Dzikir, Adab, dan Ilmu dalam Beribadah
Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Kali ini, kajian diisi oleh Ustadz Kholidin yang menyampaikan pentingnya dzikir, adab dalam beribadah, serta pemahaman ilmu agama yang benar bagi umat Islam, Ahad (19/4/2026).
Kajian
rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Kali ini,
kajian diisi oleh Ustadz Kholidin yang
menyampaikan pentingnya dzikir, adab dalam beribadah, serta pemahaman ilmu agama
yang benar bagi umat Islam, Ahad (19/4/2026).
Dalam pembukaannya, Ustadz Kholidin
mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT serta memperbanyak
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menekankan bahwa hati yang terbuka
terhadap nasihat agama merupakan kunci utama dalam meningkatkan kualitas
keimanan.
Kajian kemudian berlanjut pada
pembahasan tentang dzikir, yang menurutnya menjadi amalan utama yang dianjurkan
dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa para ulama sepakat dzikir dapat dilakukan
baik dengan hati maupun lisan, bahkan dalam kondisi seseorang sedang berhadas
kecil maupun besar. Dzikir yang dimaksud meliputi bacaan tasbih, tahmid,
tahlil, takbir, hingga shalawat kepada Nabi.
“Dzikir bukan hanya mendatangkan
ampunan dari Allah, tetapi juga ganjaran pahala yang besar,” ujarnya di hadapan
jamaah.
Lebih lanjut, ia mengutip pendapat
ulama yang menjelaskan bahwa seseorang disebut sebagai ahli dzikir apabila ia
rutin membaca dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, khususnya
pada waktu pagi dan petang. Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan waktu
setelah Subuh dengan amalan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, dan tafakur atau
merenungi ciptaan Allah.
Dalam penjelasannya, Ustadz
Kholidin turut menguraikan pembagian waktu yang dianjurkan oleh para ulama
salaf setelah Subuh, yakni untuk dzikir, membaca Al-Qur’an, serta berpikir
(tafakur) tentang kebesaran Allah. Hal ini dinilai sebagai cara efektif untuk
membangun kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.
Namun demikian, ia juga
mengingatkan adanya batasan dalam beribadah, khususnya terkait membaca
Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak diperbolehkan bagi orang
yang sedang berhadas besar, seperti junub atau haid, meskipun dzikir dan doa
tetap diperbolehkan.
“Ini penting dipahami agar ibadah
kita tidak hanya semangat, tetapi juga sesuai dengan aturan syariat,” jelasnya.
Selain itu, ia menyinggung fenomena
di masyarakat seperti kegiatan tahlilan atau pengajian yang diikuti oleh orang
yang sedang berhadas besar. Dalam kondisi tersebut, ia menyarankan agar tetap
mengikuti kegiatan, namun tidak membaca ayat Al-Qur’an secara langsung.
Di akhir kajian, Ustadz Kholidin
menegaskan bahwa ilmu agama sangat penting sebagai landasan dalam beribadah.
Tanpa ilmu, seseorang berpotensi melakukan kesalahan meskipun niatnya baik.
Kajian Subuh ini ditutup dengan doa bersama, dengan harapan para jamaah dapat mengamalkan ilmu yang telah disampaikan serta terus meningkatkan kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
