Detail Berita

Amal Banyak, Tetap Bisa Bangkrut di Akhirat

Bojonegoro — Dalam kuliah Shubuh di Masjid Darussalam, Ustadz Hasan Nur mengingatkan jamaah agar berhati-hati menjaga hubungan antar manusia, terutama dalam hal lisan dan perbuatan yang berpotensi menzalimi orang lain. Menurutnya, ibadah yang banyak tidak otomatis menjamin keselamatan di akhirat apabila seseorang masih menyakiti sesamanya, Kamis, (20/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Dalam kuliah Shubuh di Masjid Darussalam, Ustadz Hasan Nur mengingatkan jamaah agar berhati-hati menjaga hubungan antar manusia, terutama dalam hal lisan dan perbuatan yang berpotensi menzalimi orang lain. Menurutnya, ibadah yang banyak tidak otomatis menjamin keselamatan di akhirat apabila seseorang masih menyakiti sesamanya, Kamis, (20/11/2025).

Kuliah Shubuh dimulai dengan ajakan bersyukur atas kesehatan, umur, dan kesempatan untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah. Ustadz  Hasan juga memanjatkan doa agar jamaah diberikan kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang penuh keberkahan.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Hasan mengutip sebuah hadis ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang disebut “orang bangkrut”. Para sahabat menjawab, bangkrut adalah seseorang yang kehilangan harta benda. Namun Nabi meluruskan, bahwa bangkrut yang sebenarnya adalah orang yang datang di hari kiamat membawa banyak amal: salat, puasa, dan zakat tetapi pernah mencaci, menuduh zina, mengambil harta orang lain, atau menyakiti sesamanya.

“Amal-amalnya diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi,” ujar Ustadz Hasan. “Ketika pahalanya habis, dosa orang lain justru dibebankan kepadanya. Itulah orang yang bangkrut di akhirat.”

Ia menekankan bahwa kesalehan ritual tidak cukup bila tidak dibarengi dengan kesalehan sosial. Orang yang rajin beribadah, bersedekah, bahkan yang berkali-kali berhaji atau umrah, tetap dapat celaka bila masih mudah merendahkan, mencaci, atau memfitnah.

Ustadz Hasan berulang kali mengingatkan agar jamaah menjaga lisan, terutama setelah beribadah. Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang selepas salat atau zikir justru terjerumus pada ghibah dan caci maki.

“Lambe niki enteng, tipis,” ujarnya dalam bahasa Jawa. “Habis wiridan, ngobrol di warung. Dari situ mulai menuduh, mencaci, merendahkan. Pahala yang tadi dibawa dari masjid bisa hilang dalam sekejap.”

Ia menyebutkan bahwa kedzaliman terhadap sesama manusia merupakan perkara berat. Dosa kepada Allah bisa diampuni melalui tobat, tetapi dosa kepada sesama hanya selesai bila orang yang dizalimi memberi maaf.

“Kalau seseorang mengambil hak orang lain, menipu, memfitnah, atau memakan harta yang bukan miliknya, lalu meninggal sebelum sempat meminta maaf, maka urusannya akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” jelasnya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan mengingatkan jamaah agar tidak menunda-nunda tobat jika melakukan kesalahan. Allah, katanya, Maha Pengampun terhadap semua dosa selain syirik.

“Kalau terpeleset dalam maksiat, cepat-cepat kembali kepada Allah. Tapi bila berkaitan dengan manusia, harus minta maaf kepada orangnya. Jangan menunggu sampai ajal datang,” tuturnya.

Kajian diakhiri dengan doa bersama agar jamaah diberikan keteguhan hati, dijauhkan dari maksiat, dan dimudahkan menjaga perintah Allah serta menghindari larangan-Nya.