Detail Berita

Syukur, Sabar, dan Taat dalam Kehidupan Sehari-hari

Bojonegoro, Suasana sore yang tenang menyelimuti kajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Rifki mengajak jamaah merenungi nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari ajaran Islam, mulai dari pentingnya bersyukur hingga menjaga keselamatan diri dalam aktivitas sehari-hari, Sabtu (24/1/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro, Suasana sore yang tenang menyelimuti kajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Rifki mengajak jamaah merenungi nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari ajaran Islam, mulai dari pentingnya bersyukur hingga menjaga keselamatan diri dalam aktivitas sehari-hari, Sabtu (24/1/2026).

Dalam pembukaan kajian, disampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Rasulullah SAW bersabda bahwa ada empat hal yang menjadi tanda kebaikan dunia dan akhirat bagi seseorang. Keempat hal tersebut adalah hati yang selalu bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, tubuh yang sabar menghadapi cobaan, serta pasangan yang menjaga kehormatan diri dan harta.

Pesan moral dari hadis tersebut menjadi pengingat bagi jamaah untuk terus menumbuhkan sikap syukur, sabar, dan menjaga keharmonisan rumah tangga sebagai bagian dari ibadah.

Selain itu, dalam kajian juga disinggung tentang pentingnya bekerja dan mencari nafkah dengan cara yang halal. Ditegaskan bahwa tidak ada makanan yang lebih baik selain yang diperoleh dari hasil usaha sendiri. Bahkan Nabi Daud AS disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari sebagai sosok yang makan dari hasil kerjanya sendiri.

Ustadz Rifki juga membahas hadis yang melarang permainan atau aktivitas yang berpotensi membahayakan orang lain. Larangan ini kemudian dikaitkan dengan kondisi masa kini, seperti kebiasaan anak-anak bermain tanpa pengawasan atau aktivitas iseng yang bisa mencelakakan orang lain. Menurutnya, ajaran tersebut relevan sebagai pengingat agar masyarakat menjauhi tindakan yang berisiko menimbulkan cedera atau kerugian.

Dalam penjelasan yang lebih mendalam, kajian turut mengangkat tema tentang makna pengagungan dalam ibadah. Dijelaskan bahwa setiap ibadah memang mengandung unsur mengagungkan Allah, seperti dalam gerakan salat. Namun, tidak semua bentuk penghormatan atau pengagungan kepada sesuatu bisa disebut sebagai ibadah. Niat dan keyakinan dalam hati menjadi pembeda utama antara ibadah kepada Tuhan dan sekadar bentuk penghormatan kepada sesama makhluk.

Ustadz Rifki mencontohkan kisah para malaikat yang bersujud kepada Nabi Adam atas perintah Allah, serta kisah keluarga Nabi Yusuf yang bersujud sebagai bentuk penghormatan. Kedua peristiwa tersebut, menurutnya, bukanlah penyembahan, melainkan bentuk ketaatan kepada perintah Tuhan atau penghormatan yang tidak menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya yang disembah.

Dalam kesempatan yang sama, jamaah juga diingatkan untuk senantiasa menerima ketentuan Allah dan ajaran Rasulullah dengan lapang dada. Sikap patuh terhadap ajaran agama disebut sebagai tanda keimanan yang sejati, meskipun dalam praktiknya manusia terkadang masih berjuang untuk menjalankannya secara sempurna.

Kajian yang berlangsung dengan suasana sederhana dan penuh keakraban itu ditutup dengan doa bersama. Para jamaah berharap apa yang dipelajari dapat menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.