Hakikat Pujian dan Penjagaan Allah
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin setelah salat Subuh berjamaah yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi dengan melanjutkan pembahasan kitab Al-Hikam karya ulama sufi ternama, Ibnu Athaillah As-Sakandari, Jum’at (12/6/2026).
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin
setelah salat Subuh berjamaah yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Dalam
kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Ustadz
Ahmad Rifki Azmi dengan melanjutkan pembahasan kitab Al-Hikam
karya ulama sufi ternama, Ibnu Athaillah
As-Sakandari, Jum’at (12/6/2026).
Dalam kajiannya, Ustadz Ahmad Rifki
Azmi mengupas salah satu hikmah penting dalam Al-Hikam yang membahas
tentang bagaimana seorang hamba seharusnya menyikapi pujian dari sesama
manusia.
Beliau menjelaskan bahwa ketika
seseorang dipuji oleh orang lain atas kebaikan, akhlak, atau amal ibadahnya,
sesungguhnya pujian itu bukan semata-mata karena dirinya sendiri. Menurut
beliau, hal tersebut terjadi karena Allah SWT menutupi berbagai kekurangan,
aib, dan dosa seorang hamba sehingga manusia lain hanya melihat sisi baiknya
saja.
“Ketika ada orang yang memuji kita,
jangan langsung merasa bangga. Hakikatnya, pujian itu terjadi karena Allah
sedang menjaga kita dan menutupi kekurangan-kekurangan kita,” jelas Ustadz
Ahmad Rifki Azmi di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip perkataan
dalam kitab Al-Hikam
yang menjelaskan bahwa seseorang yang dipuji manusia hendaknya justru bersyukur
kepada Allah, sebab Allah-lah yang telah menutupi keburukan dan kelemahan
dirinya.
Dalam perspektif tasawuf, lanjut
beliau, kesadaran semacam ini akan melahirkan sikap syuhudullah
atau memandang segala sesuatu sebagai bentuk campur tangan Allah semata. Dengan
begitu, seseorang akan terhindar dari penyakit hati seperti ujub (bangga diri),
sombong, dan merasa dirinya paling baik.
“Kalau manusia memuji kita, jangan
merasa itu karena hebatnya diri kita. Bisa jadi Allah sedang menutupi keburukan
kita sehingga orang lain tidak mengetahui kekurangan-kekurangan yang kita
miliki,” terangnya.
Beliau juga menyinggung doa yang
pernah dipanjatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq,
yang memohon kepada Allah agar dijadikan lebih baik daripada prasangka baik
orang lain terhadap dirinya.
Selain itu, jamaah diingatkan untuk
terus bersyukur atas penjagaan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya,
manusia sejatinya sangat lemah dan berpotensi terjerumus dalam berbagai
kemaksiatan apabila tidak mendapat perlindungan dari Allah SWT.
“Kalau bukan karena rahmat dan
penjagaan Allah, manusia bisa saja terjerumus pada dosa, kesalahan, bahkan
mengikuti godaan setan,” ujarnya.
Di akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki
Azmi mengajak seluruh jamaah untuk selalu rendah hati, tidak terlena oleh
pujian manusia, serta menyadari bahwa segala kebaikan yang ada pada diri
seseorang sejatinya adalah anugerah dan penjagaan dari Allah SWT.
Kajian Subuh rutin di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro ini menjadi salah satu sarana pembinaan spiritual
masyarakat, khususnya dalam memperdalam pemahaman keislaman melalui kajian
kitab-kitab klasik karya para ulama terdahulu.
Acara ditutup dengan doa bersama dan pembacaan shalawat, diikuti seluruh jamaah yang hadir dengan penuh khidmat.
