amalan berikutnya adalah memiliki sikap pasrah dan tawakal kepada Allah SWT ketika menghadapi ujian.

Abuya Hasan Nur mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada saatnya seseorang memperoleh kesenangan dan ada pula saat menghadapi kesulitan. Ketika mendapatkan musibah atau ujian, seorang Muslim dianjurkan mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi raji'un” serta “La haula wa la quwwata illa billah.”

Ia menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan titipan Allah SWT. Harta, kendaraan, rumah, usaha, maupun berbagai kenikmatan lainnya pada suatu saat akan kembali kepada pemiliknya, yakni Allah SWT.

Karena itu, ketika kehilangan atau menghadapi ujian, manusia tidak perlu larut dalam kegelisahan. Sikap yang perlu dikedepankan adalah menerima ketentuan Allah, bersabar, dan memohon kekuatan kepada-Nya.

Abuya Hasan Nur juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.

Menurutnya, manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat Allah, mulai dari kesehatan, kesempatan beribadah, kemampuan melihat, mendengar, berjalan, hingga nikmat menghirup udara. Bahkan sejak bangun tidur, manusia telah menerima begitu banyak nikmat dari Allah SWT.

Ia kemudian mengingatkan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan “Alhamdulillah”, tetapi harus dibuktikan melalui perbuatan.

“Syukur ini harus ada bukti,” tegasnya.

Ia mencontohkan, seseorang yang memperoleh kelancaran rezeki tidak cukup hanya mengucapkan syukur, tetapi juga perlu menggunakan sebagian nikmat tersebut untuk bersedekah dan menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Amalan keempat yang ditekankan adalah membiasakan membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sebelum melakukan berbagai aktivitas.

Abuya Hasan Nur mengajak jamaah untuk mengawali pekerjaan, minum, menulis, berolahraga, maupun aktivitas lainnya dengan menyebut nama Allah SWT.

Menurutnya, membaca basmalah merupakan bentuk meminta izin dan memohon pertolongan kepada Allah SWT sebelum melakukan suatu aktivitas.

Ia juga menyampaikan adanya amalan yang diajarkan guru-guru dan ulama berupa memperbanyak bacaan basmalah serta shalawat sebagai ikhtiar memohon kelancaran pekerjaan dan keberkahan rezeki.

Amalan kelima adalah memperbanyak istighfar. Abuya Hasan Nur mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Karena itu, setiap Muslim hendaknya segera memohon ampun kepada Allah SWT ketika menyadari kekeliruannya.

Bacaan seperti “Astaghfirullahal 'adzim wa atubu ilaih” dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia secara khusus mengingatkan jamaah agar setelah selesai salat tidak langsung meninggalkan rangkaian dzikir, tetapi menyempatkan diri untuk beristighfar dan mengingat Allah SWT.

“Begitu salam, jangan langsung pergi. Diusahakan mengucap istighfar,” pesannya.

Mengakhiri kajian, Abuya Hasan Nur kembali menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah kemewahan dunia.

Menurutnya, seseorang yang memiliki banyak uang, usaha besar, atau jabatan tinggi belum tentu hidupnya tenteram. Kebahagiaan yang hakiki adalah kehidupan yang mendapatkan ketenangan di dunia sekaligus keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk membangun kebahagiaan melalui kedekatan kepada Allah SWT: memperbanyak dzikir, bertawakal ketika menghadapi ujian, mensyukuri nikmat, membiasakan basmalah, dan memperbanyak istighfar.

Lima amalan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan yang membawa ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan dunia hingga akhirat.