Detail Berita

Makna Penyerahan Diri dan Keyakinan Hari Kebangkitan

Bojonegoro — Kajian subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali membahas tema tentang tasl?m, yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah. Dalam tasuiyahnya, Ustadz Yogi menekankan bahwa nikmat iman dan Islam merupakan anugerah terbesar yang patut disyukuri, sekaligus dijaga hingga akhir hayat agar seorang Muslim dapat meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, Rabu (26/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Kajian subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali membahas tema tentang tasl?m, yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah. Dalam tasuiyahnya, Ustadz Yogi menekankan bahwa nikmat iman dan Islam merupakan anugerah terbesar yang patut disyukuri, sekaligus dijaga hingga akhir hayat agar seorang Muslim dapat meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, Rabu (26/11/2025).

Mengawali kajian, Ustadz Yogi mengutip Surat Luqman ayat 22 yang menjelaskan tentang makna menyerahkan diri kepada Allah. Dalam ayat itu, kata “wajah” digunakan sebagai simbol kemuliaan manusia. “Wajah adalah bagian paling mulia. Ketika wajah yang mulia itu disujudkan, di situ letak penyerahan diri yang sebenar-benarnya,” tuturnya.

Ia menjelaskan adanya perbedaan antara istilah ilallah (menuju Allah) dan lillah (karena Allah). Ulama menafsirkan bahwa ilallah menggambarkan proses menuju keikhlasan, sedangkan lillah adalah kondisi ikhlas yang telah sempurna. “Ikhlas itu proses yang berat. Karena itu Allah menggambarkannya sebagai upaya untuk berpegang pada tali yang sangat kuat,” ujarnya.

Menurutnya, perbuatan baik (muhsin) bukan hanya dilakukan dengan niat yang ikhlas, tetapi juga harus sesuai tuntunan syariat. “Ikhlas saja tidak cukup bila amalnya tidak benar. Sebaliknya, amal yang benar akan kehilangan nilai bila tidak disertai keikhlasan,” katanya.

Dalam kajian itu, ia juga menyinggung makna al-urwatul wutsqo, istilah yang diartikan sebagai pegangan yang sangat kuat. Ulama, menurutnya, menafsirkan tali itu sebagai kalimat tauhid l? il?ha illall?h. “Barang siapa berpegang teguh pada kalimat tauhid dengan sepenuh hati, ia akan selamat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa hidup manusia tidaklah sia-sia. Semua amal akan kembali dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Seperti sebuah alat yang diciptakan untuk tujuan tertentu, manusia pun tidak mungkin diciptakan tanpa tujuan,” katanya.

Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan Surat At-Taghabun ayat 7, yang menegaskan bahwa orang-orang kafir mengira mereka tidak akan dibangkitkan. Allah, melalui perintah kepada Nabi Muhammad, membantah anggapan itu dengan sumpah-Nya. “Ayat ini menjelaskan bahwa anggapan mereka adalah prasangka batil, tanpa dasar,” ucap Ustadz Yogi.

Ia lalu menyinggung fenomena agnostisisme yang banyak berkembang di media sosial. Kaum agnostik menganggap bahwa sesuatu hanya dapat diyakini bila dapat dibuktikan oleh pancaindra. Namun, menurutnya, logika tersebut tidak konsisten karena mimpi saja tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh indra manusia. “Kalau mimpi saja tak mampu kalian kendalikan atau buktikan secara empiris, bagaimana kalian menolak adanya hari kebangkitan?” katanya.

Menurutnya, logika keadilan menuntut adanya kehidupan setelah mati. Banyak orang di dunia bisa lolos dari hukuman, atau sebaliknya mengalami kesulitan tanpa sebab yang jelas. “Keadilan sempurna hanya dapat terwujud di akhirat,” ujarnya.

Selanjutnya, Ustadz Yogi mencontohkan karakter taslim dari Fudhal bin Iyadh, seorang ulama yang berjanji dengan sahabatnya untuk saling menegur saat melihat keburukan. Ketika sahabatnya menyebut kekurangannya secara langsung, ia tidak marah. “Ia melihat kritik sebagai nikmat yang menyelamatkan dirinya dari kesalahan,” katanya.

Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperkuat keikhlasan, istiqamah dalam ketaatan, serta bersandar sepenuhnya kepada Allah. Seluruh jamaah kemudian membaca istighfar dan beberapa doa penutup majelis.

“Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk tetap berjalan di jalan kebaikan,” pungkasnya.