Meneladani Nabi Ibrahim dan Menjaga Kualitas Salat
Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah untuk meneladani keteguhan iman Nabi Ibrahim AS, memperkuat tauhid, serta menjaga kualitas salat sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, Sabtu, (26/9/2026).
Kajian
Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi tausiyah oleh KH. Ahmad
Maimun Syafi’i. Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah untuk meneladani
keteguhan iman Nabi Ibrahim AS, memperkuat tauhid, serta menjaga kualitas salat
sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, Sabtu, (26/9/2026).
KH.
Ahmad Maimun Syafi’i menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS mengandung banyak
pelajaran tentang keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim dikenal
sebagai sosok yang memiliki keteguhan dalam mempertahankan tauhid meskipun
menghadapi berbagai ujian dan tantangan.
Menurutnya,
keteladanan Nabi Ibrahim AS tidak cukup hanya diketahui melalui cerita, tetapi
perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim dituntut memiliki
keyakinan yang kuat kepada Allah SWT dan tidak mudah goyah ketika menghadapi
persoalan kehidupan.
Dalam
kajian tersebut, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengingatkan jamaah tentang
perjuangan Nabi Ibrahim AS ketika berhadapan dengan masyarakat yang menyekutukan
Allah SWT.
Nabi
Ibrahim AS mengajarkan bahwa hanya Allah SWT yang layak disembah. Keteguhan
tersebut menjadi contoh bagi umat Islam agar senantiasa menjaga kemurnian
tauhid dan tidak menggantungkan hati kepada selain Allah.
Ia
juga mengajak jamaah untuk mengevaluasi kehidupan masing-masing. Menurutnya,
ujian kehidupan merupakan bagian dari sunnatullah. Karena itu, seorang Muslim
perlu menghadapi ujian dengan kesabaran, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.
KH.
Ahmad Maimun Syafi’i juga menekankan keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam
menjalankan perintah Allah SWT.
Menurutnya,
Nabi Ibrahim merupakan contoh seorang hamba yang menempatkan ketaatan kepada
Allah di atas kepentingan pribadi. Sikap tersebut terlihat dalam berbagai
peristiwa kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Keteladanan
tersebut, lanjutnya, relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga masa
kini. Orang tua perlu menanamkan keimanan kepada anak-anak sejak dini,
sekaligus memberikan contoh nyata dalam menjalankan ibadah dan akhlak.
Selain
membahas keteladanan Nabi Ibrahim AS, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengingatkan
jamaah mengenai pentingnya menjaga salat.
Menurutnya,
salat bukan sekadar kewajiban yang dilaksanakan untuk menggugurkan tanggungan,
tetapi merupakan bentuk penghambaan dan komunikasi seorang hamba dengan Allah
SWT.
Karena
itu, salat perlu dijaga, baik dari sisi waktu maupun kualitas pelaksanaannya.
Jamaah diajak untuk berusaha melaksanakan salat dengan khusyuk dan memahami
bacaan-bacaan yang dibaca dalam salat.
Dalam
kajian tersebut, KH. Ahmad Maimun Syafi’i juga mengingatkan bahwa ibadah harus
memberikan pengaruh terhadap perilaku seseorang.
Menurutnya,
semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, seharusnya semakin baik pula
akhlaknya kepada sesama. Salat, dzikir, dan berbagai ibadah lainnya diharapkan
mampu membentuk pribadi yang lebih sabar, rendah hati, jujur, dan mampu menjaga
hubungan baik dengan orang lain.
Karena
itu, ukuran keberhasilan ibadah tidak hanya terlihat dari banyaknya amalan yang
dilakukan, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan
sehari-hari.
KH.
Ahmad Maimun Syafi’i juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kehidupan
keluarga Nabi Ibrahim AS.
Menurutnya,
keluarga merupakan tempat pertama untuk menanamkan nilai tauhid, ketaatan, dan
akhlak. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak agar mengenal
Allah SWT dan terbiasa menjalankan perintah-Nya.
Keteladanan
Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya menunjukkan bahwa pendidikan agama
membutuhkan kesabaran dan keteladanan. Nasihat kepada anak akan lebih kuat
apabila disertai contoh nyata dari orang tua.
Mengakhiri
kajiannya, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengajak jamaah untuk menjadikan kisah Nabi
Ibrahim AS sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai persoalan
kehidupan.
Ketika
mendapatkan ujian, seorang Muslim hendaknya tidak mudah berputus asa.
Sebaliknya, ujian perlu dihadapi dengan memperkuat iman, memperbanyak doa,
menjaga salat, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Kajian Shubuh tersebut menjadi pengingat bagi jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS bukan sekadar kisah sejarah, melainkan tuntunan untuk memperkuat tauhid, meningkatkan ketaatan, menjaga salat, serta membangun keluarga yang beriman dan berakhlak.
