Detail Berita

Hakikat Keyakinan, Rezeki, dan Tauhid Kepada Allah SWT

Kajian rutin setelah sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali dipenuhi jamaah. Tausiyah kali ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza yang melanjutkan pembahasan kitab Qutul Qulub karya Syekh Abu Thalib Al-Makki tentang hakikat keyakinan, rezeki, dan tauhid kepada Allah SWT, Rabu (10/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah sholat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali dipenuhi jamaah. Tausiyah kali ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza yang melanjutkan pembahasan kitab Qutul Qulub karya Syekh Abu Thalib Al-Makki tentang hakikat keyakinan, rezeki, dan tauhid kepada Allah SWT, Rabu (10/6/2026).

Dalam tausiyahnya, Dr. Yogi menjelaskan bahwa salah satu tanda kesempurnaan keyakinan adalah tidak berlebihan memuji manusia atas nikmat yang diterima, serta tidak mencela manusia ketika tidak mendapatkan sesuatu. Menurutnya, hakikat pemberi rezeki hanyalah Allah SWT, sedangkan manusia hanyalah perantara atau sarana datangnya rezeki tersebut.

Ia mengibaratkan manusia seperti kurir pembawa paket. Ketika seseorang menerima paket, maka rasa syukur sejatinya ditujukan kepada pengirim paket, sementara pembawa paket tetap dihormati dan diucapkan terima kasih sebagai bagian dari adab dalam Islam.

Dr. Yogi menegaskan bahwa Islam tetap mengajarkan umatnya untuk berterima kasih kepada sesama manusia. Namun, pujian tertinggi tetap hanya milik Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa ucapan terima kasih merupakan etika sosial, sedangkan pujian dalam hati hanya layak ditujukan kepada Allah sebagai sumber segala nikmat.

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak memahami bahwa rezeki tidak ditentukan oleh ambisi, keserakahan, ataupun dihalangi manusia. Rezeki memiliki “magnet” dan jalannya sendiri atas kehendak Allah SWT. Karena itu, manusia diperintahkan untuk berikhtiar tanpa menggantungkan hati sepenuhnya kepada sesama manusia.

Untuk memperjelas makna tersebut, Dr. Yogi menyampaikan kisah Sayyidina Ali yang kehilangan pelana kudanya akibat dicuri seseorang. Pelaku pencurian ternyata tetap hanya memperoleh dua dirham, jumlah yang sebenarnya akan diberikan secara halal oleh Sayyidina Ali apabila ia bersabar. Kisah itu menjadi pelajaran bahwa rezeki tidak akan tertukar, namun cara mendapatkannya menentukan keberkahan.

Selain itu, ia juga mengangkat kisah Nabi Sulaiman yang melihat seekor semut dibawa kodok ke dasar laut untuk memberi makan seekor cacing buta di dalam batu besar. Kisah tersebut menggambarkan bahwa Allah SWT menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka oleh manusia.

Menurut Dr. Yogi, ketenangan hati lahir dari sikap ridha dan yakin kepada Allah. Sebaliknya, keraguan, kemarahan, dan prasangka buruk kepada Allah hanya akan melahirkan kegelisahan dan kesusahan dalam hidup.

Di akhir kajian, ia mengutip perkataan Ibnu Mas’ud bahwa keyakinan merupakan inti dari seluruh keimanan. Semakin kuat keyakinan seseorang kepada Allah SWT, maka semakin sempurna pula tingkat keimanannya. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama dan istighfar yang diikuti seluruh jamaah dengan khidmat.