Detail Berita

Pentingnya Dzikir dan Majelis Ilmu

Bojonegoro – Jamaah Kajian Subuh Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali melanjutkan pembahasan mengenai keutamaan dzikir dan ilmu pada pertemuan Ahad pagi, Ahad (30/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro – Jamaah Kajian Subuh Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali melanjutkan pembahasan mengenai keutamaan dzikir dan ilmu pada pertemuan Ahad pagi, Ahad (30/11/2025).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Khafif mengutip nasihat Syekh Ka’ab al-Ahbar, ulama tabi’in, tentang pentingnya benteng perlindungan diri dari godaan setan. “Benteng terkuat bagi manusia adalah masjid dan dzikir,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ustadz Khafif menjelaskan bahwa dzikir memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah melafalkan kalimat-kalimat dzikir secara lisan. Meski dianggap tingkatan dasar, bacaan dzikir tetap dianjurkan karena dapat melatih lisan dan hati untuk terbiasa mengingat Allah.

Ia menekankan bahwa kebiasaan berdzikir dapat membantu seseorang mengucapkan kalimat tauhid saat menghadapi sakaratul maut. “Jika sepanjang hidupnya terbiasa berdzikir hingga mendarah daging, maka meskipun jasad dalam kondisi lemah, lisannya tetap bisa melafalkan kalimat thayyibah,” katanya.

Sejumlah kisah ulama dan tokoh pesantren disampaikan sebagai contoh, termasuk pengalaman pribadi penceramah yang mampu melafalkan bacaan rotib meski dalam keadaan sangat mengantuk saat Ramadan.

Selain dzikir lisan, Ustadz Khafif memaparkan bahwa menuntut ilmu termasuk dzikir tingkat menengah. Mengaji dinilai memiliki ganjaran lebih besar dibandingkan ibadah sunah lainnya.

“Ulama menyebut, mempelajari satu bab ilmu lebih besar pahalanya daripada mengerjakan seribu rakaat salat sunah. Bahkan orang yang hadir di majelis ilmu, meskipun awalnya tidak berniat belajar, tetap mendapat kemuliaan,” ujarnya.

Ustadz Khafif juga menyinggung bahaya beribadah tanpa ilmu, dengan mengangkat kisah seorang ahli uzlah yang rajin beribadah tetapi terjerumus dalam perilaku menyimpang karena tidak memahami syariat.

Mengaji, menurut Ustadz Khafif, bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi memberi nutrisi rohani. Ia menganalogikan ilmu seperti makanan bagi tubuh. “Meski tidak langsung kenyang, saripatinya tetap menjadi energi. Begitu pula ilmu, meski tidak semua dipahami, tetap memberi efek pada kekuatan rohani,” tuturnya.

Orang yang rohaninya kuat dianggap lebih mudah menikmati ibadah, ringan melaksanakan amal sunah, serta lebih mampu menghindari maksiat. Dalam ceramahnya ia mencontohkan ulama-ulama besar yang tetap mampu beribadah meski dalam kondisi fisik sangat lemah.

Di akhir kajian, Ustadz Khafif mengutip beberapa penelitian dan pengamatan mengenai masyarakat yang memiliki semangat besar terhadap ilmu. Ia mencontohkan etos kerja dan kemajuan teknologi yang dicapai beberapa negara, sebagai ilustrasi bahwa ilmu dapat memperbaiki nasib seseorang maupun masyarakat.

“Orang yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan akan dijadikan senang dengan ilmu,” katanya, menutup kajian.