Tawakal dan Kritik Pemikiran Materialisme
Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar. Kajian kali ini diisi oleh Ustadz H. Yogi Prana Izza yang menyampaikan materi lanjutan tentang hakikat tawakal serta kritik terhadap pemikiran yang mengingkari hal-hal gaib, Rabu (15/4/2026).
Kajian
rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali
digelar. Kajian kali ini diisi oleh Ustadz H. Yogi Prana Izza yang menyampaikan
materi lanjutan tentang hakikat tawakal serta kritik terhadap pemikiran yang
mengingkari hal-hal gaib, Rabu (15/4/2026).
Dalam
pembukaan tausiyahnya, Ustadz Yogi mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur
atas nikmat iman dan Islam yang diberikan Allah SWT, serta berharap agar dapat
menjaga keimanan hingga akhir hayat.
Mengacu
pada kitab Qutul Qulub fi Mu’amalatil Mahbub karya ulama klasik, ia
menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan
menyeimbangkan antara ikhtiar manusia dan penyerahan diri kepada Allah.
“Tawakal
itu bukan meninggalkan usaha, tapi bagaimana kita tetap berikhtiar sambil
menyadari bahwa hasil akhirnya adalah kehendak Allah yang Maha Bijaksana,”
jelasnya.
Ia
juga menekankan pentingnya merujuk pada kitab-kitab asli yang telah
diverifikasi ulama, sebagai bentuk kehati-hatian dalam memahami ajaran agama di
tengah maraknya sumber digital yang belum tentu valid.
Kritik terhadap Aliran Dahriyah
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Yogi menyoroti pemikiran aliran dahriyah atau
materialisme, yakni kelompok yang meyakini bahwa kehidupan hanya sebatas dunia
dan menolak keberadaan hari kebangkitan.
Ia
mengutip ayat dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Jatsiyah ayat 24, yang
menggambarkan pandangan kaum yang mengatakan bahwa kehidupan hanyalah siklus
hidup dan mati tanpa adanya akhirat.
“Mereka
beranggapan bahwa waktu lah yang membinasakan manusia, bukan Allah. Ini jelas
menyimpang karena menolak adanya pencipta dan kehidupan setelah mati,”
tegasnya.
Untuk
memudahkan pemahaman, ia memberikan analogi sederhana seperti rangkaian gerbong
kereta yang pasti memiliki penggerak utama, sebagai bukti bahwa segala sesuatu
pasti memiliki awal dan pencipta.
Pentingnya Instrumen yang Tepat dalam Memahami Hal Gaib
Ustadz
Yogi juga mengkritik cara berpikir kelompok yang menolak hal gaib karena hanya
mengandalkan panca indera. Menurutnya, hal-hal non-fisik seperti cinta,
pikiran, dan mimpi tidak bisa dibuktikan secara empiris, namun tetap nyata
dirasakan.
“Yang
gaib tidak bisa diukur dengan alat fisik. Untuk memahaminya, kita butuh basirah
atau mata hati, bukan sekadar indra,” ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa pengalaman spiritual yang dirasakan oleh banyak orang di
berbagai tempat menjadi bukti bahwa realitas tidak hanya terbatas pada hal yang
terlihat secara fisik.
Analogi Kehidupan dan Kesadaran Setelah Mati
Dalam
tausiyahnya, ia juga menyampaikan ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada Ali
bin Abi Thalib, bahwa “manusia itu tidur, dan ketika mati mereka baru
terbangun.”
Menurutnya,
kehidupan dunia ibarat mimpi, dan kesadaran sejati akan datang setelah manusia
meninggal dunia dan dibangkitkan kembali.
Selain
dahriyah, Ustadz Yogi juga menyinggung aliran qadariyah, yang
meyakini bahwa manusia sepenuhnya menciptakan perbuatannya sendiri tanpa campur
tangan Allah.
Ia
menjelaskan bahwa pemahaman tersebut keliru karena mengabaikan sifat Allah
sebagai Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa.
“Allah
tetap memiliki kuasa atas segala sesuatu. Manusia diberi ikhtiar, tapi bukan
berarti lepas dari kehendak Allah,” katanya.
Sebagai
ilustrasi, ia menjelaskan perbedaan antara “menciptakan” dan “menggunakan”,
seperti pisau yang bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan, namun tetap
Allah yang menciptakan pisau tersebut.
Kajian
ditutup dengan doa bersama agar ilmu yang disampaikan dapat bermanfaat dan
menambah keimanan jamaah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat
pemahaman keislaman masyarakat di tengah tantangan pemikiran modern.
Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terus menjadi ruang pembelajaran yang diminati masyarakat untuk memperdalam ilmu agama secara langsung dari para ustadz dan ulama setempat.
