Detail Berita

Hakikat Tawakal dan Pentingnya Syariat

Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Yogi Prana Izza sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, ia mengupas makna tawakal secara mendalam serta menegaskan pentingnya keseimbangan antara keyakinan kepada Allah dan pelaksanaan syariat, Rabu (22/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Yogi Prana Izza sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, ia mengupas makna tawakal secara mendalam serta menegaskan pentingnya keseimbangan antara keyakinan kepada Allah dan pelaksanaan syariat, Rabu (22/4/2026).

Di hadapan jamaah, Ustadz Yogi mengawali tausiyah dengan mengajak umat Islam untuk terus mensyukuri nikmat iman dan Islam, serta menjaga keduanya hingga akhir hayat agar meraih husnul khatimah. Ia kemudian melanjutkan pembahasan kitab Qutul Qulub fi Mu’amalatil Mahbub karya Abu Talib al-Makki.

Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa tawakal bukan sekadar pasrah, melainkan keyakinan penuh bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, sekaligus tetap menjalankan usaha (ikhtiar) dalam kehidupan. “Orang yang bertawakal itu meyakini takdir Allah, tetapi tetap menjalankan hukum sebab-akibat sebagai bagian dari ketentuan-Nya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan sebab-akibat dalam kehidupan manusia merupakan bagian dari hikmah Allah agar manusia menjalani “taklif” atau beban syariat. Dengan adanya tubuh dan tindakan nyata, manusia dapat dinilai amalnya, sehingga ada konsekuensi berupa pahala maupun hukuman.

“Kalau tidak ada perbuatan nyata, bagaimana mungkin ada pahala atau dosa? Maka syariat itu penting sebagai ukuran amal manusia,” jelasnya.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Yogi juga menguraikan perbedaan istilah dalam Al-Qur’an seperti ajr, tsawab, dan jaza’. Ia menerangkan bahwa ajr lebih bersifat “upah” atau balasan transaksional, sementara tsawab adalah pahala sebagai bentuk karunia Allah, dan jaza’ merupakan balasan yang setimpal, baik berupa kebaikan maupun keburukan.

Selain itu, ia membedakan antara konsep ‘iqab (hukuman) dan azab. Menurutnya, azab dapat dirasakan di dunia sebagai ujian, sedangkan ‘iqab lebih mengarah pada konsekuensi di akhirat. “Tidak semua musibah di dunia adalah hukuman, bisa jadi itu ujian untuk meningkatkan derajat,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tawakal yang benar harus diiringi dengan ketaatan pada syariat. Ia mengkritik pemahaman menyimpang yang menganggap bahwa seseorang yang telah mencapai “hakikat” tidak lagi wajib menjalankan ibadah.

“Justru orang yang benar-benar bertawakal adalah yang paling teguh menjalankan syariat. Tidak bisa hanya mengambil hakikat lalu meninggalkan syariat,” tegasnya.

Ia mengibaratkan syariat sebagai wadah, sementara hakikat adalah isi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. “Seperti minum air, tidak mungkin tanpa gelas. Begitu juga hakikat tanpa syariat, itu tidak akan berjalan,” ujarnya.

Menutup kajian, Ustadz Yogi mengajak jamaah untuk terus meningkatkan keimanan dengan memahami agama secara utuh, tidak hanya secara batin, tetapi juga melalui praktik ibadah yang benar sesuai tuntunan.

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini menjadi salah satu kegiatan rutin yang diikuti masyarakat sebagai sarana memperdalam pemahaman agama dan memperkuat spiritualitas umat.