Detail Berita

Memahami Ilmu dengan Bijak

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. Dalam kajiannya, ia membahas sejumlah hadis dan kisah para nabi serta sahabat yang mengandung pelajaran tentang tauhid, istighfar, syafaat Rasulullah SAW, musyawarah, serta pentingnya menyampaikan ilmu dengan metode yang tepat, Sabtu, (26/9/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. Dalam kajiannya, ia membahas sejumlah hadis dan kisah para nabi serta sahabat yang mengandung pelajaran tentang tauhid, istighfar, syafaat Rasulullah SAW, musyawarah, serta pentingnya menyampaikan ilmu dengan metode yang tepat, Sabtu, (26/9/2026).

Salah satu hadis yang menjadi pembahasan adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa manusia melakukan dosa dan kemudian memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memberikan ampunan kepada hamba yang bertaubat dan memohon ampun.

Menurut Ustadz Ahmad Rifki, manusia pada dasarnya tidak luput dari kesalahan. Karena itu, istighfar dan memohon ampun kepada Allah menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan manusia yang melakukan dosa dan kemudian bertaubat merupakan bagian dari ketetapan Allah. Namun, hal tersebut tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran untuk melakukan maksiat.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Ahmad Rifki mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan dosa dan kemaksiatan.

Menurutnya, seseorang yang terbiasa menganggap ringan sebuah kemaksiatan dapat terdorong melakukan kemaksiatan lainnya. Jika terus dibiarkan, hal tersebut dapat membawa seseorang kepada kondisi yang buruk, termasuk meninggal dalam keadaan suul khatimah.

Karena itu, meskipun Allah SWT Maha Pengampun, seorang Muslim tetap harus berusaha menjauhi maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Materi berikutnya berkaitan dengan musyawarah. Ustadz Ahmad Rifki menceritakan kebiasaan Rasulullah SAW yang mengajak Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk bermusyawarah ketika menghadapi persoalan tertentu.

Menurutnya, meskipun Rasulullah SAW merupakan manusia yang mendapatkan petunjuk Allah, beliau tetap memberikan contoh pentingnya bermusyawarah. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak merasa cukup dengan pendapat sendiri ketika mengambil keputusan.

Namun, ia mengingatkan bahwa orang yang diajak bermusyawarah juga harus memiliki kemampuan memberikan pandangan yang baik. Musyawarah perlu dilakukan dengan orang yang memiliki pengetahuan dan pertimbangan yang dapat membantu menghasilkan keputusan yang tepat.

Ustadz Ahmad Rifki kemudian membahas hadis mengenai keutamaan orang yang bersaksi “La ilaha illallah” dengan keyakinan yang kuat di dalam hati.

Dalam kisah tersebut, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mendapatkan pesan Rasulullah SAW untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan hati yang yakin.

Ia menjelaskan bahwa kalimat tauhid tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Keyakinan tersebut harus benar-benar tertanam dalam hati dan dibawa hingga akhir kehidupan.

Namun, ia kembali mengingatkan bahwa pesan tentang luasnya ampunan Allah tidak boleh membuat seseorang meremehkan dosa.

Bagian lain yang menjadi perhatian dalam kajian adalah kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya.

Ustadz Ahmad Rifki menjelaskan kisah ketika Rasulullah SAW menangis karena memikirkan keselamatan umatnya. Dalam penjelasan yang disampaikan, Rasulullah SAW sangat menginginkan umatnya memperoleh keselamatan dan memohon agar Allah SWT memberikan pertolongan kepada mereka.

Ia kemudian mengaitkannya dengan syafaat Rasulullah SAW. Dalam transkrip kajian dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mendapatkan hak untuk memberikan syafaat kepada umatnya, termasuk kepada orang-orang yang memiliki dosa besar.

Menurutnya, pembahasan tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya dan pentingnya seorang Muslim menjaga hubungan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Ustadz Ahmad Rifki juga membahas cara Rasulullah SAW dalam menyampaikan ilmu kepada para sahabat.

Menurutnya, Rasulullah SAW menggunakan berbagai metode dalam mengajar. Terkadang beliau menyampaikan ilmu melalui perumpamaan, pertanyaan, penjelasan langsung, maupun gambaran tertentu.

Namun, salah satu metode yang sangat penting adalah uswah, yakni memberikan contoh secara langsung.

“Metode Rasulullah yang paling luar biasa itu metode uswah, metode memberi contoh,” jelasnya.

Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya berbicara tentang sedekah, tetapi juga memberikan contoh dalam bersedekah. Demikian pula dalam ibadah seperti tahajud, Rasulullah SAW memberikan keteladanan melalui praktik secara langsung.

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki mengingatkan para guru dan orang yang menyampaikan ilmu agar memperhatikan kondisi orang yang menerima ilmu.

Menurutnya, ilmu memang dapat menjadi obat, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi seseorang. Sesuatu yang bermanfaat bagi satu orang belum tentu memberikan dampak yang sama kepada orang lain.

Karena itu, guru perlu memahami karakter, kemampuan, dan kebutuhan murid sebelum menyampaikan suatu materi.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi masyarakat saat ini berbeda dengan masa lalu. Perkembangan zaman dan kemudahan akses informasi membuat penyampaian ilmu membutuhkan kehati-hatian dan kemampuan memilih materi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Kajian rutin Riyadhus Sholihin tersebut ditutup dengan pesan agar ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi memberikan manfaat dalam kehidupan.

Melalui pembahasan hadis dan kisah para nabi serta sahabat, Ustadz Ahmad Rifki mengajak jamaah untuk memperkuat tauhid, tidak meremehkan kemaksiatan, memperbanyak istighfar, meneladani kasih sayang Rasulullah SAW, serta menerapkan ilmu dengan cara yang bijaksana.

Kajian tersebut sekaligus mengingatkan bahwa ilmu membutuhkan pemahaman, keteladanan, dan kebijaksanaan dalam mengamalkannya, sehingga dapat benar-benar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.