Detail Berita

Masjid sebagai Benteng Rohani

Bojonegoro — Dalam pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Khafif menyampaikan uraian panjang tentang peran masjid sebagai benteng rohani bagi orang beriman serta pentingnya kedekatan umat kepada para ulama. Tausiyah yang berlangsung khidmat itu mengajak jamaah untuk meneguhkan kembali hubungan spiritual dan tradisi keilmuan yang menjadi warisan para kiai terdahulu, Selasa (25/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Dalam pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Khafif menyampaikan uraian panjang tentang peran masjid sebagai benteng rohani bagi orang beriman serta pentingnya kedekatan umat kepada para ulama. Tausiyah yang berlangsung khidmat itu mengajak jamaah untuk meneguhkan kembali hubungan spiritual dan tradisi keilmuan yang menjadi warisan para kiai terdahulu, Selasa (25/11/2025).

Pembahasan diawali dengan penjelasan mengenai konsep benteng perlindungan bagi kaum mukmin dari godaan setan, merujuk pada literatur klasik yang dikaji dalam pengajian tersebut. “Masjid adalah benteng pertama yang paling kuat,” ujar Ustadz Khafif. Menurutnya, keberadaan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sumber energi rohani yang sanggup menguatkan hati dan pikiran.

Ia mencontohkan kondisi sebagian jamaah yang kerap merasa lelah atau malas beribadah. “Jika hati mulai berat, datanglah ke masjid. Iktikaf sebentar saja bisa membuat ibadah yang awalnya terasa sulit menjadi lebih ringan,” katanya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Khafif mengisahkan sosok sahabat Nabi, Imran bin Husain, yang dalam kondisi sakit parah masih mampu mempertahankan ibadah dan zikir. “Fisiknya lemah, tetapi rohaninya kuat. Inilah bukti bahwa kekuatan batin bisa mengalahkan kelemahan jasmani,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tambahan kekuatan rohani adalah karunia bagi orang yang dipilih Allah dan senantiasa mendekat kepada tempat-tempat ibadah.

Ustadz Khafif kemudian mengutip riwayat tentang Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, ulama besar Mesir, yang menyebut bahwa masjid memiliki pancaran cahaya spiritual yang berasal dari berkah Nabi Muhammad. “Masjid mampu mencerahkan hati karena tanahnya membawa secercah berkah dari air yang digunakan memandikan jenazah Rasulullah,” tuturnya, mengisahkan cerita yang diyakini bersumber dari pengalaman ruhaniah sang ulama.

Menurutnya, karena itulah banyak orang yang datang dengan hati kusut merasa jauh lebih tenang setelah duduk sesaat di dalam masjid.

Selanjutnya, Ustadz Khafif menyinggung fenomena umat yang semakin jauh dari ulama dengan mengutip peringatan Rasulullah bahwa ketika umat meninggalkan ulama, tiga musibah akan datang: hilangnya keberkahan rezeki, munculnya pemimpin zalim, dan matinya hati sebelum jasad mati.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah terhasut oleh fitnah terhadap para kiai. “Memuliakan ulama adalah perintah Nabi. Ulama adalah lentera umat,” ujarnya.

Untuk menghindari kekeliruan dalam mengikuti tokoh agama, ia menyampaikan lima kriteria ulama sejati: Pertama, menghabiskan hidupnya untuk ilmu. Kedua, mewariskan rasa takut kepada Allah. Ketiga, menjaga persatuan umat. Keempat, menampilkan akhlak yang mulia dan kelima, memandang umat dengan kasih sayang.

“Jika kelima ciri ini ada pada seorang kiai, maka dialah ulama yang patut dijadikan panutan,” katanya.

Tausiyah kemudian ditutup dengan kisah tentang ulama yang diuji kesombongannya dalam forum seminar, hingga akhirnya mendapatkan teguran halus melalui mimpi yang diyakini berasal dari Rasulullah. Kisah tersebut, menurut Ustadz Khafif, menjadi pengingat bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, tetapi juga ketundukan hati dan kerendahan diri di hadapan Allah.

“Ilmu yang diberkahi selalu membawa ketenangan, bukan kesombongan,” tegasnya.

Kajian Subuh tersebut berakhir dengan doa bersama, memohon agar Allah meneguhkan hati umat dalam iman, memuliakan para ulama, serta menjadikan masjid sebagai pusat penguatan rohani masyarakat.