Detail Berita

Mengharap Syafaat Rasulullah dengan Memurnikan Kalimat Tauhid

Jamaah Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan tausiyah dari KH. Abdul Aziz Ahmad tentang pentingnya memperkuat tauhid, menjaga kekhusyukan salat, memperbanyak dzikir, serta berharap rahmat Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW, Senin (21/9/2026).

Kuliah Shubuh

Jamaah Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mendapatkan tausiyah dari KH. Abdul Aziz Ahmad tentang pentingnya memperkuat tauhid, menjaga kekhusyukan salat, memperbanyak dzikir, serta berharap rahmat Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW, Senin (21/9/2026).

Dalam kajiannya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengawali dengan mengingatkan jamaah tentang besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Ia berharap nikmat tersebut dapat terus dijaga hingga akhir hayat, sehingga seorang Muslim dapat mengucapkan kalimat la ilaha illallah sebagai penutup kehidupannya.

KH. Abdul Aziz Ahmad kemudian menjelaskan sebuah hadis ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat adalah mereka yang mengucapkan “la ilaha illallah” dengan ikhlas dan murni dari dalam hati.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak semestinya hanya mengandalkan amal ibadahnya. Sebab, dalam menjalankan ibadah, manusia masih menghadapi berbagai kelemahan, termasuk hawa nafsu dan gangguan pikiran yang dapat mengurangi kekhusyukan.

“Kadang kala amal ibadah kita tidak bisa menjadi andalan kita besok ketika menghadap pengadilan Allah SWT. Makanya kita butuh syafaat, butuh pertolongan,” jelasnya dalam kajian.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Aziz Ahmad juga mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas salat. Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sarana untuk memperoleh ketenangan dan cahaya dalam kehidupan.

Ia mengutip hadis “ash-shalatu nurun”, yang bermakna bahwa salat adalah cahaya. Salat, menurutnya, dapat menjadi cahaya bagi hati, pikiran, dan kehidupan manusia.

Ia mencontohkan Rasulullah SAW yang ketika menghadapi sesuatu yang menyusahkan akan segera melaksanakan salat. Karena itu, jamaah diajak menjadikan salat sebagai tempat kembali ketika menghadapi persoalan kehidupan.

“Kalau sudah masuk ke dalam pikiran, coba digunakan salat. Insya Allah susahnya hilang,” tuturnya.

KH. Abdul Aziz Ahmad juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim melalui kegiatan salat berjamaah, mengaji, dan berdzikir bersama.

Menurutnya, kebersamaan dalam kebaikan dapat menjadi kesaksian pada hari kiamat. Orang-orang yang selama di dunia sering bersama dalam kegiatan ibadah dan kebaikan dapat menjadi saksi atas amal baik saudaranya.

Karena itu, ia mengajak jamaah agar tidak meremehkan kegiatan keagamaan yang dilakukan bersama-sama. Mengaji bersama, berdzikir, salat berjamaah, serta menjaga silaturahmi merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai penting di sisi Allah SWT.

Selain ibadah, KH. Abdul Aziz Ahmad menekankan pentingnya silaturahmi. Menurutnya, bertemu dan menjaga hubungan dengan saudara serta sesama Muslim merupakan bagian dari ajaran Islam yang membawa keberkahan.

Ia menyampaikan bahwa silaturahmi memiliki keutamaan berupa dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur. Dalam pertemuan dengan sesama, seseorang juga dapat memperoleh kesempatan melakukan amal sederhana seperti tersenyum dan berjabat tangan.

“Silaturahmi jaminannya nomor satu, ditambahi rezeki, umurnya diperpanjang oleh Allah SWT,” pesannya.

Lebih lanjut, KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah memperbanyak dzikir, terutama kalimat la ilaha illallah. Menurutnya, kalimat tauhid tersebut memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam kehidupan seorang Muslim.

Ia mengingatkan bahwa kalimat la ilaha illallah hendaknya tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi benar-benar diyakini dan dimurnikan dari dalam hati. Keikhlasan menjadi bagian penting dalam mengamalkan kalimat tauhid tersebut.

“Holison itu murni. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, tetapi murni dari hati,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dzikir bukan sekadar amalan untuk kehidupan spiritual, tetapi merupakan bentuk mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan. Ketika seorang hamba mengingat Allah, Allah pun akan mengingat hamba tersebut.

Pada bagian akhir kajian, KH. Abdul Aziz Ahmad kembali menegaskan keterkaitan antara salat dan dzikir. Menurutnya, sejak takbir hingga salam, seorang Muslim senantiasa mengingat Allah SWT dalam rangkaian salatnya.

Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an agar salat ditegakkan untuk mengingat Allah. Karena itu, salat hendaknya dilakukan dengan kesadaran dan kekhusyukan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Kajian Shubuh tersebut menjadi pengingat bagi jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro agar terus memperkuat tauhid, meningkatkan kualitas salat, memperbanyak dzikir, menjaga silaturahmi, serta senantiasa mengharapkan rahmat Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW.

KH. Abdul Aziz Ahmad menutup kajiannya dengan doa agar jamaah senantiasa mendapatkan rahmat Allah SWT dan memperoleh husnul khatimah.