Ketika Ujian Menjadi Kemuliaan
Kajian rutin setelah pelaksanaan Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada pagi hari ini disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi'i dengan pembahasan mendalam mengenai tafsir Al-Qur’an Surat Maryam ayat 16 hingga ayat 26 yang mengisahkan perjuangan dan kemuliaan Sayyidah Maryam saat mengandung hingga melahirkan Nabi Isa AS, Sabtu, (13/6/2026).
Kajian
rutin setelah pelaksanaan Sholat Subuh di Masjid
Agung Darussalam Bojonegoro pada pagi hari ini disampaikan oleh KH. Ahmad Maimun Syafi'i dengan
pembahasan mendalam mengenai tafsir Al-Qur’an Surat Maryam ayat 16 hingga ayat
26 yang mengisahkan perjuangan dan kemuliaan Sayyidah Maryam saat mengandung
hingga melahirkan Nabi Isa AS, Sabtu, (13/6/2026).
Dalam pembukaan kajian, KH. Ahmad
Maimun Syafi’i mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah
SWT atas kesempatan menuntut ilmu agama melalui majelis ilmu yang penuh
keberkahan. Beliau kemudian melanjutkan pembahasan tafsir Surat Maryam yang
menjadi rangkaian kajian tafsir Al-Qur’an rutin di masjid tersebut.
Pada kesempatan itu, beliau
menjelaskan tentang fase-fase berat yang dialami Sayyidah Maryam ketika
menerima amanah besar dari Allah SWT untuk mengandung Nabi Isa AS tanpa melalui
proses sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam ayat yang dikaji, dijelaskan
bagaimana rasa sakit menjelang persalinan membuat Maryam bersandar di pangkal
pohon kurma, kemudian Allah memberikan pertolongan berupa buah kurma matang
sebagai makanan untuk memulihkan kekuatannya.
KH. Ahmad Maimun Syafi’i
menerangkan bahwa perintah Allah kepada Maryam untuk memakan kurma dan
menenangkan diri merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Menurut
beliau, ketenangan hati merupakan nikmat besar yang diberikan Allah, terutama
ketika seseorang sedang menghadapi ujian hidup yang berat. Jamaah diajak
memahami bahwa ketentraman hati merupakan bagian dari rahmat Allah yang harus
disyukuri.
Lebih lanjut, beliau membahas
perintah Allah kepada Maryam untuk berpuasa bicara atau tidak menjawab
pertanyaan manusia ketika menghadapi tuduhan dan pertanyaan masyarakat mengenai
kelahiran Nabi Isa AS. Sikap diam tersebut, menurut beliau, bukan tanda
kelemahan, melainkan bagian dari rencana Allah agar Nabi Isa sendiri yang
menjelaskan kebenaran melalui mukjizat berbicara sejak masih bayi.
Dalam penjelasannya, KH. Ahmad
Maimun Syafi’i juga menekankan bahwa kisah kelahiran Nabi Isa menjadi bukti
nyata kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas oleh hukum sebab-akibat yang
dipahami manusia. Sebagaimana Nabi Adam AS diciptakan tanpa ayah dan ibu, Nabi
Isa AS dilahirkan tanpa kehadiran seorang ayah. Hal ini menjadi tanda kebesaran
Allah sekaligus mengajarkan manusia agar tidak membatasi kekuasaan Sang
Pencipta dengan logika semata.
Beliau juga menguraikan bagaimana
masyarakat pada masa itu mempertanyakan keadaan Sayyidah Maryam yang dikenal
sebagai perempuan ahli ibadah dan berasal dari keluarga mulia, namun tiba-tiba
hadir membawa seorang bayi. Ketika masyarakat menuduh dan mempertanyakan
kehormatannya, Maryam hanya memberikan isyarat kepada bayi Nabi Isa AS, dan
atas izin Allah, Nabi Isa pun berbicara menjelaskan kebenaran serta membela
kehormatan ibundanya.
Menutup kajian, KH. Ahmad Maimun
Syafi’i mengajak seluruh jamaah untuk mengambil hikmah dari kisah tersebut,
khususnya tentang pentingnya menjaga keimanan, meyakini sepenuhnya kekuasaan
Allah SWT, serta meneladani kesabaran Sayyidah Maryam dalam menghadapi ujian
hidup yang berat. Kajian subuh pun ditutup dengan doa bersama agar seluruh
jamaah senantiasa diberi tambahan iman, ilmu yang bermanfaat, dan keberkahan
hidup oleh Allah SWT.
Kegiatan kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini merupakan agenda rutin yang terus menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperdalam pemahaman agama serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat.
