Detail Berita

Pentingnya Memilih Lingkungan Pertemanan yang Baik

Kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, pembahasan berfokus pada bab tentang mengunjungi orang-orang saleh, duduk bersama mereka, dan pentingnya bersahabat dengan orang-orang baik., Sabtu (13/6/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, pembahasan berfokus pada bab tentang mengunjungi orang-orang saleh, duduk bersama mereka, dan pentingnya bersahabat dengan orang-orang baik., Sabtu (13/6/2026).

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan sejumlah hadis Rasulullah ? yang menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Salah satu hadis yang dibahas adalah sabda Nabi Muhammad ?:

"Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan jangan sampai makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertakwa."

Menurut beliau, hadis ini bukan berarti melarang umat Islam berinteraksi atau bermuamalah dengan non-Muslim maupun orang yang belum baik agamanya. Rasulullah ? sendiri pernah melakukan transaksi, pinjam meminjam, hingga bekerja sama dengan orang non-Muslim.

Namun yang ditekankan adalah larangan menjadikan seseorang yang buruk akhlak atau jauh dari nilai keimanan sebagai teman dekat yang dapat memengaruhi kepribadian dan perilaku seseorang. Kedekatan emosional yang salah, kata beliau, berpotensi menyeret seseorang kepada keburukan.

Cinta yang Sejati Adalah Mengikuti yang Dicintai

Dalam kajian tersebut, Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga membahas hadis terkenal Rasulullah ?:

"Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai."

Beliau menjelaskan bahwa hadis ini sering dipahami sebagai jaminan seseorang akan dikumpulkan bersama orang saleh di akhirat hanya karena rasa cinta. Namun, beliau menambahkan adanya pemahaman lain yang lebih mendalam.

Menurut beliau, cinta yang sejati bukan hanya sekadar rasa suka, tetapi kecintaan yang membuat seseorang berusaha meniru dan mengikuti orang yang dicintainya. Jika seseorang benar-benar mencintai Rasulullah ?, maka akhlak, ibadah, perilaku, hingga cara hidupnya akan berusaha meneladani Rasulullah.

“Kalau seseorang benar-benar mencintai, maka ia akan berusaha menyerupai yang dicintai,” terang beliau di hadapan jamaah.

Mengapa Manusia Bisa Saling Menyukai?

Mengutip penjelasan Abu Hamid Al-Ghazali, Ustadz Ahmad Rifki Azmi memaparkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan mencintai sesuatu karena beberapa sebab.

Pertama adalah keindahan (hubbul ????). Secara naluri manusia cenderung menyukai sesuatu yang indah, baik yang ditangkap mata, telinga, penciuman, maupun rasa.

Kedua adalah kebaikan (hubbul ihsan). Hati manusia secara alami tertarik kepada orang-orang yang berbuat baik, adil, dan memiliki akhlak mulia.

Ketiga adalah adanya kesesuaian ruh atau kecocokan batin, sebagaimana hadis Rasulullah ? yang menyebutkan bahwa ruh-ruh manusia saling mengenal satu sama lain. Karena itu terkadang seseorang merasa nyaman dengan orang lain meski baru pertama kali bertemu.

Kisah Uwais Al-Qarni: Kemuliaan Tidak Selalu Diukur Popularitas

Pada bagian akhir kajian, dibahas pula kisah Uwais al-Qarani, seorang tabi’in yang sangat mulia di sisi Allah meskipun tidak terkenal di kalangan manusia.

Uwais dikenal sebagai sosok yang sangat berbakti kepada ibunya. Karena pengabdiannya tersebut, ia bahkan tidak sempat bertemu langsung dengan Rasulullah ?. Namun Rasulullah justru memerintahkan para sahabat, termasuk Umar ibn al-Khattab, untuk meminta doa kepada Uwais.

Dari kisah ini, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari popularitas atau terkenal tidaknya seseorang di mata manusia.

“Bisa jadi orang yang tidak dikenal manusia justru sangat dikenal oleh penduduk langit,” ungkap beliau.

Menuntut Ilmu dan Berkumpul dengan Orang Saleh

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kondisi spiritual yang berbeda. Bagi orang yang masih belajar agama, yang terbaik adalah memperbanyak berkumpul dengan orang-orang saleh, ulama, guru, dan majelis ilmu.

Tidak semua orang dapat meniru kehidupan menyendiri seperti para wali atau orang-orang saleh tertentu. Seseorang yang masih membutuhkan ilmu justru harus aktif belajar, menghadiri pengajian, dan mendekat kepada lingkungan yang baik.

Kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini kembali menjadi pengingat penting bagi jamaah bahwa lingkungan, pertemanan, dan kecintaan seseorang akan sangat menentukan arah hidup dan kualitas keimanannya.


“Setiap orang memiliki maqom masing-masing. Maka tempatkan diri sesuai kebutuhan ilmu dan perjalanan menuju Allah.”Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag.