Detail Berita

Istiqamah Menghadiri Majelis Zikir

Suasana khusyuk menyelimuti kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam . Kajian kali ini diisi oleh Ustadz Hasan Nur yang menekankan pentingnya menghadiri majelis zikir dan menjaga ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, Kamis (16/4/2026).

Kuliah Shubuh

Suasana khusyuk menyelimuti kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam . Kajian kali ini diisi oleh Ustadz Hasan Nur yang menekankan pentingnya menghadiri majelis zikir dan menjaga ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, Kamis (16/4/2026).

Dalam pembukaannya, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat iman dan Islam, serta berharap seluruh ibadah, khususnya shalat Subuh berjamaah, diterima oleh Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, ia mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengenai keutamaan majelis zikir. Disebutkan bahwa Allah SWT menugaskan malaikat khusus untuk berkeliling mencari majelis-majelis yang di dalamnya terdapat aktivitas zikir, sholawat, dan pengajian.

“Ketika malaikat menemukan majelis zikir, mereka membentangkan sayapnya hingga ke langit sebagai bentuk kemuliaan majelis tersebut,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menambahkan bahwa Allah kemudian “bertanya” kepada malaikat tentang apa yang dilakukan oleh hamba-Nya, dan malaikat menjawab bahwa mereka sedang memuji dan mengagungkan Allah.

Ustadz Hasan menegaskan bahwa orang-orang yang berkumpul dalam majelis zikir sejatinya sedang berharap ridha dan surga Allah, meskipun mereka belum pernah melihat gambaran surga secara langsung.

Untuk menggambarkan keindahan surga, ia menyampaikan kisah tentang seorang raja yang memiliki istana megah, namun tetap kalah indah dibandingkan dengan gambaran surga yang diperlihatkan melalui pengalaman spiritual seorang hamba saleh.

“Surga itu jauh lebih indah dari apa pun yang ada di dunia. Bahkan yang kita anggap paling indah sekalipun, hanyalah sebagian kecil dari keindahan surga,” ujarnya.

Dalam pesannya, Ustadz Hasan mengingatkan bahwa majelis zikir, yasinan, tahlilan, dan pengajian merupakan sarana untuk menghapus dosa serta mendekatkan diri kepada Allah.

Ia mengajak jamaah untuk kembali menghidupkan kegiatan keagamaan pasca Ramadhan, seperti rutinan mingguan di lingkungan masing-masing.

“Majelis taklim itu tempat melebur dosa. Tidak harus menunggu Ramadan untuk mendapatkan ampunan Allah,” katanya.

Ustadz Hasan juga menyoroti fenomena menurunnya ketakwaan di luar lingkungan masjid. Ia mencontohkan masih adanya perilaku negatif seperti pencurian dan korupsi yang terjadi karena lemahnya rasa takut kepada Allah.

“Banyak orang takut pada hukum manusia, tapi tidak takut kepada Allah. Ini tanda kurangnya ketakwaan,” tegasnya.

Dalam penutupnya, ia menyampaikan hadits Nabi Muhammad SAW bahwa seluruh umatnya dijanjikan masuk surga, kecuali mereka yang menolak dengan tidak menaati ajaran beliau.

“Siapa yang taat kepada Nabi, maka dia akan masuk surga. Sebaliknya, yang tidak taat berarti menolak,” jelasnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan taufik dan hidayah untuk tetap istiqamah dalam ibadah serta termasuk golongan yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

Kegiatan kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terus menjadi sarana pembinaan spiritual masyarakat, sekaligus memperkuat tradisi keilmuan Islam di tengah kehidupan modern.