Detail Berita

Jangan Tunggu Nikmat Dicabut Baru Bersyukur

Kajian bulanan Kitab Ayyuhal Walad karya ulama besar Abu Hamid Al-Ghazali kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian yang dihadiri jamaah dari berbagai kalangan ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A, dengan pembahasan mendalam tentang pentingnya rasa syukur, menjaga hati, serta memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bernilai ibadah, Sabtu (13/6/2026).

Kajian Kitab Ayyuhal Walad

Kajian bulanan Kitab Ayyuhal Walad karya ulama besar Abu Hamid Al-Ghazali kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian yang dihadiri jamaah dari berbagai kalangan ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A, dengan pembahasan mendalam tentang pentingnya rasa syukur, menjaga hati, serta memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bernilai ibadah, Sabtu (13/6/2026).

Dalam pembukaan kajian, Dr. Yogi mengingatkan bahwa manusia sering kali tidak menyadari besarnya nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, salah satu bentuk kurangnya rasa syukur adalah ketika seseorang memiliki berbagai kenikmatan duniawi namun tidak mampu merasakan kebahagiaan dari nikmat tersebut.

“Kadang kita makan tetapi tidak merasakan nikmatnya makanan. Punya keluarga tetapi tidak merasakan kenyamanan bersama keluarga. Ini bisa jadi tanda kurangnya rasa syukur terhadap nikmat yang Allah berikan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa nikmat terbesar yang wajib dijaga adalah nikmat iman dan Islam, sebab keduanya merupakan anugerah yang tidak ada gantinya. Salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat tersebut adalah dengan terus belajar agama dan menghadiri majelis ilmu.

Dalam kesempatan itu, Dr. Yogi menyinggung kisah seorang ulama besar, Ibnu Aqil, yang dikenal sangat menghargai waktu. Bahkan di usia lanjut, semangat beliau dalam menuntut ilmu disebut jauh lebih besar dibanding ketika masih muda.

“Tidak ada sesuatu yang paling berharga di dunia selain waktu yang bermanfaat. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali,” jelasnya di hadapan jamaah.

Prioritas dalam Menuntut Ilmu

Memasuki inti pembahasan Kitab Ayyuhal Walad, Dr. Yogi menjelaskan pesan Al-Ghazali mengenai pentingnya menentukan prioritas dalam belajar. Dalam kitab tersebut dijelaskan berbagai cabang ilmu seperti ilmu kalam, astronomi, kedokteran, sastra, hingga tata bahasa Arab.

Namun, menurut beliau, Imam Al-Ghazali tidak melarang mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Yang ditekankan adalah jangan sampai seseorang menghabiskan umur pada perdebatan atau ilmu tertentu, sementara ada hal yang jauh lebih penting, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Semua ilmu itu baik, tetapi harus ada prioritas. Jangan sampai habis umur untuk perdebatan, sementara persiapan menuju akhirat justru diabaikan,” terangnya.

Menjaga Hati Lebih Penting dari Menjaga Penampilan

Dalam kajian tersebut, Dr. Yogi juga mengutip pesan yang dinisbatkan kepada Nabi Isa mengenai pertanyaan yang akan diajukan kepada manusia ketika meninggal dunia.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bagaimana manusia sering kali terlalu sibuk menjaga citra di hadapan sesama manusia, namun lupa membersihkan hati di hadapan Allah SWT.

“Kita sering memperindah penampilan agar dipandang baik oleh manusia, tetapi lupa membersihkan hati kita. Padahal Allah tidak melihat bentuk fisik kita, melainkan hati kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa penyakit hati seperti iri, dengki, dan hasad dapat merusak kehidupan seseorang. Dalam penjelasannya, ia mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib tentang bahaya keserakahan dan ketidaksabaran dalam mencari rezeki.

Bersyukur Tidak Harus Membandingkan dengan Kekurangan Orang Lain

Pesan lain yang mendapat perhatian jamaah adalah soal syukur. Dr. Yogi menjelaskan bahwa tingkat syukur terendah adalah ketika seseorang baru merasa bersyukur setelah membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih susah.

“Jangan sampai kita bersyukur dengan mengatakan, Alhamdulillah saya sehat, orang lain sakit. Itu justru bisa merendahkan orang lain. Syukur terbaik adalah melihat nikmat kecil dalam hidup kita sendiri,” katanya.

Ia kemudian menganjurkan jamaah untuk membiasakan membuat “jurnal syukur”, yakni mencatat hal-hal kecil yang patut disyukuri setiap hari, mulai dari kesehatan, kendaraan, keluarga, hingga kesempatan menghadiri majelis ilmu.

Ilmu Tanpa Amal Adalah Kegilaan

Di bagian akhir kajian, Dr. Yogi membahas salah satu pesan utama Kitab Ayyuhal Walad, yakni bahwa ilmu yang tidak diamalkan tidak akan memberi manfaat.

Menurutnya, seseorang yang memiliki ilmu namun tidak menjalankannya sama seperti orang yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja mengabaikannya.

“Imam Al-Ghazali mengatakan, ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Maka belajar agama harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Kajian bulanan ditutup dengan sesi tanya jawab bersama jamaah dan doa bersama. Melalui pengajian rutin ini, diharapkan masyarakat Bojonegoro semakin termotivasi untuk memperbanyak rasa syukur, menjaga hati, serta memanfaatkan setiap waktu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.