Detail Berita

Memahami Bid’ah Secara Bijak

Bojonegoro, Suasana khidmat menyelimuti Kajian kitab Riyadhus Sholihin yang diselenggarakan Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam pembukaan kajiannya, Ustadz Rifki mengajak jamah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesehatan, kesempatan, serta taufik untuk menghadiri majelis ilmu dan mendalami ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Kajian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, serta para pendiri dan pengelola masjid. Ustadz

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro, Suasana khidmat menyelimuti Kajian kitab Riyadhus Sholihin yang diselenggarakan Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam pembukaan kajiannya, Ustadz Rifki mengajak jamah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesehatan, kesempatan, serta taufik untuk menghadiri majelis ilmu dan mendalami ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Kajian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, serta para pendiri dan pengelola masjid. Ustadz Rifki kemudian menegaskan bahwa majelis tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mendalami nasihat dan ajaran Nabi Muhammad SAW agar umat dapat memperoleh ridha Allah SWT, Sabtu (3/1/2026).

Dalam kajiannya, ia menekankan bahwa mengikuti Nabi Muhammad SAW bukan sekadar pilihan, melainkan perintah langsung dari Allah SWT. Selain itu, mengikuti Rasulullah merupakan jalan untuk mendapatkan cinta Allah. Menurutnya, Nabi adalah sosok yang paling memahami isi Al-Qur’an, sehingga meneladani beliau menjadi kunci untuk memahami agama secara benar.

Ia menuturkan sebuah kisah dari literatur ulama mengenai perdebatan antara ulama terdahulu dengan seseorang yang hanya ingin berpegang pada Al-Qur’an tanpa hadis. Dalam penjelasan tersebut, ditegaskan bahwa Nabi adalah penafsir utama Al-Qur’an. Karena itu, pemahaman Rasulullah harus dijadikan rujukan utama oleh umat Islam.

Pada bagian lain, kajian tersebut juga membahas hadist-hadist tentang fitnah atau kekacauan yang akan terjadi menjelang hari kiamat. Ustadz Rifki menjelaskan bahwa Nabi telah mengingatkan akan berbagai bentuk kekacauan, mulai dari persoalan akidah, politik, ekonomi, hingga kehidupan sosial. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Rasulullah dan tidak mudah terpecah belah.

Ia mengutip pesan Nabi kepada para sahabat tentang pentingnya menjaga ketakwaan, taat kepada pemimpin yang sah, serta menghindari pemberontakan. Menurutnya, para ulama berpendapat bahwa dampak buruk dari pemberontakan sering kali lebih besar daripada kerugian akibat kepemimpinan yang tidak ideal, karena dapat menimbulkan pertumpahan darah dan permusuhan berkepanjangan.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki juga mengajak jamaah untuk mengikuti jejak Khulafaur Rasyidin sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi. Ia menjelaskan bahwa para sahabat terdekat Rasulullah merupakan orang-orang yang paling memahami konteks turunnya hadis, kondisi sosial, dan latar belakang peristiwa yang melatarinya. Karena itu, pemahaman mereka dinilai paling mendekati kebenaran.

Selain itu, pengajian sore tersebut turut membahas konsep bid’ah yang kerap menjadi perdebatan di kalangan umat Islam. Ustadz Rifki menjelaskan bahwa secara bahasa, bid’ah berarti sesuatu yang baru. Namun, secara istilah, para ulama memiliki dua pendekatan. Sebagian mendefinisikan bid’ah secara khusus sebagai hal baru dalam urusan akidah dan ibadah yang tidak memiliki dasar dalil, dan semuanya dianggap terlarang. Sementara sebagian ulama lain memaknainya secara umum, yakni segala sesuatu yang tidak ada pada masa Nabi, yang kemudian dibagi ke dalam beberapa hukum seperti wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Ia mencontohkan bahwa dalam memahami dalil, para ulama tidak hanya berpegang pada dalil khusus, tetapi juga dalil umum dan qiyas (analogi). Karena itu, praktik keagamaan yang tidak ada secara spesifik di masa Nabi tidak serta-merta dianggap menyimpang, selama masih memiliki dasar dalil umum dan tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam.

Ustadz Rifki juga mengingatkan pentingnya memahami konteks dalam menafsirkan hadis. Menurutnya, satu ucapan bisa memiliki banyak makna jika tidak dilihat dari situasi dan kondisi saat diucapkan. Oleh sebab itu, pemahaman para sahabat yang hidup langsung bersama Nabi dianggap lebih kuat karena mereka mengetahui latar belakang historis, sosial, dan psikologis dari setiap sabda Rasulullah.

Menutup tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk tetap berpegang pada sunnah Nabi, mengikuti pemahaman para sahabat, serta bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan di tengah umat. Majelis ditutup dengan doa sebagai ungkapan syukur atas kesempatan menuntut ilmu dan harapan agar ilmu yang didapat membawa keberkahan.