Pentingnya Menjaga Iman dan Shalat
Suasana khidmat menyelimuti kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Aziz Ahmad menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga keimanan, memperbanyak ibadah, serta menjauhi perbuatan maksiat, Senin (20/4/2026).
Suasana
khidmat menyelimuti kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam
kesempatan tersebut, KH. Abdul Aziz Ahmad
menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjaga keimanan, memperbanyak
ibadah, serta menjauhi perbuatan maksiat, Senin (20/4/2026).
Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz
Ahmad mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan
yang diberikan Allah SWT. Beliau berharap seluruh umat Islam dapat
mempertahankan keimanan hingga akhir hayat dan mengakhiri hidup dengan kalimat la
ilaha illallah sebagai tanda husnul khatimah.
Menurutnya, berbagai aktivitas
ibadah seperti shalat berjamaah, zikir, membaca Al-Qur’an, hingga berkumpul
dengan sesama Muslim secara langsung dapat meningkatkan keimanan seseorang. Ia
mengutip hadis yang menyebutkan bahwa iman memiliki lebih dari 70 cabang, dan
yang paling utama adalah kalimat tauhid.
“Setiap kali kita berwudhu, shalat,
atau membaca Al-Qur’an, iman kita sebenarnya sedang bertambah, meskipun sering
kali tidak kita sadari,” ujarnya.
Beliau juga menyoroti pentingnya
kebersamaan antar sesama Muslim. Pertemuan antar orang beriman disebutnya
sebagai “cahaya di atas cahaya”, karena adanya kesamaan nilai tauhid dalam hati
yang mempererat hubungan spiritual.
Dalam bagian lain tausiyahnya, KH.
Abdul Aziz Ahmad mengingatkan bahaya meninggalkan shalat. Beliau menyampaikan
bahwa dalam sejumlah riwayat, orang yang meninggalkan shalat termasuk golongan
yang celaka dan terhalang dari rahmat Allah SWT.
“Shalat adalah pembeda utama antara
iman dan kekufuran. Bahkan dalam peristiwa Isra Mi’raj, perintah shalat
diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW, menunjukkan betapa
pentingnya ibadah ini,” tegasnya.
Selain itu, beliau juga mengangkat
kisah umat terdahulu sebagai pelajaran, khususnya tentang kerasnya hukuman bagi
pelaku dosa di masa lalu. Berbeda dengan umat Nabi Muhammad SAW yang diberikan
kesempatan luas untuk bertaubat, beliau menilai hal tersebut sebagai bentuk
kasih sayang Allah yang luar biasa.
Beliau mencontohkan kisah seorang
wanita dari Bani Israil yang datang kepada Nabi Musa AS untuk bertaubat setelah
melakukan dosa besar. Awalnya ditolak, namun Allah menegur Nabi Musa melalui
Malaikat Jibril karena wanita tersebut sungguh-sungguh ingin bertaubat.
Dari kisah tersebut, KH. Abdul Aziz
Ahmad menekankan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun, selama
dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Lebih lanjut, beliau juga menyoroti
fenomena meningkatnya kemaksiatan di era modern, seperti perzinaan dan praktik
judi yang semakin mudah diakses. Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat
membawa dampak buruk, termasuk munculnya berbagai penyakit dan kerusakan moral
di masyarakat.
Sebagai solusi, beliau mengajak
jamaah untuk memperkuat pendidikan agama dalam keluarga serta mendekatkan
anak-anak kepada lingkungan masjid, ulama, dan orang-orang saleh.
“Kalau kita tidak menjaga generasi
kita dari sekarang, maka tantangan ke depan akan semakin berat,” ungkapnya.
Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan iman, dijauhkan dari perbuatan maksiat, serta mendapatkan akhir hidup yang baik (husnul khatimah).
