Detail Berita

Peran Orang Tua dan Pentingnya Tawadhu dalam Ibadah

Suasana khusyuk menyelimuti kegiatan kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Tausiyah kali ini disampaikan oleh Ustadz Hasan Nur yang mengangkat tema tentang tanggung jawab keluarga dalam ibadah serta pentingnya kerendahan hati dalam beramal, Kamis (30/4/2026).

Kuliah Shubuh

Suasana khusyuk menyelimuti kegiatan kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Tausiyah kali ini disampaikan oleh Ustadz Hasan Nur yang mengangkat tema tentang tanggung jawab keluarga dalam ibadah serta pentingnya kerendahan hati dalam beramal, Kamis (30/4/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan kesempatan melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Ia juga mendoakan agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, kelancaran rezeki yang halal, serta umur panjang yang penuh keberkahan.

Selain itu, ia turut mengingatkan momentum musim haji yang akan datang, seraya mendoakan calon jamaah agar diberi kelancaran dan memperoleh predikat haji mabrur. Ia juga berharap masyarakat yang belum berkesempatan dapat segera dipanggil untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah.

Dalam inti tausiyahnya, Ustadz Hasan menyoroti peran penting orang tua dalam membentuk kebiasaan ibadah anak, khususnya shalat. Ia menegaskan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk membimbing dan mengawasi anak agar melaksanakan shalat sejak dini.

“Seringkali orang tua marah ketika anak tidak sekolah atau tidak les, tetapi justru abai ketika anak meninggalkan shalat. Padahal ini tanggung jawab besar,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, anak sudah harus diperintahkan shalat sejak usia tujuh tahun sebagai bentuk pendidikan dini. Ketegasan orang tua, menurutnya, menjadi kunci agar anak terbiasa menjalankan kewajiban agama.

Ustadz Hasan juga menekankan bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk tidak berlebihan dalam mengkhawatirkan urusan dunia, selama tetap menjalankan perintah Allah.

“Kalau kita benar-benar menjaga ibadah, terutama dalam keluarga, maka rezeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” jelasnya.

Ia memberikan contoh fenomena di masyarakat, di mana orang dengan kondisi ekonomi sederhana tetap mampu menunaikan ibadah haji karena kemudahan rezeki yang diberikan Allah.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Islam tidak merasa bangga atau sombong dengan amal ibadah yang dilakukan. Menurutnya, banyak orang yang rajin beribadah namun terjebak dalam perasaan paling baik.

“Ibadah yang banyak bukan jaminan masuk surga. Semua itu karena rahmat Allah, bukan semata-mata amal kita,” tegasnya.

Ia juga mengisahkan bahwa bahkan Nabi Muhammad SAW pun menegaskan bahwa seseorang masuk surga karena rahmat Allah, bukan karena amal semata. Oleh sebab itu, sikap rendah hati dan tidak merasa paling benar menjadi hal yang sangat penting.

Di akhir tausiyah, Ustadz Hasan mengajak jamaah untuk segera bertaubat tanpa menunda-nunda. Ia menekankan bahwa kesempatan hidup tidak selalu panjang, sehingga setiap orang perlu memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, zikir, dan sedekah.

“Jangan menunggu waktu tertentu untuk bertaubat. Selagi masih diberi kesempatan hidup, perbanyak amal saleh,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak sedekah, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, dengan niat ikhlas karena Allah.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa mendapatkan hidayah, keberkahan hidup, serta diampuni segala dosa oleh Allah SWT.

Kegiatan kajian Shubuh ini terus menjadi sarana pembinaan spiritual masyarakat sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pendidikan keagamaan di Bojonegoro.